Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Mei 2008

Untraceable

Untraceable mengangkat realita kejahatan jenis baru melalui internet. Dalam jagat dunia maya tanpa batas ini kejahatan apapun bisa terjadi dan karena sifatnya yang maya maka sulit sekali untuk melacaknya. Tema kejahatan yang diusung dalam "Untraceable" adalah pembunuhan yang dilakukan seorang psikopat yang disiarkan langsung melalui jaringan internet dan bukan itu saja, bahkan para pengunjung situs bisa ikut andil menentukan kematian sang korban. Memang yang persis seperti ini belum pernah terjadi dalam dunia nyata tapi bukan tidak mungkin suatu hari hal ini bisa terjadi. Sekarang saja kasus pemerkosaan atau eksploitasi anak yang disiarkan di internet sudah sering terjadi. Belum lagi rekaman-rekaman kematian orang baik yang disengaja maupun tidak disengaja dengan bebasnya beredar di jalur jaringan maya. Jadi bukan tidak mungkin kejahatan yang tergambarkan dalam film "Untraceable" ini mungkin saja akan terjadi.


"Untraceable berkisah tentang Jennifer Marsh seorang agen FBI yang spesialisasinya di bidang kriminal maya atau Cyber Crime. Kali ini Jennifer dan rekan-rekannya mendapatkan kasus yang sangat menghebohkan dimana ada seorang Psikopat yang menayangkan rekaman penyiksaannya secara langsung di internet. Pada mulanya obyek penyiksaannya hanya binatang tapi lama kelamaan meningkat dengan menjadikan manusia sebagai korbannya. Dengan menggunakan situs "killwithme" sang psikopat mengajak para pengunjung situsnya untuk berpartisipasi dalam membunuh korbannya. Caranya adalah cukup mengunjungi website tersebut, semakin banyak orang yang masuk situs tersebut makasang korban akan cepat mati. Jennifer dan timnya berusaha keras untuk melacak keberadaan pemilik situs maut tersebut namun sang pelaku selalu berhasil melooskan diri.


FBI dan pelaku seperti melakukan permainan kucing-kucingan dimana ternyata sang pelaku sebetulnya selangkah lebih maju. Ada adegan yang cukup menegangkan ketika sang pelaku yang bernama asli Owen Reilly berhasil melacak keberadaan tempat tinggal Jennifer. Dengan menggunakan webcam dia siarkan langsung situasi rumah Jennifer bahkan putri Jennifer yang kebetulan melihat rumahnya ada di internet langsung pergi keluar. Disini penonton diajak berfikir seperti para pengunjung situs tersebut yang mengira kalau anak Jennifer tersebut akan menjadi korban berikutnya. Namun rupanya Owen masih punya hati dengan tidak menjadikan anak tersebut sebagai korban. Hal itu dilakukan hanya sebagai shock theraphy bagi sang ibu yang memang sedang mengepalai operasi penangkapan Owen.


Sepertinya situs buatan makin laris saja dikunjungi oleh para pecandu internet, buktinya proses kematian korbannya makin lama makin cepat. Begitu juga pemilihan korbannya sudah tidak dilakukan secara random lagi tapi makin personal untuk menekan Jennifer. Owen tidak cuma sukses menakuti Jennifer dengan memata-matai keluarganya saja tapi ia juga sukses menjebak Griffin Dowd, partner kerja Jennifer. Griffin dijadikan sebagai korban berikutnya. Akhirnya Owen membuat kesalahan juga ketika menjadi Jennifer korban dan eksekusi dilakukan di gudang rumah Jennifer. Jennifer tentu saja melawan dan berhasil menguasai keadaan karena ia telah faham dengan situasi gudangnya sendiri.


"Untraceable" ini cukup menegangkan dan menakutkan karena banyak adegan sadis-sadisnya namun ide cerita yang caru bikin film ini lumayan segar. Ngga nyangka juga aktris serius sekelas Diane Lane bisa juga berperan jadi jagoan.

Minggu, 13 April 2008

Juno

Juno sebetulnya adalah sesosok gadis ABG biasa saja, di sekolah ia bukan tergolong anak populer dan bukan juga termasuk golongan pecundang hanya ia memiliki pola pikir yang agak nyentrik. Seperti layaknya abg, Juno juga memiliki keingintahuan yang besar akan banyak hal termasuk soal seks hingga ia hamil. Akibat iseng melakukan hubungan badan dengan Bleaker teman sekelas sekaligus telam ngebandnya, Juno mendapatkan dirinya hamil. Pada awalnya Juno sempat bingung sekali hingga nyaris bunuh diri dan melakukan aborsi. Namun berkat dukungan sahabatnya Leah, Juno membatalkan niatnya tersebut dan bersama berusaha melakukan pemecahan terbaik atas masalahnya tersebut.

Setelah Leah, Bleaker adalah orang kedua yang diberitahu Juno perihal kehamilannya. Reaksi Bleaker hanya bisa bengong dan sama sekali tidak membantu Juno dalam mengatasi persoalan hamil tak terencana ini. Juno dan Leah akhirnya menemukan jalan untuk masalah tersebut yaitu dengan mencari pasangan yang mau mengadopsi anak Juno kelak. Pasangan muda nan ideal Mark dan Vanessa dipilih Juno untuk menjadi bakal orangtua angkat bagi jabang bayinya. Setelah itu barulah Juno menyampaikan berita mengejutkan tersebut ke ayah dan ibu tirinya. Mereka berdua juga sempat shock berat namun mereka juga mendukung pilihan Juno.

Ditemani sang ayah, Juno bertemu dengan pasangan Mark-Vanessa di kediaman mewah mereka di sebuah kawasan elit. Melihat kondisi finansial dan keharmonisan pasangan muda tersebut membuat Juno jadi yakin akan masa depan anak yang dikandungnya itu. Vanessa memang nampak berperilaku agak aneh namun Mark adalah sesosok calon ayah yang sangat dikagumi oleh Juno. Selain lebih memiliki selera humor yang lebih baik daripada Vanessa, Mark juga ternyata seorang musisi yang pandai main gitar.

Hubungan Juno dan Bleaker makin lama malah makin menjauh, apalagi ada rumor soal orang ketiga. Tapi masalah ini tidak terlalu dipikirkan Juno yang lebih fokus terhadap perkembangan bayinya. Masalah kemudian muncul ketika Mark kelepasan omong di depan Juno kalau ia akan menceraikan Vanessa. Juno sangat terpukul sekali karena harapan agar anaknya bisa memiliki orangtua yang harmonis pupus sudah. Beruntung ayah kandung Juno yang biasanya kaku bisa memberikan nasihat-nasihat bagi putrinya tersebut.

Bleaker yang selama ini cuek dengan keadaan Juno jadi menyadari kalau dirinya sangat menyayangi Juno. Memang pada saat melahirkan Bleaker tidak hadir karena dia harus mengikuti perlombaan lari. Selesai berlomba, Bleaker segera menyusul Juno di rumah sakit. Sementara Vanessa yang memang sudah sangat merindukan punya anak, tetap mengadopsi anak Juno walupun tanpa Mark. Juno pun kembali menjalani hidupnya secara normal seperti sedia kala.

Juno sebuah film dengan tema sederhana namun sang sutradara berhasil meramunya sehingga mempunyai makna yang dalam. Film ini tidak hanya cocok ditonton remaja tapi juga sangat perlu disaksikan pula oleh orag dewasa. Film Juno mengajarkan kita mengenai arti kedewasaan dan tanggung jawab. Jadi ngga heran kalau film ini salah satu film yang masuk unggulan sebagai film terbaik di ajang Piala Oscar tahun ini.

Kamis, 24 Januari 2008

Otomatis Romantis

Film "Otomatis Romantis" ini adalah film Indonesia pertama yang aku tonton di bioskop, bahkan ketika jaman sekolah dulu aku juga tak pernah ikutan nonton film wajib jaman itu yaitu "Pemberontakan G30S PKI". Selalu ada saja alasan untuk menghindari kewajiban nonton film pencuci otak ala OrBa tersebut. Eniwei balik lagi ke "Otomatis Romatis", aku tertarik nonton film ini lantaran promosi heboh dari moncong ke moncong teman-temanku yang bilang film ini lucu berat. Dilihat dari susunan pemain prianya seperti Tora, Tukul dan Tarzan film ini memang menjanjikan kelucuan. Dan memang film drama-komedi ini lucu beneran walaupun agak-agak berasa dejavu dengan sebuah FTV pemenang piala Vidia beberapa tahun lalu yang judulnya "Ujang Pantry".

"Otomatis Romantis" bercerita tentang Nadia seorang pemred majalah wanita yang sedang mengalami quarter life crisis, tidak punya pacar tapi kedua orangtuanya sudah mendesaknya untuk segera mencari menikah akibatnya Nadia sering uring-uringan di kantor. Alasan Nadia malas mencari cowok lantaran ia merasa ada kutukan keluarga, keluarganya di sisi perempuan secara fisik oke-oke tapi selalu memiliki pasangan pria yang bertampang amburadul dan berperilaku norak. Ayahnya saja bertampang berantakan dan sangat mempercayai primbon, suami kakaknya berwajah mirip lele dumbo tapi berasanya cakep banget dan pacar sang adik yang berpenampilan acak-acakan serta berperilaku seperti beruk. Sementara di kantor ada seorang pegawai admin baru bernama Bambang, si anak jogja yang polos, baik hati dan sangat patuh terhadap kakaknya yang brengsek. Si Bambang ini punya ambisi untuk jadi penulis tapi selalu ditolak oleh Nadia. Nasib Bambang mulai membaik ketika menjadi model dadakan dari tim kreatif majalah Nadia yang sedang kepepet. Dari seringnya Nadia dan Bambang bertemu plus desakan orangtua yang makin gencar maka timbullah bibit cinta di hati Nadia. Segala ego dan gengsi coba dikalahkan Nadia untuk mendapatkan cinta sejatinya serta mematahkan tradisi para perempuan keluarganya yang selalu bersanding dengan pria bertampang unik.

Sebetulnya cerita film "Otomatis Romantis" ini tidak terlalu istimewa namun dialog-dialog serta adegan-adegan lucunya lumayan segar. Seperti yang saya bilang diatas kalau agak berasa dejavu dengan FTV Ujang Pantry, dimana keduanya bercerita tentang seorang bos wanita yang jatuh cinta pada pria yang jadi bawahannya di kantor. Ini bisa dimaklumi sebab penulis skenarionya sama yaitu Monty Tiwa. Walaupun berkesan sama tapi sebetulnya ada bedanya juga, jika di "Ujang Pantry" si bos wanita terpaksa harus menerima kenyataan mengadung anak office boynya karena mabuk maka di "Otomatis Romantis" si bos wanita jatuh cinta pada sang staf admin secara alamiah. Sejujurnya aku lebih suka dengan cerita "Ujang Pantry" yang lebih berbobot daripada "Otomatis Romantis" yang terlalu mempergampang penyelesaikan masalah. Mungkin Monty Tiwa ingin mengulang kesuksesan "Ujang Pantry" yang mendapatkan banyak pujian dengan membuat film dengan cerita sejenis tapi sayang penggarapannya kali ini hanya sekedar untuk membuat film hiburan pengeruk rupiah yang bertaburan bintang-bintang.

Secara umum "Otomatis Romantis" ini sangat menghibur dan cukup sukses mengundang tawa, lumayan untuk mengusir stress. Tak perlu mengerutkan kening untuk menikmati cerita film ini, cukup duduk manis dan pasrah saja mengikuti jalan cerita. Beberapa keanehan yang terjadi tidak usah dipikirkan karena memang tujuan film ini untuk hiburan belaka. Namun walaupun begitu ada hal yang menurutku cukup menarik yaitu mengenai majalah wanita Indonesia yang sering membuat artikel seputar tips kewanitaan yang disadur langsung dari majalah wanita luar negeri tanpa melakukan riset apakah tips tersebut cocok atau tidak diterapkan disini. Untuk alasan inilah aku tidak pernah sudi membuang uangku untuk membeli majalah wanita, lebih baik uangnya aku habiskan untuk beli buku.

Minggu, 20 Januari 2008

American Gangster

Film “American Gangster” dimulai dengan sebuah adegan yang cukup sadis yaitu adegan yang menggambarkan seseorang yang disiram bensin lalu dibakar hidup-hidup dan akhirnya ditembak mati dengan berondongan peluru. Pelaku kejahatan tersebut adalah Frank Lucas, kaki tangan seorang mafia pengedar narkoba di Harlem. Adegan ini mungkin dimaksudkan untuk memberikan kesan sadis terhadap tokoh Frank Lucas yang diperankan oleh Denzel Washington yang bertampang manis. Frank Lucas semula adalah hanyalah seorang bodyguard merangkap supir dari seorang bos mafia kulit hitam. Ketika sang bos meninggal, Lucas yang telah mendampingi sang bos bertahun-tahun berinisiatif untukmengambil alih bisnisnya dan bahkan mengembangkannya sendiri sehingga menjadi lebih besar dari sebelumnya.

Disisi lain dikisahkan tentang seorang polisi jujur yang bernama Richie Roberts yang menemukan setas uang yang nilainya hampir 1 juta dollar. Penemuan ini segera diserahkan Roberts kepada atasannya, perbuatan mulia ini malah dibenci oleh rekan-rekannya yang menganggap Roberts sok suci. Partner Roberts sebelumnya tidak menyetujui tindakannya tersebut sehingga dia menjadi makin tertekan menghadapi perlakuan teman-temannya yang lain. Sang partner yang sebetulnya adalah pecandu narkoba tak tahan hujatan akhirnya memutuskan bunuh diri dengan cara Over Dosis. Kejadian ini makin membuat Roberts makin membulatkan tekadnya dalam memberantas penyebaran narkoba.


Frank Lucas yang tidak mau tergantung dari orang lain memutuskan untuk mencari sumber narkoba langsung dari Asia Tenggara, perbuatan itu sangat nekat sebab kala itu sedang terjadi perang Vietnam. Kenekatan Lucas berbuah manis karena ia mendapatkan heroin dengan kualitas terbaik. Cara mengangkut heroin ke Amerikanya pun tak kalah nekat yaitu dengan menggunakan pesawat kargo militer Amerika yang para awak pesawatnya telah disogok dulu. Heroin jualan Lucas ini diberi merk “Blue Magic” berharga lebih murah namun mempunyai kualitas yang lebih baik daripada yang telah beredar sebelumnya. Maka tidak heran kalau dalam waktu sekejap “Blue Magic” menjadi sangat top. Untuk membantunya menjalankan bisnis ini, Lucas merekrut para saudaranya. Lucas yang telahmenjadi kaya raya segera menjadi selebritis dan dengan mudahnya ia dapat menggaet miss Puerto Rico.


Pada mulanya tidak ada yang mengenal sosok Frank Lucas namun ketika sudah mulai bergaul dengan dunia selebritis, sepak terjang Lucas tercium juga oleh beberapa polisi korup yang sengaja memeras Lucas. Hal ini membuat sifat sadis Lucas menjadi muncul kembali. Tidak peduli saudara atau bukan apabila ada yang membuat kesalahan, Lucas tidak segan untuk “menghukum”nya. Roberts yang juga menyelidiki perihal “Blue Magic” ini juga akhirnya bisa mencium jejak Frank Lucas. Permasalahan baru muncul ketika pemerintah Amerika memutuskan menarik pulang para tentaranya dari Vietnam, ini berarti transportasi untuk pasokan narkoba bisnis Lucas akan terputus. Akhirnya Lucas memutuskan untuk melakukan pengambilan narkoba terakhir dengang menggunakan pesawat Cargo militer AS yang terakhir. Roberts yang berhasil mendapatkan infromasi ini langsung cepat bertindak melakukan penggeledahan terhadap pesawat cargo tersebut. Sepandai-pandainya Lucas menipu tapi akhirnya Roberts berhasil mendapatkan bukti untuk meringkus sang Bandar narkoba tersebut. Tertangkapnya Lucas tidak hanya memutuskan bisnis narkoba keluarga ini saja namun juga menyeret banyak polisi-polisi korup yang selama ini menjadi back up para Bandar narkoba. Secara keseluruhan film

“American Gangster” ini sangat menarik, walaupun bersetting pada tahun 70an namun kisah jaringan pengedar narkoba dan polisi-polisi korup sebetulnya masih relevan dan memang benar-benar terjadi di belahan bumi manapun termasuk di Indonesia saat ini. Film yang konon dibuat berdasarkan kisah nyata ini mempunyai jalan cerita yang lugas dan didukung pula oleh acting kuat para pemeran utamanya Denzel Washington serta Russell Crowe. Sayangnya karena ada beberapa adegan yang lumayan parah sehingga terdapat sensor disana-sini yang lumayan agak mengganggu jalan cerita.

Minggu, 13 Januari 2008

The Golden Compass

Kalau anda berfikir kalau film “The Golden Compass” adalah film konsumsi anak kecil maka asumsi anda salah besar sebab dengan jalan cerita yang memerlukan daya imajinasi tinggi dan dengan narasi tentang latar belakang cerita yang dilakukan dalam bahasa Inggris rasa-rasanya akan sulit dicerna oleh anak kecil. Buktinya ketika aku menonton film ini di bioskop pada hari libur, banyak anak-anak yang diajak orangtuanya menonton film ini namun bukannya enjoy anak-anak itu malah berisik dan jadi rese karena kebosanan maka ngga jeran kalau ada penonton anak-anak yang keluar dari teater sebelum film usai. Jangankan anak-anak yang memang berpikiran masih sederhana, aku saja yang sudah terbiasa nonton film-film rumit saja masih mengerutkan dahi untuk mencernai jalan cerita film “The Golden Compass” ini. Karena sebetulnya aku juga ngga ngerti-ngerti amat dengan jalan ceritanya maka isi blog kali ini aku tidak akan mereview jalan cerita film.

Kesuksesan film-film khayal penuh imajinasi yang diadaptasi dari novel-novel laris seperti trilogy “The Lord of The Ring”, “Harry Potter” dan “The Chronicles of Narnia” membuat beberapa produser Hollywood kepingin meniru dengan mebuat film sejenis, salah satunya dengan membuat film “The Golden Compass” yang diadaptasi dari Novel karya Philip Pullmann. Tentunya sang produser berharap kalau fim ini akan meraup keuntungan seperti film-film imajinasi sebelumnya namun malang kenyataannya jauh meleset dari harapan karena dalam 5 minggu peredarannya di Amerika, pendapatannya hanya sekitar 65 juta dollar. Masih jauh dari angka 100 juta dollar yang biasanya dijadikan indikator kalau film tersebut masuk kategori box office. Padahal film ini penuh dengan teknologi canggih yang memerlukan banyak biaya serta promosi gencar yang telah dilakukan sejak jauh-jauh hari juga memerlukan biaya yang tak sedikit. Jadi sepertinya nih film jadi proyek rugi.

Menurut asumsiku kegagalan “The Golden Compass” meraup keuntungan pol seperti pendahulunya adalah akibat skenario yang tidak terlalu matang sehingga membuat jalan cerita film jadi sulit untuk diikuti. Detail cerita yang kurang dan tempo yang terlalu cepat bikin penonton sering bertanya-tanya kok bisa begitu padahal kan sebelumnya begini. Ide cerita juga tidak terlalu orisinal dan segar, kota-kota khayalan serta teknologinya yang bergaya retro futurustik dalam film ini pasti mengingatkan penonton dengan film “Sky Captain and the World of Tomorrow”. Penyihir bisa terbang, mahluk-mahluk ajaib serta sekolah-sekolah bergaya castle sangat mirip dengan film “Harry Potter”. Belum lagi binatang-binatang yang bisa berbicara seperti manusia idenya sangat Narnia sekali. Belum lagi tema ceritanya yang menurutku sangat mirip dengan “The Lord of The Ring”. Satu-satunya hal baru yang ditawarkan film ini adalah mengenai daemon atau belahan jiwa manusia yang mirip dengan binatang peliharaan dan mempunyai ikatan batin sangat kuat dengan manusianya. Dan selain masalah teknis seperti disebutkan diatas, penyebab lain film ini gagal dipasaran adalah rumor yang megatakan kalau film ini sangat atheis. Tapi kurasa alasan ini tidak terlalu berpengaruh sebab rata-rata film fantasi memang agak-agak melupakan sisi Tuhan. Sosok Nicole Kidman dan Daniel Craig yang populerpun tidak dapat banyak menolong. Ada yang menarik mengenai kedua orang ini, ini adalah kali kedua mereka berkolaborasi dalam satu film, sebelumnya mereka sama-sama membintangi fim berjudul "The Invasion". Baik "The Invasion" maupun "The Golden Compass" sama-sama film dengan cerita yang membingungkan dan juga sama-sama gagal meraup keuntungan besar. Entah kebetulan atau tidak, sepertinya kedua orang ini tidak cocok main film bareng dan tak usahlah dilanjutkan lagi untuk di masa yang akan datang.

Aku mendapat kesan kalau pembuat “The Golden Compass” hanya mengejar untung semata tanpa perhitungan yang tepat. Kalau memang ingin untung besar maka penggarapannya juga jangan tanggung-tanggung seperti ini. Apabila durasi film ini ditambah barang satu atau paling tidak setengah jam lagi saja maka ceritanya akan bisa lebih detail dan tidak membingungkan seperti yang sekarang ini. Film-film fantasi sejenis ini sebelumnyapun umumnya punya durasi yang nyaris 3 jam. Pembuat film ini yang rupanya terlalu pede kalau film “The Golden Compass” ini akan jadi box office dan pasti akan dibuat sequelnya sengaja mengantung ending film ini. Tapi melihat dari pendapatannya yang kurang sensasional bahkan cenderung merugi, aku tidak yakin kalau film ini akan dilanjutkan sequelnya. Sayang banget film dengan teknologi dan special efek yang canggih menjadi sia-sia akibat jalan ceritanya yang lemah.

Selasa, 08 Januari 2008

Natonal Treasure: Book of Secrets

Kadang-kadang sebuah film dibuat memang bertujuan hanya sebagai hiburan belaka yang diharapkan mendatangkan profit besar serta sama sekali tidak dibuat untuk mengikuti ajang penghargaan seperti piala Oscar atau hanya untuk mendapat pujian para kritikus semata. Film "National Treasure: Book of Secrets" adalah salah satu contohnya, sengaja dibuat untuk menghibur penontonnya tanpa harus mengerutkan kening. Bahkan untuk menarik minat banyak penonton terutama pada liburan akhir tahun ini maka film ini juga dibuat "seaman" mungkin sehingga dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Sebagai sequel kedua film "National Treasure: Book of Secrets" ini masih memajang pemain-pemain yang sama seperti seri pertamanya diantaranya Nicolas Cage, Diane Krueger, Justin Bartha dan Jon Voight.

Kali ini sang pemburu harta karun Ben Gates mempunyai misi untuk memperbaiki nama baik kakek moyangnya yang terlanjur cemar akibat bukti yang disodorkan oleh Mitch Wilkinson terkait kasus pembunuhan mantan Presiden Abraham Lincoln. Dalam melakukan penyelidikannya, Ben mengajak ayahnya serta teman lamanya Riley Poole dan tak ketinggalan sang mantan pacar Abigail Chase. Dari tadinya cuma berniat mencari bukti untuk memperbaiki nama baik sang leluhur, petualang mereka malah berkembang hingga pencarian kota harta karun peninggalan jaman sebelum Colombus, kota tersebut dikenal sebagai The City of Gold atau dalam bahasa aslinya disebut Cibola. Ternyata tujuan utama Wilkinson memfitnah leluhur Gates adalah untuk membuat Gates bergerak dalam mencari lokasi pasti Cibola tersebut karena sebetulnya leluhur Gates tewas akibat berusaha menjaga rahasia lokasi Cibola dari tangan kelompok tertentu.

Petualang mencari lokasi Cibola ini berlangsung mulai dari Paris, London, Gedung Putih hingga ke Gunung Rushmore yang terkenal dengan pahatan wajah para mantan presiden Amerika. Bahkan demi kelangsungan misinya, Gates nekat menculik orang nomor satu di Amerika alias sang presiden. Selain berisi seputar petualang ala Indiana Jones, film "National Treasure: Book of Secrets" ini tak lupa menyelipkan sedikit bumbu-bumbu roman sebagai penyedap. Kisah roman Ben dan Abigail tentunya jadi menu utama tapi kisah CLBK antara ayah Ben dan ibu Ben yang sudah lama ceraipun tak kalah menariknya. Sebagai film konsumsi keluarga tentunya film ini berakhir bahagia walaupun proses penyelesaiannya kalau dipikir pakai logika sangat tidak masuk akal. Tapi sekali lagi film ini kan cuma untuk hiburan keluarga saja jadi ngga usah ditonton sambil mikirin logikanya. Secara keseluruhan film ini masuk dalam kategori sangat menghibur lengkap dengan humor-humor segar diselipkan disana-sini untuk menurunkan tensi ketegangan penonton.

Kamis, 13 Desember 2007

The Kingdom

Pandangan para film maker Amerika seputar dunia terorisme sepertinya sudah mulai bergeser, kini sudah mulai banyak film-film mengenai terorisme yang diusahakan dibuat dengan berimbang. Salah satunya adalah film terbarunya Jamie Foxx dan Jennifer Garner, The Kingdom. Film The Kingdom ini bergenre aksi namun dicampur dengan unsur drama yang cukup kuat. Memang sih masih menampilkan ke super poweran Amerika namun di sisi lain pihak yang selama ini dianggap musuh juga ditampilkan sebagai manusia biasa juga sehingga walaupun bercerita tentang terorisme namun sang sutradara tidak menampilkan pernyataan politik apapun.

Film The Kingdom diawali oleh narasi sejarah singkat Kerajaan Saudi Arabia dan hubungannya dengan minyak dan Amerika Serikat. Adegan awal menggambarkan keriaan berbagai kegiatan hari libur disebuah lingkungan tempat tinggal warga Amerika di Saudi Arabia. Keriaan tersebut tiba-tiba berubah menjadi kepanikan ketika sebuah mobil polisi dibajak oleh sepasang teroris yang melepaskan tembakan membabi-buta kearah kerumunan ekspatriat itu. Seorang petugas keamanan seolah memberi instruksi kepada massa yang panik untuk berlari kearahnya namun ketika orang-orang mulai mendekat tiba-tiba petugas keamanan yang ternyata gadungan itu meledakan sebuah bom. Namun tragedi tidak berhenti disitu dan bahkan itu hanyalah umpan untuk memancing orang lebih banyak datang ketempat kejadian dan sebuah ledakan lain yang lebih dasyat terjadi kembali menewaskan banyak para korban, petugas medis dan para penyelidik. Seluruh adegan yang sangat tidak manusiawi itu direkam oleh para pelakunya sendiri bahkan mereka mencuci otak seorang anak kecil dengan memaksanya menyaksikan adegan tersebut.

Di Amerika Serikat terjadi juga sebuah perdebatan karena ada sekelompok anggota FBI yang ngoto ingin pergi ke Saudi untuk menyelidiki kejadian tersebut karena salah satu rekan mereka menjadi korban tewas. Setelah melalui lobi yang alot akhirnya serombongan penyidik FBI berangkat ke TKP untuk menyelidiki kejadian tersebut. Pada awalnya mereka banyak sekali mendapat hambatan namun berkat pendekatan yang jitu akhirnya pihak keamanan setempat mau menerima mereka. Mereka juga disana tidak bisa dengan leluasa menlakukan penyelidikan karena sering terganjal oleh norma-norma adat lokal. Berkat bantuan dari pihak polisi Saudi Arabia yang juga membenci tindakan terorisme itu akhirnya mereka bisa mengungkap pelaku tindakan keji tersebut. Disinilah bedanya film The Kingdom dengan film terorisme made in Amerika lainnya yaitu yang pahlawan sesungguhnya justru adalah sang polisi Saudi Arabia.

Tampilan gambar di film The Kingdom ini mirip film dokumenter tapi dengan intensitas jalan cerita yang cepat apalagi di seperempat bagian terakhir film. Seluruh adegan seolah-olah terjadi di depan mata kita sendiri terutama ketika adegan ledakan bom. Pengambilan gambar pada adegan tembak menembakpun sengaja dibuat tidak terlalu fokus dan malah berkesan shaking yang justru bikin kita merasa seperti di tengah-tengah medan pertempuran. Para pemainnya pun terutama Jamie Foxx dan Jennifer garner memang sudah terbiasa main film aksi sehingga tidak canggung lagi melakukan berbagai adegan aksi tapi juga tetap tampil meyakinkan ketika melakukan adegan yang memerlukan penjiwaan. Namun sepertinya kebanyakan penonton film Amerika masih belum bisa menerima kenyataan kalau mereka sesungguhnya tidak sesuperpower yang mereka kira sehingga film Kingdom ini tidak terlalu bagus dalam pendapatan box officenya, sama nasibnya seperti film Lions for Lambs yang mengkritisi kebijakan invasi amerika di timur tengah yang juga gagal di box office walaupun didukung oleh bintang-bintang ternama.

Minggu, 11 November 2007

Lions for Lambs

Bagaimana kalau Tom Cruise, Merryl Streep dan Robert Redford bertemu dalam sebuah film? Pastinya ekspetasi penonton adalah akan menonton sebuah film berat yang bermutu. Ketiga pemain film kawakan tersebut memang bertemu di sebuah film baru yang berjudul Lions for Lambs yang disutradarai oleh Redford sendiri. Film ini berkisah mengenai topik favorit orang amerika saat ini yaitu perang melawan terorisme. Bila anda mengharapkan sebuah film mengenai secret agent atau perang-pearangan maka anda akan salah besar karena Lions for Lambs ini dipenuhi oleh dialog-dialog dari para pemainnya jadi film ini adalah murni drama.

Ada 3 sketsa utama yang bisa dinikmati dalam film Lions for Lambs masing-masing sketsa didominasi oleh percakapan sepasang tokoh. Sketsa pertama menampilakan wawancara antara seorang wartawan senior Janine dengan Irving senator muda yang sedang naik daun. Sketsa kedua menampilkan seorang dosen idealis profesor Malley yang berusaha menumbuhkan kembali semangat belajar seorang mahasiswanya yang sebetulnya cemerlang namun malas. Dan sketsa terakhir dan juga yang menjadi benang merah kedua sketsa sebelumnya adalah mengenai Arian dan Ernest sepasang tentara amerika yang terjebak di wilayah musuh.


Janine diundang oleh senator Irving ke kantornya untuk melakukan wawancara eksklusif mengenai strategi terbaru, yang merupakan idenya sendiri, usaha amerika untuk memberantas terorisme. Ternyata ide Irving ini menurut Janine adalah ide lama yang pernah diterapkan di Vietnam yaitu mengorbankan beberapa peleton kecil kepada musuh sebagai tumbal yang nantinya menjadi alasan untuk melakukan ekspansi besar-besaran. Disinilah nurani Janine sebagai manusia harus berperang melawan profesionalisme nya sebagai jurnalis. Janine berdebat kencang dengan Irving mengenai strategi tersebut yang dinilai Janine sangat tidak manusiawi namun Irving punya argumennya sendiri bahwa sebenarnya diapun sedih harus mengorbankan tentara terbaiknya namun ini dilakukan untuk menyelamatkan nyawa jutaan rakyat amerika.


Todd si mahasiswa cerdas namun malas sedang menghadap profesor Malley dosennya. Malley berusaha menasihati Todd agar tidak membuang-buang potensinya dengan lebih serius belajar tapi Todd selalu ngeles dengan memberikan banyak sekali alasan. Hingga akhirnya profesor Malley bercerita tentang 2 orang mahasiswanya Ernest dan Arian, keduanya berasal dari keluarga imigran yang miskin bisa kuliah karena beasiswa tapi uniknya bukan berasal dari akademis melainkan olahraga karena itu sebetulnya secara akademis mereka tidak secerdas Todd namun mereka mempunyai semangat tinggi untuk menuntut ilmu. Pada suatu sesi perkuliahan mahasiswa ditantang profesor Malley untuk melakukan sesuatu yang berguna dalam hidup, Ernest dan Arian melakukan sesuatu yang mengejutkan sang profesor yaitu mendaftarkan diri menjadi tentara. Sebetulnya profesor Malley tidak setuju dengan ide keduanya namun Arian dan Ernest berkeras kalau mereka serius untuk mewujudkan ide tersebut karena sebagai kaum imigran mereka ingin berguna bagi amerika. Dan satu lagi alasan yang behasil menskakmat sang dosen adalah mereka berharap setelah pulang dari perang nanti mereka akan bisa kuliah S2 atas biaya angkatan bersenjata karena mereka tidak mampu membiayai sendiri kuliah S2 yang mahal tersebut. Cerita Malley tentang semangat Ernest dan Arian mulai bisa menggerakan pola pikir Todd agar bisa membuat dirinya berguna.


Jauh di Afganistan sana sepeleton pasukan amerika yang sedang terbang dibombardir tembakan oleh pasukan Taliban. Serangan ini membuat seorang tentara yang ternyata adalah Ernest jatuh dalam keadaan terluka, Arian sang sahabat memilih untuk melompat dari helikopter demi sahabatnya. Keduanya jatuh ditengah gurun salju dan dikepung oleh tentara Taliban. Ernest dan Arian ternyata termasuk pasukan amerika yang menjadi tumbal atas ide sentor Irving. Dalam keadaan terluka dan berada di tengah kepungan musuh Ernest dan Arian saling mendukung untuk tetap survive dan tidak menyerah begitu saja. Sebetulnya komandan pasukan telah berusaha menyelamatkan mereka namun cuaca buruk menghambat usaha penyelamatan tersebut. Akhirnya ketika amunisi telah habis dan pasukan Taliban makin mendekat, Ernest dan Arian sadar kalau mereka akan mati namun mereka ingin mati dengan cara yang terhormat. Adegan ini sangat mengharukan karena digambarkan Arian membantu Ernest untuk berdiri karena mereka ingin dalam keadaan berdiri ketika harus berhadapan dengan peluru-peluru pasukan Taliban.


Secara ide cerita memangg bagus namun ambisi yang besar rupanya tidak didukung oleh durasi yang mumpuni sehingga ceritanya jadi nanggung. Ketika penonton masih bertanya-tanya tiba-tiba penonton dikejutkan oleh berakhirnya film. Mungkin karena film ini lebih banyak didominasi oleh dialog daripada aksi jadinya akan sangat berat bagi para pemainnya untuk mengahafal dialog apabila dibuat hingga 3 jam. Jadi untuk endingnya penonton disuruh untuk membuat kesimpulannya sendiri, memang agak mengecewakan. Menurutku sketsa terbaik dari film Lions for Lambs ini adalah sketsa milik Ernest dan Arian karena sketsa mereka mengenai persahabatan sebetulnya sederhana namun sangat membumi dan lebih dapat memberikan kesan dibandingkan dengan sketsa Janine-Irvine yang sangat amerika dan sketsa Malley dan Todd yang agak membosankan. Kesetiakawanan Arian membuat dirinya yang sebetulnya bisa selamat nekat terjun untuk menemani sahabatnya Arian yang terluka di wilayah musuh.

Sabtu, 06 Oktober 2007

Resident Evil Extinction



Resident Evil Extinction merupakan jilid ketiga francise film yang diadaptasi dari seri video game yang berjudul sama Resident Evil. Melanjutkan kisah yang tertinggal dari seri sebelum Resident Evil Apocolypse dengan lebih banyak zombie dan darah. Dikisahkan T-virus telah menyebar luas hingga ke berbagai penjuru dunia, dunia ini dikuasai oleh para zombie manusia yang tersisapun harus rajin berpindah-pindah agar terhindar dari serangan zombie. Selain dikuasai kaum zombie, duniapun digambarkan menjadi kering kerontang bagaikan gurun raksasa. Hal ini jadi mengingatkan akan efek pemanasan global yang mungkin akan menjadikan bumi di masa depan seperti apa yang digambarkan dalam film ini, hi ngeri...

Mila Jovovich kembali berperan sebagai Alice si Cewek tangguh pembasmi Zombie hasil percobaan dari Umbrella Corp, untuk menghindari pantauan satelit milik Umbrella Corp. Alice pun terpaksa harus terus bergerak. Begitu pula para manusia yang belum terjangkit Y virus, mereka membentuk komunitas nomaden sendiri untuk menghindari dari serangan Zombie. Salah satunya adalah komunitas nomaden yang dipimpin oleh Claire Redfield, mereka berkonvoi berkeliling Amerika berusaha mencari sumber bahan makanan dan bahan bakar yang tersisa hanya untuk menyambung hidup. Adapula sekelompok ilmuwan Umbrella Corp yang tinggal di bawah tanah yang berusaha untuk menciptakan serum anti zombie, salah satunya terdapat ilmuwan ambisius bernama dr. Issacs. Dr. Issacs ini membuat banyak kloning Alice karena dia percaya bahwa darah alice bisa menjadi antiserum dari T Virus. Secara kebetulan Alice bertemu dengan kelompok Claire Redfield ini pada saat mereka mendapat serangan dari serombongan burung gagak zombie. Sebetulnya Alice enggan bergabung dengan kelompok ini karena kuatir akan membahayakan mereka tapi berkat bujukan seorang pria bernama Carlos, Alice akhirnya mau bergabung dengan mereka. Sebelum bertemu dengan kelompok Claire, Alice sempat menemukan sebuah dokumen yang menyatakan bahwa di Alaska T Virus ini belum menyebar sehingga kelompok Claire memutuskan untuk berjalan menuju Alaska. Ternyata keberadaan Alice ini terpantau oleh satelit milik Umbrella Corp, segera saja dr. Issacs mengatur strategi untuk menangkap Alice.

Bukannya berhasil menangkap Alice, dr. Issacs malah terkena gigitan zombie. Setibanya di laboratorium, segera saja dr. Issacs menyuntikan antiserum yang berasal dari darah klongan Alice. Hasilnya bukannya sembuh tapi justru malah membuat dr. Issacs bermutasi menjadi zombie super. Serangan dari dr. Issacs ini menginspirasikan Alice untuk mencuri helikopter milik Umbrella Corp yang nantinya akan digunakan untuk mengangkut kelompok Claire ke Alaska. Berangkatlah mereka ke laboratorium tersembunyi Umbrella Corp yang telah dikepung oleh banyak zombie. Carlos yang sebelumnya telah terkena gigitan zombie, mengorbankan dirinya untuk membuka jalan bagi anggota kelompoknya yang masih sehat untuk mencapai helikopter. Akhirnya kelompok Claire berhasil mengambil alih helikopter milik Umbrella Corp tersebut dan Alicepun kembali ke laboratorium Umbrella Corp untuk menyelesaikan urusannya dengan dr. Issacs. Dr. Issacs yang telah bermutasi menjadi super zombie ternyata sulit dikalahkan Alice tapi beruntung salah satu kloningan Alice datang membantu. Film diakhiri oleh penemuan kloningan Alice yang jumahnya ternyata sangat banyak sekali.

Resident Evil ini termasik film adaptasi video game yang cukup sukses disamping Lara Croft Tomb Raider. Cukup menarik juga kalau film adaptasi video game yang laris justru kalau jagoannya cewek seperti Lara Croft dan si Alice ini. Film adaptasi video game yang jagoannya cowok seperti Mortal Combat, Street Fighrer dan Doom justru malah flop di pasaran. Entahlah mungkin karena kaum gamer kebanyakan cowok-cowok yang pastinya lebih senang melihat jagoan cewek yang biasanya memang sexy-sexy dan lincah dibandingkan jagoan cowok yang biasanya berbadan kotak-kotak kaku. Tapi dari segi mutu filmnya juga Tomb Raider dan Resident Evil jauh lebih bagus daripada Doom, Street Fighter apalagi Mortal Combat yang katro abis.

Senin, 03 September 2007

The Invasion

Jangan percaya pada siapapun, jangan menunjukan emosi, jangan sampai tertidur, bisakah anda melakukan semua hal tersebut diatas untuk tetap menjadi manusiawi? Nampak mudah tapi sangat sulit dilakukan, keputus-asaan, keparnoan, ketidakberdayaan dan ketegangan yang terjadi terus menerus yang kita alami apabila melakukan hal-hal diatas. Itulah maksud yang ingin disampaikan oleh film terbarunya Nicole Kidman dan Daniel Craig, The Invasion. Sebetulnya ide menggabungkan tema drama, horor dan sci-fi ini akan sangat menarik tapi sayangnya tidak ada dari ketiga tema tersebut yang menonjol sehingga semuanya jadi serba tanggung. Ketegangan horornya tidak maksimal, unsur dramanya kurang menggigit serta tema sci-finya kurang jelas tapi untungnya masih ada Nicole Kidman yang bermain prima sehingga tokoh yang dimainkannya bisa terasa lebih hidup.

Sudah bisa ditebak dari judulnya, film ini bercerita tentang invasi mahluk yang hidup di luar bumi alias alien terhadap kehidupan manusia di bumi ini. Alkisah ada sebuah pesawat ulang-alik yang mengalami kecelakaan pada hendak memasuki atmosfer bumi dari luar angkasa, pecahan pesawat tersebut tersebar dari Dallas hingga DC. Siapa sangka pecahan pesawat naas tersebut telah terkontaminasi oleh suatu partikel misterius yang bisa mengakibatkan sel-sel tubuh orang yang terpaparnya akan mengalami kelainan dan akhirnya orang tersebut akan menjadi aneh karena telah hilang sisi kemanusiaannya. Pemerintah menganggap hal tersebut sebagai serangan penyakit flu jenis baru. Nicole Kidman beperan sebagai Dr. Bennell yang berprofesi sebagai psikiater yang juga berperan sebagai single mother bagi putra semata wayangnya. Pada saat kejadian tersebut merebak, tiba-tiba mantan suaminya datang untul meminta jatah pengasuhan putra mereka.


Sebagai seorang psikiater, Bennell melihat banyak sekali hal-hal aneh yang terjadi disekitar mereka seiiring dengan penyebaran penyakit flu misterius tersebut. Salah satunya adalah sorang anak yang juga teman main anak Bennell yang tiba-tiba diserang anjing secara mendadak. Ketika mengobati anak tersebut, Bennell menemukan sebuah benda aneh mirip permen karet tapi sepertinya memiliki jaringan hidup. Dibantu oleh Ben Driscoll TTMnya Bennell yang berprofesi sebagai dokter, mereka berusaha menyelidiki kejadian aneh tersebut. Akhirnya mereka menemukan fakta yang mengejutkan bahwa telah terjadi serangan alien yang tak berwujud tapi merasuki tubuh dan jiwa manusia. Bagi mereka yang telah terkontaminasi tidak akan mengalami perubahana apapun apabila mereka tetap dalam keadaan sadar. Virus alien tersebut baru akan menyerang pada saat orang yang telah terjangkit tersebut tidur. Bennell yang telah terkontaminasi dari mantan suminya mati-matian untuk tetap terjaga sambil berusaha mencari anaknya yang hilang disembunyikan sang mantan suami.


Putra Bennell juga sebetulnya telah terkena virus alien tersebut tapi dia sama sekali tidak mengalami perubahan, dari situlah Bennell, Driscoll dan salah satu teman Driscoll berusaha mencari penangkal virus alien tersebut. Ya sama seperti film-film bertema alien lainnya, akhirnya alien-alien tersebut gagal menguasai bumi hanya di film Invasion ini penyelesaiannya terasa sangat memaksa dan terlihat terlalu mudah. Film Invasion ini memang banyak maunya tapi tidak ada yang fokus jadinya penontonlah yang bingung dengan cerita yang tidak memiliki kontiyuitas yang baik. Walaupun filmnya bercerita tentang serangan alien tapi disini sama sekali tidak ditemukan mahluk hijau kecil, tatu mahluk berwujud seperti serangga atau mahluk-mahluk aneh lainnya yang biasanya muncul di film-film alien. Mungkin yang dimaksudkan alien disini adalah manusia-manusia yang telah kehilangan jiwa kemanusiaanya. Anehnya para alien yang katanya telah hilang sisi kemanusiaannya ini malah memiliki cita-cita mulia yaitu membangun sebuah dunia yang damai, tanpa kekerasaan, tanpa kemiskinan. Jadi bingung sebenarnya mana yang lebih baik, manusia atau alien???


Film ini memang aneh tapi seperti yang saya sebutkan diatas, Nicole Kidmanlah yang menyelamatkan film ini. Selain berakting bagus, penampilan Nicole juga bisa cukup menghibur kaum laki-laki. Buat cewek-cewek jangan kuatir karena ada Daniel Craig juga yang disini terlihat lebih ganteng daripada saat jadi James Bond di Casino Royale tapi sayangnya porsi kemunculan Daniel Craig tidak banyak dibandingkan Nicole Kidman yang menguasai lebih dari 3/4 film. Kayanya Nicole Kidman ngga mau kalah dari Tom Cruise soal jadi pahlawan penyelamat bumi, sebelumnya Tom Cruise juga bermain di film serupa yang berjudul War of The Worlds yang juga sama anehnya.

Senin, 27 Agustus 2007

Bourne Ultimatum

Tahun 2007 ini adalah tahun penuh sequel film terutama sequel ketiga, salah satu serial yang menelorkan sequelnya adalah kisah petualangan Jason Bourne yang diadaptasi dari novel laris karangan Robert Ludlum. Menurut aku diantara sejumlah film sequel yang beredar tahun ini, boleh dikatakan Bourne Ultimatumlah juaranya karena film ini sukses menyambungkan cerita dari film sebelumnya dengan kontinyuitas yang sangat mulus. Cerita masih mengenai pencarian identitas asli sang super spy Jason Bourne. Tokoh yang kembali lagi muncul dari kisah sebelumnya adalah Pamela Landey, salah satu petinggi CIA yang walaupun telah berkali-kali kena "dikerjai" Bourne tetap saja agak-agak membelanya serta Nicky Parsons seorang pegawai bagian logistik Treadstone yang pernah bersekongkol dengan Bourne sebelumnya.

Diawal film dimasukan potongan film dari seri sebelumnya Bourne Supremacy dan langsung disambungkan dengan mulus adegan-adegan baru. Usaha pencarian identitas Bourne mulai menunjukan titik terang ketika seorang reporter Inggris mengungkapkan tentang masalah project Blackbriar. Bourne langsung memburu sang reporter untuk mengetahui orang dalam yang diyakini mengetahui banyak fakta dibalik project tersebut tapi rupanya beberapa petinggi CIA yang terlibat dalam masalah ini tidak tinggal diam, mereka pun ikutan memburu sang reporter. CIA yang semula tidak mengira Bourne akan terlibat, tiba-tiba terkejut ketika mereka mendapatkan kesulitan dalam perburuan menangkap sang reporter. Adegan kejar-kejaran yang bersetting di stasiun KA paling padat di Inggris Waterloo ini sangat seru sekali. Usaha Bourne untuk melindungi sang reporter gagal karena sang reporter tewas juga sehingga mau ngga mau Bourne harus memburu sendiri sang nara sumber yang bernama Neal Daniels.


Berikutnya Bourne berpetualang ke Madrid untuk perburuan berikutnya, alih-alih menemukan Neal Daniels disana Bourne malah kembali bertemu dengan Nicky Parsons. Dari Nicky lah Bourne mendapat informasi bahwa Neal Daniels telah pergi ke Tangier Turki. Bersama Nicky Bourne berusaha menyelamatkan Daniels dari upaya pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang yang takut project Briar tersebut terungkap. Bourne memang gagal kembali menyelamatkan sang nara sumber tapi dia mulai mendapatkan kembali petunjuk. Kali ini petunjuknya mengarah ke markas CIA di New York, Bourne pun langsung pergi kesana. Kali ini Bourne sukses mengerjai Deputi Direktur Noah Vosen dengan memanfaatkan "teman" lamanya Pamela Landey. Pamela yang sempat ditelepon Bourne memberitahukan nama asli Jason Bourne adalah David Webb dan juga memberikan info sebuah kode yang ternyata merupakan alamat tempat dimana sosok Jason Bourne dibentuk. Akhirnya setelah pencarian bertahun-tahun Bourne/Webb menemukan jawaban atas segala misteri yang meliputi dirinya.


Ada adegan yang cukup menarik yaitu ketika Bourne bertanya kepada Nicky, kenapa dia selalu menolong dirinya. Nicky tidak memberikan jawaban hanya bertanya kembali apakah Bourne benar-benar tidak ingat apa yang terjadi di masa lalu. Adegan ini pasti menimbulkan pertanyaan apakah ada hubungan khusus di masa lalu antara David Webb dengan Nicky Parsons?

Senin, 06 Agustus 2007

The Simpsons Movie


Dimana ada keluarga Simpson maka disana akan terjadi kerusuhan... Setelah bertahun-tahun hanya muncul di layar kaca kini kelurga Simpson berani merambah layar perak. Kelurga Simpson yang dimaksud bukan duo Simpson bohay yang juga bisa bikin kerusuhan kalau baju bagian atasnya dibuka yaitu Jessica dan Ashley Simpson tapi acara kartun tentang keluarga ajaib yang terdiri atas pasutri Homer dan Marge serta ketiga anak mereka Bart, Lisa dan Maggie. Sama seperti versi TVnya, versi bioskop The Simpson walaupun dibuat dalam bentuk kartun tapi sama sekali bukan tontonan anak-anak.


Baru saja film mulai Homer sudah mulai nyindir penonton dengan mengatakan "Why pay for something you can see on the for free". Sebetulnya cerita The Simpsons Movie ini tidak terlalu istimewa ibaratnya kita hanya sekedar menonton salah satu cerita The Simpsons dalam versi yang lebih lama dan tanpa diselingi iklan. Ceritanya mengenai isu yang lagi hot-hotnya dibahas yaitu tentang pencemaran. Warga kota Springfield sedang giat-giatnya melakukan pengurangan polusi dengan tidak mebuang sampah langsung ke sungai tapi Homer si pemalas ini malah membuang limbah berupa "maaf" kotoran babi ke sungai. Alhasil sungainya jadi langsung tercemar bahkan sampai terjadi mutasi genetik pada seekor binatang. Pemerintah langsung mengkarantina kota Springfiled dengan memasang kubah raksasa sehinga warga Springfield tidak dapat kemana-mana. Ketika diketahui biang kerok pencemaran adalah Homer maka warga kota langsung memburu kelurga Simpson dan ternyata mereka berhasil melarikan diri dari kota Springfield dan pindah ke Alaska. Sebetulnya kehidupan mereka di Alasaka sudah cukup tenang tapi tiba-tiba muncul di berita bahwa kota Springfield akan dimusnahkan dari muka bumi. Seluruh keluarga Simpson kecuali Homer memutuskan kembali untuk menolong warga Springfield tapi pada akhirnya rasa cintanya pada keluarga membuat Homer berani untuk ikut kembali ke Springfiled. Berkat Homer pula kota Springfield tidak jadi dimusnahkan. Selain kekonyolan Homer ditampilkan pula Lisa yang sedang jatuh cinta dan Bart yang merindukan figur ayah yang sebenarnya. Tom Hanks dan Green Day muncul sebagai bintang tamu.


Di awal film masih lumayan banyak kelucuan tapi ketika agak terakhir mulai terasa membosankan karena mulai memasukan sedikit unsur-unsur drama, bahkan gue melakukan sesuatu yang belum gue lakukan sebelumnya yaitu tertidur di bioskop... Memang sih cuma tertidur sejenak tapi sumpeh lo gue belum pernah sekalipun tertidur di bioskop seperti saat nonton The Simpson Movie kemarin. Mungkin juga saat nonton film tersebut kondisi tubuh lagi kurang fit dan film komedi jenis The Simpson ini sama sekali tidak memacu adrenalin jadinya tertidur deh kita di dalam bioskop. Film The Simpsons ini sebetulnya adalah konsumsi orang dewasa tapi herannya banyak juga anak-anak kecil yang ikutan nonton, ngga nyadar kali orangtuanya kalau The Simpson itu bukan film kartun anak-anak.

Minggu, 15 Juli 2007

Harry Potter and The Order of Phoenix- the movie

Film Harry Potter and The Order of Phoenix adalah satu-satunya versi layar lebar cerita petualang Harry Potter yang aku tonton secara utuh dari awal hingga akhir. Dulu aku pernah nonton seri pertamanya Harry Potter and The Sorcerer's Stone di DVD tapi ngga sampai tuntas karena aku keburu kecewa dengan filmnya yang aku rasa tidak sesuai dengan imajinasiku. Terutama aku kecewa dengan pemeran Harry Potter yang menurutku terlalu manis, menurut imajinasiku Harry Potter itu seharusnya bertampang kumuh tidak terawat dan berambut acak-acakan. Setelah ngambek ngga mau nonton serial selanjutnya, akhirnya aku penasaran juga pingin nonton seri kelima film Harry Potter ini karena disinilah Harry yang anak-anak mulai tumbuh menjadi seorang pemuda yang sedang menuju kedewasaan. Kali ini sebelum nonton aku tidak terlalu berekspektasi terlalu tinggi terhadap filmnya dan memposisikan diri sebagai penonton yang belum pernah baca cerita versi bukunya. Dengan pola pikir seperti ini aku agak mulai bisa menikmati film Harry Potter ini karena sebetulnya cerita versi filmnya (tanpa perlu membandingkan dengan bukunya) ternyata cukup bagus juga.

Emang ngga gampang untuk memfilmkan karya fiksi fantastis yang penuh imajnasi seperti serial Harry Potter ini karena setiap pembaca punya daya imajinasi yang berbeda-beda. Buat yang tidak terlalu hobi berimajinasi mungkin menganggap film Harry Potter sebagai sesuatu yang beyond imagination tapi untuk para pembaca yang punya daya khayal yang berlebihan seperti aku, Harry Potter versi layar lebar masih jauh dari apa yang dikhayalkan. Bagaimanapun film ini masih bisa jadi box office karena nama besar novel Harry Potter yang jadi best seller book dimana-mana dan konon serial Harry Potter ini jadi cetakan terlaris nomor dua di dunia itupun cuma dikalahkan oleh The Holy Bible.


Versi buku Harry Potter and The Order of Phoenix ini punya ketebalan 870 halaman dan rasanya ngga mungkin banget semua unsur cerita dalam bukunya bisa ditampilkan di versi layar lebar yang hanya punya durasi 2.5 jam saja. Jadi ngga heran ada banyak bagian buku yang tidak ditampilkan dalam versi filmnya ini. Untuk para penonton yang ngga baca bukunya, sama sekali tidak akan terganggu karena pengurangan adegan tersebut tidak terlalu mempengaruhi jalan ceritanya. Walaupun cukup bisa menerima film Harry Potter and The Order of Phoenix ini tapi aku masih agak kecewa dengan tidak ditampilkannya sama sekali adegan pertandingan quidditch yang jadi trade mark nya serial Harry Potter. Kalau saja sutradaranya mau sedikit memperpanjang durasi film hingga 3 jam bisa jadi adegan pertandingan quidditch tersebut dapat diselipkan. Mungkin sutradara sengaja tidak menampilkan adegan tersebut dengan alasan budget karena sudah dapat dipastikan untuk membuat adegean pertandingan quidditch diperlukan dana yang tidak sedikit.


Pemeran Harry Potter sudah mulai menanjak dewasa mengikuti karakter yang dimainkannya, dan pemeran Ron lah yang jadi favoritku karena dialah satu-satunya karakter utama dalam film Harry Potter yang sesuai dengan imajinasiku. Setelah menonton Film Harry Potter 5 ini jadinya sekarang aku malah penasaran untuk menunggu versi layar lebarnya seri Harry Potter berikutnya yaitu Harry Potter and The Half Blood Prince karena sampai sejauh ini (Sebelum buku seri terakhir Harry Potter and The Deathly Hollows keluar) seri inilah yang paling dramatis. Seharusnya jika adaptasinya sempurna, film yang dihasilkan bisa berkualitas sekelas pemenang Oscar.

Senin, 09 Juli 2007

T4xi

T4xi atau dibaca Taxi 4 adalah sequel keempat dari film komedi asal Perancis yang paling terkenal. Si supir taxi tukang ngebut Daniel kembali berpetualang dengan taxi supernya untuk membantu temannya Emilien sang polisi telmi. Diawal film kita akan bertemu dengan selebriti bola Perancis yang pernah bermain di Liverpool Djibril Cisse. Akibat kedodolan polisi Marseille, Cisse nyaris gagal menghadiri pertandingan di stadion Olympique Marseille. Untung ada Daniel dan taksinya sehingga Cisse bisa tiba di stadion persis sebelum wasit meniup peluit untuk kick-off.

Daniel dan Emilien kali ini disibukan oleh urusan pengasuhan anak-anak mereka karena para istri mereka sedang sibuk dengan urusan pekerjaan. Sementara itu di kantor polisi tempat Emilien dihebohkan oleh lolosnya seorang napi yang berbahaya akibat kebodohan Emilien. Akibatnya Emilien dipecat dari kepolisian, demi membantu sahabatnya Daniel yang diserahkan tanggung jawab mengasuh anak-anak terpaksa menitipkan anak-anaknya tersebut ke rumah mertuanya yang seorang jenderal. Ternyata Petra istri Emilien punya tugas untuk menyamar ke komplotan penjahat yang diketuai oleh napi yang kabur tersebut. Emilien yang telmi bahkan tidak mengenali istrinya sendiri walaupun sudah berhadapan face to face. Akhirnya dengan segala kekonyolan dan huru-hara, para penjahat dapat diringkus dan Emilien bisa kembali menjadi Polisi.


Dibandingan dengan sequel-sequel sebelumnya, T4xi tampil sangat mengecewakan. Humor-humor yang ditampilkan tidak terlalu segar karena mengulang seperti sebelumnya. Dan yang paling mengecewakan adalah sedikitnya adegan kebut-kebutan si taksi super canggih tersebut di jalanan kota Marseille. Padahal adegan taksi ngebut tersebut adalah trademark dari film taxi sebelumnya. Well gimanapun juga film ini masih lumayanlah sebagai hiburan untuk menghilangkan stress.

Rabu, 04 Juli 2007

Die Hard 4.0 - Kaga Ada Matinye



John McClane si polisi jagoan yang susah mati ini kembali beraksi menumpas penjahat, sequel keempatnya ini diberi judul Live Free or Die Hard. Kali ini sang polisi veteran tapi tetap jago ini harus behadapan dengan hacker teroris yang berusaha melumpuhkan Amerika yang segala aspek kehidupannya tergantung pada sistem jaringan komputer. John McClane yang rada-rada gaptek ini ngga mungkin berjuang sendirian melawan penjahat dunia maya ini maka dipasangkanlah dengan seorang anak muda yang techno freak yang bernama Matt Farrell.

Diceritakan hubungan antara John McClane dengan keluarganya agak-agak runyam bahkan lucy putrinya sendiri tidak mengakui sang ayah, disaat yang sama McClane mendapatkan tugas untuk menjemput Farrell yang sedang diburu oleh kawanan pembunuh bayaran antek sang Hacker Teroris. McClane bisa datang tepat waktu sehingga nyawa Farrell bisa selamat tapi Hacker Teroris kadung menjalankan aksinya yang disebut Fire Sale. Fire Sale itu adalah semula hanya mainan simulasi cara melumpuhkan Amerika yang dilakukan oleh Farell dan kawan-kawan hackernya tapi rupanya ide simulasi jatuh ke tangan hacker teroris yang memang niat untuk menguasai amerika. Fire Sale ini pertama kali melumpuhkan sistem transportasi lalu terjadi kepanikan massa dengan membuat alarm bioterrorism palsu, mengacaukan sistem di wallstreet sehingga terjadi kelumpuhan bidang ekonomi. Di tengah kekacauan akibat kepanikan massa, sistem telekomunikasipun dilumpuhkan. Dan sebagai gongnya adalah dengan mengusai sumber energi baik listrik maupun nuklir sehingga amerika menjadi gelap-gulita. Boleh dikatakan fire sale ini merupakan kiamat digital. Farrell sebagai satu-satunya pencetus fire sale yang masih hidup dan tentu saja bersama McClane si manusia analog di era digital ini berusaha menghentikan serangan teroris yang mulai melumpuhkan sebagian Amerika. Sudah bisa ditebak kombinasi pemuda era digital dengan polisi veteran dari era analog ini berhasil menggagalkan usaha penghancuran Amerika oleh teroris canggih model baru ini. Supaya menambah manis diberi juga bumbu-bumbu tentang penyanderaan putri McClane oleh teroris yang akhirnya bisa memperbaiki hubungan ayah-anak tersebut.

Walaupun sudah tua, Bruce Willis ini masih pantes jadi jagoan jadinya seri keempat ini masih enak ditonton walaupun rentang waktu dengan seri pertamanya hampir 20 tahun. Selain itu yang bikin film ini tetap enak ditonton adalah ceritanya yang mengikuti tren seperti saat ini yang memang sedang di era digital maka diciptakanlah penjahat yang berbasis di dunia maya. Meskipun dibuat mengikuti tren jaman namun ciri khas film Die Hard tetap ada yaitu intensitas ketegangan dari awal hingga akhir yang diimbangi oleh kekonyolan untuk menyeimbangkan mood penonton. Ciri lain film Die Hard ini adalah tentunya sang jagoan yang walaupun diserang sebuah pesawat tempur canggih sekalipun tetep ngga mati-mati begitu juga dengan penjahatnya yang ngga gampang mati juga. Makanya dibuat judul Die Hard karena tokohnya susah mati dan memang film ini juga ngga ada matinya walaupun sudah bertahun-tahun tetap saja masih enak ditonton.

Film ini menunjukan betapa kita telah terlalu bergantung pada teknologi yang notabene adalah ciptaan manusia yang sangat jauh dari sempurna. Bersyukurlah kita sebagai negara yang ngga terlalu maju sehingga apa yang terjadi di film Die Hard 4.0 ini ngga mungkin terjadi disini setidaknya untuk beberapa tahun kedepan. Tapi film ini juga bisa menginspirasikan teroris betulan di kehidupan nyata, apabila ingin melumpuhkan suatu negara, kuasailah paling tidak sumber energi negara tersebut.

Secara umum film ini cukup menghibur, masalah realitas cerita ngga usah dipikirkan karena tujuan nonton film adalah untuk refreshing sejenak dari masalah realita hidup.

Sabtu, 30 Juni 2007

Tranformers

Film terbaru dari sutradara spesialis box office Michael Bay yang diproduseri oleh Steven Spielberg ini ini memang luar biasa dasyat. Baik Steven Spielberg maupun Michael Bay adalah sama-sama jago ngayal jadi kalau mereka berkolaborasi maka hasilnya adalah film berimajinasi tinggi yang didukung oleh spesial efek yang super canggih.

Transformers bercerita tentang robot-robot canggih dari luar angkasa yang hendak menginvasi bumi. Supaya balance selain ada robot jahat, ada juga robot baik yang membantu manusia untuk mengalahkan robot jahat. Jagoan utama difilm ini pastilah para robot-robot canggih dan beberapa manusia pilihan. Cerita diawali dengan penyerangan sebuah pangkalan militer AS di Qatar oleh salah satu robot jahat sehingga membuat para tentara AS kocar-kacir, dalam penyerangan ini diyakini seluruh pasukan AS di pangkalan militer tersebut tewas tapi ternyata ada satu peleton pasukan pimpinan seorang kapten ganteng yang selamat. Ngga ngerti juga kenapa yang diserang duluan adalah sebuah pangkalan militer AS di Timur Tengah, ummm namanya juga film Amerika yang jadi jagoannya kudu orang Amerika dongs... Sementara di sebuah kota di Amerika hiduplah seorang pemuda culun bernama Sam yang baru saja mendapatkan hadiah mobil dari sang ayah, mobilnya itu hanya sebuah camaro butut berwarna kuning norak. Ternyata mobil yang secara fisik ngga banget tersebut adalah jelmaan dari sebuah robot baik yang bertugas untuk melindungi Sam dari serangan robot jahat yang mengincar kacamata warisan kakek Sam. Pada kacamata yang tidak laku dilelang di e-bay itu ternyata terdapat koordinat sebuah kubus yang menyimpan kekuatan dan kubus itulah yang sebetulnya diincar robot jahat. Untuk menjalani misinya robot jahat juga melakukan serangan terhadap sistem jaringan komputer milik pemerintah amerika, semula DepHan AS mengira pelakunya adalah musuh dan mantan musuh AS seperti Iran, Korut, China dan Rusia ha..ha.. ngga dikehidupan nyata ngga juga di film orang amerika suka banget curigaan sama negara lain. Tentunya berkat usaha keras beberapa manusia terpilih (Orang amerika semua tentunya) dan bantuan para robot baik yang disebut Autobots, bumi berhasil selamat dari serangan Decepticons alias pasukan robot Jahat.

Film tentang robot-robot ini tidak hanya ditujukan sebagai film anak-anak saja tapi juga untuk orang dewasa yang ingin bernostalgia dengan kenangan masa kecilnya karena film ini bisa membangkitkan spirit kanak-kanak dari dalam jiwa penontonnya. Untuk mereka yang dimasa kecilnya senang menonton film tentang robot, film ini merupakan film wajib. Teknologi yang mendukung film ini juga bener-bener canggih, ketika robot-robot tersebut beraksi seperti betulan, sama sekali tidak berbentuk animasi. Soal jalan cerita yang sepertinya maksa ngga perlu dibahaslah, jarang banget ada film fantasi berteknologi tinggi yang punya jalan cerita yang kuat. Jadi kalau mau santai, sok mangga nonton film ini sebab kita akan terhibur oleh pameran kecanggihan film hollywood dan bonus beberapa adegan-adegan konyol yang bisa mengendurkan urat stress kita.