Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 April 2008

B16 dan Lugo

Untuk pertama kalinya dalam masa pemerintahan presiden George W Bush seorang Paus berkunjung ke negaranya. Paus Benedictus XVI minggu lalu melakukan kunjungan ke Amerika Serikat. Kunjungan Paus Benedictus XVI ini menjadi sangat berarti sekali bagi presiden Bush jr. ini sebab Paus sebelumnya, Paus Johannes Paulus II, sangat enggan bertemu dengan Bush jr. lantaran beliau menentang keras kebijakan luar negeri Bush jr. yang dianggap banyak melanggar Hak Azasi Manusia. Sebetulnya Paus Benedictus XVI juga banyak tidak sepahamnya dengan Bush jr. tapi rupanya beliau tidak terlalu galak seperti pendahulunya.


Kunjungan Paus Benedictus di Amerika Serikat ini disambut secara meriah oleh warga AS terutama warga dari keturunan hispanik, Italy, Irish dan penganut Katolik lainnya. Para anak mudanyapun tak kalah antusias menyambut Paus Benedictus XVI, mereka menyambut Paus tak ubahnya seperti menyambut musisi atau bintang basket pujaan mereka. Bahkan para anak muda ini memberikan sebutan baru bagi sang Paus yaitu B16 yang merupakan singkatan dari Benedictus XVI. He..he.. keren banget ya walapupun B16 lebih terdengar seperti nama jenis pesawat pembom baru. Mudah-mudahan aja Paus B16 bisa membom iman para anak muda sehingga iman Katolik mereka makin tumbuh dn berkembang.


Selain Paus Benedictus XVI aka B16 ada lagi seorang Imam Katolik yang lagi jadi pusat perhatian dunia yaitu Fernando Armindo Lugo Mendez yang baru saja terpilih jadi presiden Paraguay berikutnya. Fernando Lugo pada Januari 2005 memutuskan untuk meninggalkan jabatan uskup agar bisa bertindak langsung mengatasi kemiskinan dengan terjun ke politik praktis. Meskipun sedang di”cuti”kan sebagai pastor tapi Fernando Lugo tetaplah akan menjadi gembala bagi rakyat Paraguay.


Kemenangan Fernando Lugo dalam Pemilu Paraguay membuktikan kalau untuk menjadi calon pemimpin yang dicintai rakyat tak perlu punya banyak uang atau penampilan yang menarik. Sebagai mantan uskup tentu saja Lugo tidak punya modal finansial yang besar seperti umumnya para kandidat calon presiden di negara kita. Tampilan Lugo secara fisikpun tidak semenarik presiden Perancis Nicolas Sarkozy. Walaupun telah terjun menjadi seorang politikus tapi cara berbusana Lugo tetaplah sederhana seperti layaknya seorang pastor dengan pakaian yang sederhana, berkacamata bingkai besi model jadoel dan tak jarang ketika tampil di publik hanya memakai sandal yang biasa digunakan para pastur. Modal Lugo hanyalah kharisma dan kesungguhan niatnya untuk membangun kesejahteraan rakyat.

Jumat, 18 April 2008

Benny & Mice


Malam tadi di acara talkshow K!ck Andy di MetroTV menampilkan duo kartunis kocak favoritku yaitu Benny & Mice. Benny Rachmadi (Benny) dan Muhammad Misrad (Mice) setiap minggunya rutin mengisi strip kartun di harian Kompas dengan judul yang sangat narsis yaitu memakai nama mereka sendiri “Benny dan Mice”. Tapi ternyata anggapan mereka berdua itu mahluk narsis tidak sepenuhnya benar karena alasan mereka berdua menjadi diri mereka sendiri sebagai tokoh utama karena takut ada orang lain yang tersinggung. Jadi untuk amannya mereka menggunakan diri mereka sendiri sebagai bahan olok-oloknya.

Kartun yang mereka tampilkan dalam Kompas Minggu sungguh sangat menggelitik karena memotret berbagai kejadian yang lagi in di masyarakat mulai dari soal fashion hingga masalah-masalah sosial di masyarakat. Seperti pada edisi hari Minggu lalu dimana mereka menampilkan kartun seputar tren penggunaan kafiyeh yang di populerkan oleh Nidji. Diceritakan si Mice tertarik untuk mengikuti tren fashion yang berasal dari timur tengah tersebut dan..... Yang dilakukan Mice adalah malah memakai pakaian ala Aladdin dengan alasan kalau busana yang dipilihnya lebih bernuansa timur tengah. Bakal penampilan mereka di Kick Andy pun sebetulnya sudah mereka isyaratkan pada kartun mereka edisi beberapa minggu lalu. Waktu itu diceritakan kalau mereka berdua sibuk beli sepatu bola baru. Ketika ditanya mau main dimana, mereka bilang mau main di stasiun TV dalam acara Kick Andy.

Kemunculan Benny dan Mice dalam Kick Andy ada hubungannya dengan buku kumpulan kartun yang diberi judul “ 100 Tokoh Yang Mewarnai Jakarta”. Ternyata penampilan fisik keduanya tidak sehancur seperti pada gambaran di kartun “Benny & Mice”. “100 Tokoh Yang Mewarnai Jakarta” memang benar-benar berisi 100 tokoh yang banyak bisa kita temui dalam keseharian orang Jakarta. Tapi jangan harap ada tokoh populer disini sebab tokoh yang dimaksud mereka hanyalah anggota masyarakat biasa dengan berbagai latar belakang. Mungkin saja ada anda sendiri yang masuk disitu. Para tokoh tersebut digambarkan secara kocak lengkap dengan keterangannya dan berbagai komen tanpa maksud untuk melecehkan.

Untuk lebih menghidupi acara, Andy Noya juga mendatangkan tokoh nyata dari kehidupan sehari-hari untuk dibandingkan dengan tokoh yang direka-reka oleh Benny dan Mice. Maka datanglah Ferry Salim sebagai si cowok metroseksual, lalu ada Penuntun Binatang di Mall, JaMet alias Jawa Metal (salah satu tokoh di 100 tokoh yang sukses bikin aku tertawa terpingkal-pingkal), Pemuda Terjebak Masa Lalu (kalau yang ini versi nyatanya lebih lucu dan asli jadoel banget), tukang kerak telor, banci salon dan hansip.

Dalam buku “100 Tokoh Yang Mewarnai Jakarta” yang disebut tokoh itu bukan hanya manusia saja tapi juga ada benda lainnya seperti si tokoh penutup yaitu Anthurium. Yap fenomena Anthurium ini memang sangat fantastis, gara-gara si tumbuhan elit ini manusia bisa melakukan hal-hal yang gaib. Selain menampilkan 100 kartun tokoh, mereka juga memberikan bonus 5 cerita komik yang lucu namun sangat menggugah hati. Yang aku suka dari Benny dan Mice adalah cerita kartun mereka yang ringan dan tidak sok menjudge sesuatu dengan cara yang nyinyir.

Minggu, 16 Maret 2008

Heiki Kovalainen - Sang Bodyguard Mclaren Mercedes

Setelah Fernando Alonso yang merasa tidak cocok dengan tim McLaren Mercedes dan memutuskan hengkang maka dipilihlah Heiki Kovalainen sebagai partner baru si super rookie Lewis Hamilton. Keputusan Ron Dennis bos McLaren untuk mengontrak anak muda Finlandia tersebut sepertinya tidak salah. Memang sih di seri pembukaan musim balap F1 tahun ini di Melbourne Australia yang baru saja berlangsung ini Heiki Cuma berada di posisi 5 tapi ini terjadi karena faktor kekurangan beruntungan saja.

Seharusnya Heiki Kovalainen bisa finish kedua setelah Lewis Hamilton namun kecelakaan yang menimpah rookie Toyota, Timo Glock, sangat merugikan posisi Heiki. Heiki yang kala itu sudah unggul banyak atas pembalap dibelakangnya terpaksa harus rugi waktu karena safety car masuk, sialnya saat itu Heiki belum melakukan pit stop terakhirnya. Terpaksalah Heiki harus menyerahkan keunggulannya kepada lawan-lawannya karena pit stop harus dikakukan. Dari berpotensi menjadi peringkat 2, Heiki akhirnya harus puas finish di tempat ke-5. Sebetulnya ada kesempatan Heiki finish lebih baik namun Alonso yang di depannya berhasil mempertahankan posisinya hingga akhir.

Sebetulnya bukan itu saja kecermerlangan Heiki hari ini, aku anggap Heiki sukses sekali menjalankan tugas sebagai "bodyguard" bagi rekannya Lewis Hamilton. seandainya tahun lalu Hamilton punya "bodyguard" seperti Heiki, bukan tidak mungkin juara dunia jatuh kepadanya. Pada balap hari ini baru saja dimulai Heiki yang start dari pososi 3 berhasil menggagalkan serangan Felipe Massa bahkan membuat pembalap Brazil tersebut kehilangan banyak posisi akibat nyelonong keluar lajur balap. Ketika Raikonnen yang berstrategi satu pit berhasil melejit hingga posisi 3, Heiki yang kala itu ada di posisi 2 berhasil menahan sang juara bertahan. Ngga cuma itu, Heiki kembali mengulang kejadian seperti saat start kali ini ia berhasil membuat partnernya Felipe Massa nyerungsep ke gravel akibat terlalu nafsu buat nyusul Heiki.
Perbuatan Heiki yang sukses mengenyahkan kedua jagoan Ferarri yang notabene adalah musuh utama timnya McLaren Mercedes tersebut membuat dirinya layak mendapat sebutan sebagai bodyguardnya Lewis Hamilton, sang anak emas Rob Dennis. Sudah sewajarnya Lewis Hamilton berterima kasih pada partner barunya ini, seandainya Heiki gagal menahan laju para pembalap Ferarri terutama Kimi Raikonnen bukan tidak mungkin Lewis bakalan gagal meraih nilai sempurna. Memang untuk menjadi juara dunia, seorang pembalap harus punya sekan setim yang mau mendukung bukan saling menyaingi seperti Lewis Hamilton dan Fernando Alonso tahun lalu.

Rabu, 05 Maret 2008

Pramoedya Ananta Toer

Baru kemarin aku berkenalan dengan karya Pramoedya Ananta Toer melalui novel terakhirnya yang berjudul "Larasati", aku langsung jatuh hati dan penasaran ingin membaca karya-karyanya yang lain. Pak Pram demikian ia biasa disapa adalah seorang novelis besar Indonesia yang reputasinya telah diakui dunia bahkan namanya pernah masuk nominasi pemenang Nobel Sastra. Gaya penulisannya yang lugas, terbuka dan tanpa tedeng aling-aling mengungkap kebusukan penguasa membuatnya sering keluar-masuk penjara mulai dari jaman penjajahan Belanda, orde lama dan tentu saja pada saat orde baru. Memang sih secara fisik beliau terpenjara namun itu sama sekali tidak menghalanginya untuk terus berkarya. Memang banyak karyanya yang kena sensor dan tak dapat beredar di Indonesia namun tidak demikian dengan dunia luar. Karya pka Pram diakui kualitasnya sehingga beberapa karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa asing. Pada era reformasi yang sudah mulai bebas ini, karya-karya Pak Pram mulai kembali beredar sehingga masyarakat Indonesia dapat menikmati karya terbaik bangsa ini.


Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca) disebut-sebut sebagai karya terbaik beliau. Namun sayang harga keempat buku tersebut cukup mahal nyaris menyaingi buku import. Tapi memang layak juga sih karya-karya Pak Pram dihargai tinggi sebab karya beliau memang berkualitas dunia. Isi novel-novel Pak Pram memang banyak memotret aspek kehidupan yang membentuk Indonesia seperti misalnya perjuangan revolusi tapi dibuat dengan gaya bahasa yang tidak membuat orang bosan. Seperti waktu aku membaca novel "Larasati", berkat narasinya yang sempurna aku langsung mendapat bayangan keadaan Indonesia pada sekitar tahun 1945-1950 yang secara de jure sudah merdeka namun tidak secara de facto. Pak Pram juga banyak memasukan fakta-fakta sejarah namun tidak membuat kesan seperti membaca buku sejarah yang membosankan. Melihat kondisi masyarakat Indonesia yang sekarang ini mulai terlihat kurang nasionalis, sesungguhnya bisa dibangkitkan kembali melalui karya-karya Pak Pram ini. Mungkin bila melalui bacaan agak sulit bisa dilakukan dengan membuat film atau sinetron-sinetron berdasarkan karya-karya Pak Pram ini.



Beberapa waktu yang lalu sempat beredar kontroversi seputar pemberian gelar pahlawan kepada mantan Presiden Soeharto, saya rasa lebih pantas Pak Pram ini yang diberi gelar pahlawan nasional daripada Pak Harto. Untuk menjadi pahlawan memang tak lantas harus gugur di medan perang, ada cara lain untuk berjuang, salah satunya seperti cara yang dilakukan Pak Pram yaitu melalui tulisan-tulisan yang menggugah jiwa nasionalisme. Lagipula Pak Pram sudah berjasa mengharumkan nama Indonesia melalui karya-karya penulisan yang diakui dunia. Seburuk apapun perlakuan yang pernah diterima dari bangsanya, tetap saja Pak Pram tetap setia pada Indonesia terbukti dari keengganan pergi keluar negeri pada masa orde baru sebab beliau takut kalau tidak diperkenankan lagi masuk Indonesia. Baru setelah orde baru terguling beliau bersedia melakukan kunjungan ke Amerika Serikat untuk mempublikasi salah satu karyanya yang berjudul asli "Nyanyian Sunyi Seorang Bisu". Buku yang dalam versi bahasa Inggrisnya berjudul "The Mute's Soliloquy" ini adalah sebuah memoar dari kehidupan Pak Pram sendiri ketika menjadi tahanan di Pulau Buru.



Sosok pengarang muda Andrea Hirata mungkin bisa menjadi penerus pak Pram. Dari karyanya yang baru 3 buah, Andrea sudah bisa menunjukan bakat membuat karya-karya yang dapat menggugah jiwa pembacanya. Pak Pram yang lahir pada jaman kolonial banyak melahirkan karya-karya seputar perjuangan fisik sedangkan Andrea Hirata yang lahir di alam kemerdekaan karya-karyanya juga memotret perjuangan dalam bentuk yang lain yaitu perjuangan untuk menjadi bangsa yang maju.

Senin, 03 Maret 2008

Ramaditya

Pria yang bernama lengkap Eko Ramaditya Adikara ini pertama kali aku kenal melalui acara Kick Andy di MetroTV. Rama begitu panggilannya, memang terlahir sebagai tuna netra namun ini sama sekali tidak menghalanginya untuk melakukan berbagai hal yang biasa dilakukan orang normal, salah satunya adalah blogging. Buka cuma itu bahkan profesi Rama sebagai sound engineer sebuah perusahaan game dan jurnalis lepas menuntutnya untuk selalu berhubungan teknologi-teknologi canggih. Kok bisa? ya bisa saja sebab beberapa gadget-gadget canggih miliknya dilengkapi juga oleh sensor suara sebagai subsitusi dari tampilan visual.

Iseng-iseng aku buka website di http://www.ramaditya.com/, begitu tebuka kita langsung diberikan sebuah tampilan visual web yang sangat cantik. Harus diakui websitenya keren banget, jarang loh website Indonesia yang bisa tampil sekeren webnya si Rama ini. Sama sekali tidak menyangka kalau sang pemilik web ini adalah seorang tuna netra sebab webnya penuh dengan tampilan visual yang keren. Si Rama ini cukup pede juga mencantumkan alamat rumah, email dan bahkan no. telepon seluler pribadinya dalam halaman webnya.
Selain nge-blog dialamat diatas, dia juga punya blog lain di multiply dengan alamat http://ramaditya.multiply.com/. Blog yang dikasih judul "Ramaditya's site: Siapa bilang tunanetra tidak bisa nge-blog?" sepertinya ingin membuktikan kalau blogging itu bukan hanya milik orang-orang yang memiliki penglihatan normal saja. Buta mata bukan berarti buta teknologi. Disini ditampilkan banyak foto-foto kegiatan yang dia lakukan diantaranya syuting Kick Andy dan jalan-jalan bersama Fiersha Mamamia. Ohhh dari foto-fotonya kelihatan kalau keduanya sangat akrab sekali apalagi pas lagi jalan-jalan ke dufan. Ehmmm bisa jadi gosip baru nih....
Iseng-iseng aku kirim e-mail ke Rama dan ternyata tak perlu menunggu lama aku langsung dapat jawabannya. Wow luar biasa, teman-temanku saja yang diberikan karunia sepasang mata normal saja kadang-kadang sering lama membalas atau malah ngga ngebales sama sekali. Di dalam webnya sempat ada yang bertanya apakah dia menyesali kebutaannya, dengan sangat arif dia menjawab justru bersyukur karena ini sebuah karunia, dengan berkurangnya fungsi penglihatan maka dia akan terhindar dari berbagai dosa mata. Sebuah pelajaran berharga supaya kita selalu mensyukuri apa yang kita dapat.
Foto diambil dari : http://ramaditya.multiply.com/

Rabu, 20 Februari 2008

Madame Bovary

Kadang aku sering heran sendiri dengan kebetulan-kebetulan yang terjadi ketika membaca buku, seperti misalnya beberapa hari yang lalu ketika membaca sebuah chick-lit berjudul "The Wish List" ada seorang tokohnya yang membeli sebuah buku berjudul "Madame Bovary" dan anehnya judul buku tersebut kembali disebut-sebut dalam sebuah buku yang sekarang sedang aku baca yaitu "The General's Daughter". Menjadi kebetulan yang sangat aku ingat karena aku membaca "The General's Daughter" persis setelah membaca "The Wish List". Padahal kedua buku tersebut berasal dari 2 pengarang serta genre yang berbeda dan bahkan setting lokasinyapun di dua belahan dunia yang berseberangan. "The Wish List" adalah sebuah chick-lit karangan Melanie La'Brooy yang besetting di Australia sedangkan "The General's Daughter" adalah sebuah buku thriller berlatar belakang militer Amerika Serikat karya Nelson deMille.

Karena nama Madame Bovary ini tiba-tiba muncul secara berurutan maka aku jadi penasaran siapakah nyonya satu ini, kalau dari kesan yang aku tangkap dari kedua buku tersebut "Madame Bovary" ini seorang wanita mesum dari abad XIX. Secara penasaran aku coba googling nama Madame Bovary, ternyata ada sekitar 1.470.000 hit mengenai Madame Bovary dan sebuah link yang jelas-jelas menggunakan namanya http://www.madamebovary.com/. Dari link ini aku jadi tahu kalau Madame Bovary itu adalah sebuah novel karangan sastrawan Perancis Gustave Flaubert yang sempat menjadi kontroversi pada awal penerbitannya yaitu pada tahun 1850an. Namun walaupun mengundang kontroversi tapi "Madame Bovary" ini Disebut-sebut sebagai salah satu karya sastra yang penting dalam sejarah kesusastraan Perancis.

"Madame Bovary" mengisahkan tentang Emma Bovary seorang perempuan perancis yang sebetulnya telah menikah namun tidak merasa bahagia, untuk melupakan kesedihannya Emma Bovary melakukan hubungan terlarang dengan laki-laki lain. Sebetulnya sebuah kisah yang biasa untuk jaman sekarang namun tentu saja akan menjadi sebuah kejutan luar biasa bila kisah ini diterbitkan pada abad XIX dimana moral dan etika masih dijunjung tinggi. Pada masa itu belum ada tuh yang namanya emansipasi wanita, para istri harus nurut terhadap suami dan kegiatan para istri cuma bekerja di rumah serta menunggu suami pulang kerja atau perang. Keberanian Gustave Flaubert mengangkat kisah seorang wanita yang berselingkuh langsung menimbulkan kegegaran dalam masyarakat Perancis saat itu. Perbuatan Flaubert yang dianggap merusak moral dan etika sampai-sampai membuat sang pengarang nyaris masuk penjara, namun setelah melewati masa persidangan yang berlangsung hingga tahunan akhirnya buku "Madame Bovary" bisa beredar di masyarakat.

Tidak hanya sekedar menjadi bacaan kontroversial saja tapi "Madame Bovary" ini menjadi bukti dimana sebuah karya sastra bisa membuat sebuah perubahan besar dalam peradaban manusia. Buku "Madame Bovary" ini seolah membuka mata masyarakat Perancis saat itu bahwa tatanan sosial yang mereka anggap selama ini baik ternyata tidak senaif yang mereka bayangkan. Selain itu juga buku ini juga yang mengangkat pemikiran seputar persamaan hak antara suami istri ternyata bisa menjadi "whistle blower" terhadap issue emansipasi di Perancis. Jadi kesimpulan awalku yang dibuat berdasarkan dua buah buku yang aku baca ala seminggu ini tidak terlalu tepat, "Madame Bovary" bukanlah hanya seorang wanita Perancis abad XIX yang mesum tapi sebetulnya seorang penggerak emansipasi wanita Perancis. Ya miriplah dengan ibu Kartini di Indonesia cuma yang ini adalah tokoh fiktif.

Jadi tertarik nih pingin membaca buku "Madame Bovary" ini tapi sepertinya bakalan perlu perjuangan sebab pasti buku ini sangatlah berat. Wah sebuah tantangan baru yang harus dijadikan resolusi nih, baiklah kita cari waktu kapan aku punya libur agak lama supaya bisa konsen membaca kisah "Madame Bovary" ini.

Rabu, 13 Februari 2008

Janda Munir vs Istri Polly

Menyimak persidangan kasus pembunuhan terhadap aktivis HAM Munir yang penuh lika-liku konspirasi tingkat tinggi serta bebagai intervensi dari pihak tertentu rasanya seperti sedang membaca salah satu kisah karya John Grisham. Memang dibelahan bumi manapun kisah konspirasi pembunuhan seperti ini sudah jamak terjadi. Aku tidak akan terlalu membahas seputar persidangan yang njelimet tersebut tapi aku mau membahas secuil kisah drama romatisme yang terjadi selama persidangan tersebut. Tokoh utama dalam drama tersebut adalah 2 orang wanita yang mendadak menjadi ikutan ngetop gara-gara perbuatan suami-suami mereka. Keduanya adalah Suciwati (istri alm. Munir) dan Josepha Herawati Iswandari alias Hera (istri tersangka Pollycarpus).

Sebelum kasus ini menyeruak siapa sih yang kenal terhadap kedua wanita tersebut? Palingan hanya sanak saudara dan kaum kerabat mereka saja, tapi sekarang hampir orang se-Indonesia kenal mereka padahal mereka bukan berasal dari kalangan selebritis. Nama Suciwati muncul terlebih dahulu, ketika Munir ditemukan meninggal semua media pasti akan menyorot jandanya. Suciwati tidak rela kasus kematian suaminya menguap begitu saja, dengan gigih ia berjuang untuk menyeret para pelaku serta dalang dibalik kematian Munir. Sementara Hera baru muncul belakangan ketika sang suami Pollycarpus didakwa menjadi tersangka utama pelaku peracunan terhadap Munir. Tidak seperti kebanyakan istri-istri para tersangka tindakan kriminal yang memilih bersembunyi diluar kota atau di luan negeri, Hera dengan gagah perkasanya tetap setia mendampingi sang suami. Hampir mirip denga Suciwati, Hera juga berjuang untuk membela kebenaran yang diyakininya. Rupanya janji untuk setia pada pasangan yang mereka ucapkan waktu pernikahan dulu begitu kuat menempel pada sanubari kedua wanita tegar ini.

Selama layaknya sebuah drama tentu ada tokoh protagonis dan antagonisnya. Tokoh protagonis tentu saja menjadi milik Suciwati sebagai pihak yang menjadi korban. Ditinggal mati suami tentu sebuah pukulan berat bagi seorang istri namun Suciwati tidak larut dalam kesedihan, segala keperihan hatinya dia salurkan menjadi sebuah tekad untuk terus berjuang mengungkap segala fakta yang terkait dengan rencana pembunuhan suaminya. Tutur bicaranya yang lembut namun tegas membuat penonton TV dirumah akan jatuh hati padanya. Sementara Hera yang menjadi istri Pollycarpus sang tersangka pelaku peracunan terhadap Munir membuat posisinya menjadi sang tokoh antagonis. Peran antagonis Hera makin sempurna dengan gaya bicaranya yang keras dan cenderung emosional belum lagi kadang-kadang ia sering memaki wartawan sehingga membuat sosoknya jadi sulit dicintai penonton. Dan kebetulan pula nama kedua wanita tersebut sudah dapat mewakilkan peran yang mereka mainkan. Si protagonis bernama Suciwati, Suci biasanya berasosiasi dengan sesuatu yang sangat baik dan tidak ternoda, misalnya saja tanah suci atau orang suci. Sedangkan nama Hera segera mengingatkan aku tokoh antagonis dalam mitologi Yunani, Hera ibu tirinya Hercules mempunyai sifat sangat jahat dan selalu berusaha membunuh sang anak tiri dengan berbagai cara.

Tak jarang kedua wanita ini bertemu muka dalam persidangan, memang sih mereka tak pernah berkonflik terbuka secara langsung namun tak jarang keduanya berperang statement melalui media. Mungkin sekali-kali perlu juga keduanya dipertemukan dalam sebuah acara debat di stasiun TV pastinya akan seru dan penuh emosi terutama dari pihak Hera. Untuk acara debat seperti ini aku meyakini kalau Suciwati yang tenang dan nampak lebih cerdas akan menang lawan Hera. Kalau ada pemilihan "Istri Tersetia" diantara keduanya, dengan tidak bermaksud mengecilkan perjuangan Suciwati dalam mencari kebenaran, saya cenderung memilih Hera sebagai juara istri tersetia. Hera memang nampak jadi tokoh antagonis namun ketegarannya dalam membela kehormatan sang suami perlu diacungin jempol. Bayangkan saja bagaimana rasanya menjadi seseorang yang dicap jadi istri pembunuh, kalau ngga kuat mental bisa-bisa seorang wanita akan tega meninggalkan suaminya dengan pertimbangan hidup akan lebih mudah jadi janda daripada hidup dalam cercaan negatif masyarakat. Tapi menghianati suami bukan pilihan Hera. Dan satu lagi yang perlu diingat, Suciwati selalu mempunyai pendukung dari kalangan aktivis HAM dan teman-teman seperjuangan Munir sedangkan Hera nyaris berjuang sendirian.

Minggu, 03 Februari 2008

Tweety

Siapa sih yang ngga kenal dengan Tweety si tokoh kartun yang berbentuk burung kenari berwarna kuning, memiliki kepala dan kaki yang berukuran besar tapi badannya kecil. Seperti umunya burung, si tweety ini juga punya sayap tapi sayapnya berukuran seperti badannya, yang kecil. Ajaibnya walaupun sayapnya sangat kecil dibandingin dengan kaki dan kepalanya, si Tweety ini tetap masih bias terbang, kalau tidak sedang terbang , sayapnya iini berubah jadi tangan. Sungguh aneh tapi nyata masak ada burung dengan proposi tubuh yang tidak seimbang seperti si Tweety ini bias terbang… Ya namanya juga tokoh kartun, sah-sah aja lagi yang penting lucu dan disukai oleh orang-orang.

Tweety adalah tokoh kartun karya anggota keluarga Looney Toons karya Warner Bros. Dulu aku begitu memvenci tokoh kartun satu ini sebab si Tweety ini sering carmuk terhadap Granny. Kalau sedang bertengkar dengan si kucing jahil Sylvester, Granny pasti akan membela Tweety padahal belum tentu si Sylvester yang membuat gara-gara. Tapi ketika jaman kuliah dulu, pada saat ulang tahunku beberapa orang teman memberikan kado celana dalam sexy bergambar Tweety dalam pose yang sok imut. Aku langsung mengutuk-ngutuk teman-temanku sebab sebetulnya mereka tahu kalau aku benci sekali terhdap Tweety tapi mereka sengaja membelikan celana dalam bergambar Tweety, katanya supaya aku menjadi dekat dengan Tweety. Walaupun aku benci sekali tapi aku terpaksa memakai celan dalam tersebut sebab mereka mengancam akan memusuhi aku kalau celana dalam tersebut tidak pernah aku pakai.
Mungkin karena si Tweety ini menempel begitu dekatnya dengan bagian paling pribadi dari tubuhku, lama kelamaan rasa benciku terhadap Tweety makin meluntur bahkan sekarang aku berubah jadi penggemar Tweety. Aku mendapatkan ide menulis blog tentang Tweety ini ketika sedang mengenakan celana piyama yang bergambar Tweety. Kalau diperhatikan sosok Tweety ini memang menggemaskan.

Semula aku pikir si Tweety yang bersosok manis dengan bulu mata lentik ini berjenis kelamin betina tapi ternyata dia itu berjenis kelamin jantan. Damn…jadi selama ini si Tweety ini dengan bebas bias mengintip bagian intimku, memang dasar teman-temaku itu kurang ajar sekali… Tapi ngga apa-apa, si Tweety ini kan tokoh kartun anak-anak jadi dia ngga punya hasrat seksual. Tweety si jantan yang berpenampilan seperti betina dengan tampang sok imut dan bulu mata super lentik mengingatkan aku dengan tokoh madam dalam acara sampah di Indosiar "Supermama". Bedanya kalau Tweety imu-imut, si madam IG amit-amit persis seperti acaranya.

Jumat, 23 November 2007

Ibu Lelly dan IBu Kurni - Pendekar Bahasa Indonesia

Setiap kali mengalami kesulitan dalam menyusun sebuah kalimat ketika membuat tulisan dalam blog aku jadi teringat kepada dua orang guru bahasa Indonesia yang pernah mengajar aku, tanpa bermaksud mengesampingkan peran guru bahasa Indonesia lain yeng pernah mengajariku. Keduanya adalah ibu Lelly Yulianti Spd guru bahasa Indonesia di SMA dan ibu Kurni Setyawati Spd MM dosen bahasa Indonesia waktu kuliah dulu. Yang membuat aku selalu ingat kepda mereka karena keduanya selalu menekankan prinsip kalau pelajaran bahasa Indonesia sangat perlu dan tidak kalah penting dengan pelajaran fisika, matematika atau bahasa Inggris. Maka tidak heran kalau ditangan mereka pelajaran bahasa Indonesia juga jadi serumit pelajaran fisika.
Bu Lelly sangat menyukai sastra sehingga sering kali aku mendapatkan tugas mengarang puisi dan menyusun sebuah prosa. Atau tidak jarang kita diberikan tugas untuk menganalisa makna dari suatu puisi karya sastrawan terkenal yang kata-katanya bersayap-sayap dan "ajaib". Sebagian besar siswa SMAku yang memang jago di bidang eksakta sering kali mati kutu dalam pelajaran bahasa Indonesia, mereka bilang mendingan menganalisa soal-soal fisika daripada disuruh menganalisa puisi. Aku yang dari SD dulu tidak menyukai pelajaran mengarang atau kegiatan tulis-menulis lainnya tentu saja sangat membenci pelajaran bahasa Indonesia saat itu. Jadi ngga heran kalau nilai bahasa Indonesiaku ketika jadi muridnya bu Lelly sangat minim bahkan kalah oleh nilai matematikaku. Memang benar nasihat orang-orang yang bilang jangan terlalu benci nanti malah cinta buktinya sekarang aku jadi gemar menulis di blog.
Bu Kurni lain lagi modelnya, beliau ini boleh dibilang sebagai polisi bahasa karena sangat menjunjung tinggi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah perbahasaan yang berlaku. Tidak jarang dalam bu Kurni sering mengkoreksi langsung penggunaan bahasa mahasiswa yang salah ketika berbicara, mungkin bu Kurni sangat mengidolakan Pak Jus Badudu. Bu Kurni memang tidak terlalu menyukai sastra seperti bu Lelly namun bukan berarti aku bisa bernafas lega lantaran bu Kurni punya hobi memberikan tugas yang nampak sederhan namun sebetulnya susah yaitu menjelaskan arti suatu kata. Contohnya seperti "becak" yang bila di deskripsikan menjadi "Alat transportasi beroda tiga yang digerakan oleh tenaga manusia dengan cara dikayuh". Untuk mendeskripsikan kata benda masih gampang karena bisa kita bayangkan bentuknya yang susah kalau sudah harus mendiskripsikan kata sifat atau kata kerja. Biasanya kalau mendapat tugas seperti ini para mahasiswa berbondong-bondong mengunjungi perpustakaan untuk menyontek kamus besar bahasa Indonesia. Saat itu aku sering bersungut-sungut sendiri karena sebagai bukan mahasiswa jurusan sastra Indonesia kenapa harus sebegitu seriusnya belajar bahasa Indonesia. Sama seperti waktu diajar bu Lelly, nilai mata kuliah bahasa Indonesiaku juga minim tapi syukurlah masih dapet C jadi tidak perlu mengulang lagi.
Ada lagi kesamaan antara bu Lelly dan bu Kurni yaitu mereka berdua sama-sama sangat keras dalam menegakan disiplin para siswa. Jangan harap bisa masuk kelas apabila datang terlambat ketika pelajaran bahasa Indonesia walau hanya beberapa menit saja sehingga keduanya jadi cukuip disegani. Mungkin karena keduanya sangat disiplin sehingga karir keduanyapun tidak hanya jadi sebatas guru atau dosen saja namun juga menduduki posisi yang lumayan tinggi di institusi pendidikannya yang anehnya agak-agak mirip. Bu lelly menjabat sebagai Wakasek atau Wakil Kepala Sekolah sedangkan bu Kurni adalah Purek atau Pembantu Direktur. Pembantu Direktur di tempat kuliahku dalah jabatan yang sama seperti Pembantu Rektor di Perguruan Tinggi lain. Entahlah apa hubungannya antara penggunaan bahasa Indonesia yang baik dengan kedisiplinan dan kelancaran karirtapi begitulah kenyataannya.
Dulu aku memang membenci setengah mati pelajaran bahasa Indonesia dibawah bimbingan kedua guru tersebut tapi sekarang justru aku menyesal karena dulu aku tidak begitu serius menyimak pelajaran mereka. Seandainya dulu aku mau lebih bekerja keras dalam pelajaran bahasa Indonesia bu Lelly yang mengagungkan sastra tentunya isi blogku saat ini pasti bisa lebih indah untuk disimak serta lebih kaya dengan bahasa yang lebih puitis. Dan begitu juga kalau mata kuliah bahasa Indonesia bu Kurni lebih aku simak maka penggunaan bahasa Indonesiaku dalam blogku ini lebih benar yang terangkai dalam susunan kalimat yang rapi dengan mengikuti kaidah SPO.

Kamis, 22 November 2007

Dorce - Penghibur Tergokil

Sudah aku bilang kalau minggu ini temanya Ladies Week dan sekarang aku juga akan membahasa seorang "perempuan " penghibur paling top di Indonesia yaitu Dedi Yuliardi Ashadi alias Dorce Gamalama. Baiklah seharusnya tanda petiknya sudah dibuang karena Dedi Yuliardi Ashadi sekarang sudah tidak ada lagi dan secara resmi telah bertransformasi jadi Dorce Gamalama. Dorce ini memang betalenta besar seagai entertainer sejati dia bisa jadi penyanyi, pemain film bahkan pembawa acara. Sebagai penyanyi Dorce pandai menyanyikan lagu apa saja mulai dari dangdut sampai lagu mandarin. Main film pernah di lakoni pada awal karirnya. Namun yang paling sering sekarang ini sebagai pembawa acar Talkshow yang berjudul "Dorce Show" dan acara wisata berjudul "Dorce Jalan-Jalan".

Menurutku kegiatan Dorce yang paling menarik adalah sebagai pembawa acara "Dorce Jalan-Jalan" yang biasa ditayangkan setiap hari minggu pukul 9.30 pagi. Biasanya sepulang gereja aku sarapan aku menonton acara tersebut, pada mulanya cuma iseng-iseng karena pada jam tersebut di TV lain tidak ada acara lain yang lebih yang bagus. Lama-lama aku malah jadi tertarik lantaran acara jalan-jalan yang dipandu Dorce ini lain daripada acara wisata sejenis. Yang membedakannya tentu saja sang pembawa acara, Dorce, yang berani tampil gila-gilaan. Mana ada pembawa acara waras lain yang bisa setampil segila Dorce tapi tetap enak untuk dilihat. Apalagi kalau ada acaea cicip-mencicip makanan, Dorce tanpa malu-malu sering menyantap makanan tersebut dengan gaya bebas seperti layaknya makan di rumah. Dorce juga sering mengaku kalau dia sangat doyan jengkol dan petai, pada sebuah episode ke Thailand ada acara jalan-jalan ke pasar tradisional disana dan rupanya ada penjual sayur yang menjual petai, Dorce langsung kalap membeli petai yang ukurannya seperti layaknya buah-buahan Thailand lainnya "bangkok" juga. Dorce ternyata ngga cuma berani gokil di Indonesia saja bahkan ketika jalan-jalan keluar negeripun di tak sungkan-sungkan melakukan berbagai kegilaannya.
Perjalanan ke daerah juga ngga kalah seru karena sering kali Dorce yang gemar jalan-jalan sendiri sering ini disambut secara meriah oleh penduduk sekitar, mungkin orang daerah jarang bertemu selebtitis secara langsung jadi begitu tiba-tiba melihat sosok yang selama ini hanya mereka saksikan di TV ya jelas saja bakalan heboh. Si gokil Dorce juga sering membuat repot krunya dengan kebiasaan ajaibnya yaitu menyetop kendaraan terutama mobil bak terbuka dan menaikinya. Setelah naik keatas mobil biasanya Dorce akan melambai-lambai tebar pesona. Atau kadang-kadang dia sering jalan-jalan sendiri di pinggir jalan, hal ini kontan menaik perhatian penduduk sekitar yang berebut menyalaminya, ujung-ujung kelakuan Dorce ini bisa bikin macet jalanan di tempat itu. Dorcejuga tidak cuma mengajak jalan-jalan penonton ke obyek wisata saja namun kadang-kadang kita juga akan diajak ke tempat lain yang tak pernah terbayangkan sebelumnya seperti pasar ikan. Wakti itu episode jalan-jalan di seputar Jakarta dan saking udah buntunya mencari ide mau kemana, Dorce mengajak penonton untuk nelihat tempat pelelangan ikan yang becek dan sepertinya sanga bau amis. Dalam kehidupan nyata tentunya sebagian besar penonton tidak akan pernah membayangkan akan ketempat itu berkat Dorce kita jadi tahu kegiatan yang berlangsung di tempat pelelangan ikan. Walaupun berada di pasar ikan yag becek dan bau, Dorce tetap saja gokil dengan menyanyi dangdut sambil joget di tengah-tengah pasar ikan dan alhasil kegiatan pelelangan ikan saat itu langsung terganggu karena seisi pasar sibuk menonton aksi Dorce. Itlah serunya nonton acara jalan-jalan ala Dorce, semuanya jadi serba meriah.

Acara jalan-jalan gokilnya Dorce itu juga sekarang mulai ditiru beberapa acara sejenis di TV lain bahkan pakai pembawa acara bule segala tapi tetap tidak ada yang sebagus Dorce bahkan kesannya terlalu berlebihan. Aku yakin gayanya Dorce yang asli gokil tapi bertalenta besar ini bisa membuat dirinya bertahan lama di industri hiburan Indonesia.

Rabu, 21 November 2007

Nisrina Nur Ubay - Guru Bahasa Inggris Kita


Bagi mereka yang mengalami masa TV hanya satu pilihan yaitu TVRI pasti masih ingat denga sosok seorang wanita paruh baya yang menjadi pembawa acara pelajaran bahasa Inggris di TVRI dulu, namanya adalah Nisrina Nur Ubay. Acara pelajaran bahasa Inggris ini dibawakannya bergantian dengan Bapak Anton Hilman. Aku ingat waktu itu masih sekolah TK dan SD, sebetulnya aku ngga ngerti juga dengan acara pelajaran bahasa Inggris yang dibawakannya maklum anak jaman dulu kan ngga seperti anak jaman sekarang yang dari sebelum TK udah diajarin bahasa Inggris. Walaupun aku ngga ngerti tapi penampilan bu Nisrina yang cukup trendy untuk ukuran jaman itu bikin aku senang menyimaknya. Gaya rambut keriting mekar, blouse berenda dan kacamata sebesar tatakan gelas yang biasa dikenakan bu Nisrinah jelas lagi in banget di dunia permodean tahun 80an. Dalam bayanganku waktu itu penampilan bu Nisrina mirip penampilan seorang sekretaris ideal, yang menurut aku saat itu adalah profesi bergengsi bagi seorang wanita selain pramugari dan polwan. Secara memang ngga ngerti juga dengan acaranya jadi aku ngga bisa terlalu banyak komen soal acara bahasa Inggris yang dibawakannya di TVRI namun nampaknya beiau sangat menguasai bidang yang ditanganinya itu. Sempat juga bu Nisrinah mengisi kolom pelajaran bahasa Inggris di majalah entah Bobo atau Kawanku (aku tidak begitu ingat pasti namun salah satu diantara keduanya).

Gimana ya kabarnya Bu Nisrina sekarang ini? Coba cari tahu informasinya di internet tapi tidak ada yang menceritakan kegiatan beliau saat ini. Padahal program seperti pelajaran bahasa Inggrisnya ibu Nisrinah itu masih perlu lho, mungkin buat anak-anak kota yang dah jago bahasa Inggrisnya tidak akan tertarik tapi masih berguna untuk turut mencerdaskan anak-anak di desa yang belum ada lembaga kursus bahasa Inggrisnya. Lagipula program pendidikan seperti ini lebih bermanfaat daripada acara sinetron busuk perusak moral. Selain berguna bagi anak-anak desa juga berguna bagi para pramuwisma atau siapa saja yang ingin memperbaiki nasib dengan bekerja di luar negeri sebagai TKW/TKI. Paling ngga dengan mengerti bahasa Inggris sedikit-sedikit para pekerja migran kita ini tidak akan dibodohi oleh agen atau majikannya. Selain itu Puteri Indonesia yang bakalan ikut kejuaraan kecantikan sedunia atau Miss Universe Pageant juga harus diberilan kursus privat langsung bersama bu Nisrina supaya ngga malu-maluin lagi nyebut Indonesia is a beautiful city.

Tapi sebetulnya yang perlu pelajaran bahasa Inggris dari Ibu Nisrina Nur Ubay bukan cuma anak-anak di desa atau calon TKI ataupun calon peserta miss Universe tapi juga seluruh rakyat Indonesia termasuk para pejabatnya yang ngaku udah jago bahasa Inggris. Contoh paling nyata adalah istilah busway. Di Jakarta ini ada sebuah moda transportasi baru yang berbentuk semacan bus namun mempunyai jalur sendiri. Nama resminya sebetulnya adalah bus Transjakarta tapi lebih populer dengan sebutan busway, sehingga nama jalan khususnya itu adalah jalur busway... Bu Nisrina kebingungan berat lantaran menurut sepengetahuannya busway berarti jalur bus tapi kenapa jadi nama angkutannya??? Kuatir dirinya telah pikun, bu Nisrina segera menelepon rekan sesama pembawa acara program bahasa Inggris di TVRI dulu yaitu Bapak Anton Hilman namun Pak Anton pun ikut bingung juga. Karena penasaran beliau pergi ke Gramedia untuk mencek isi semua kamus Inggris-Indonesia mulai dari yang mahal hingga yang termurah untuk mengetahui apakah kata "way" itu sekarang punya arti baru. Ternyata menurut semua kamus yang ada di Gramedia kata "way" masih bekutat seputar jalan atau jalur atau cara. Lantaran semua orang termasuk sang pengagas moda transportasi baru ini menyebut kendaraan tersebut sebagai busway akhirnya Bu Nisrina menyerah, beliau menyimpulkan kalau busway artinya bus yang punya jalur (way) nya sendiri.

Kalau bu Nisrina baca blog ini juga beliau akan terkakak-kakak mentertawakan penulisnya yang kadang-kadang suka menggunakan instilah dalam bahasa Inggris yang tidak tepat penggunaannya. Maka dari itu aku sengaja tidak memasang foto bu Nisrina karena malu terhadap beliau...

Selasa, 20 November 2007

Pratiwi Sudarmono - Almost Astronaut

Beberapa bulan lalu negara tetangga kita tercinta Malaysia berhasil menempatkan salah seorang warganya di sebuah program luar angkasa atau singkatnya jadi astronot. Tambahan satu poin kemenangan lagi buat Malaysia atas Indonesia. Tapi sebetulnya jauh sebelum ini tepatnya 17 tahun lalu atau tahun 1985 Indonesia juga memiliki kandidat astronot dan hebatnya lagi kandidat dari Indonesia ini adalah seorang wanita yaitu Dr. Pratiwi Sudarmono. Sebetulnya masih ada seorang Indonesia lagi yang jadi yaitu Taufik Akbar namun kandidat utamanya yaitu Dr. Pratiwi.


Keterlibatan ibu Pratiwi dalam program luar angkasa ini atas kerjasama dengan NASA dalam rangka peluncuran satelit kebanggaan Indonesia, Palapa, beserta beberapa satelit lain dari berbagai negara. Rencananya misi diluncurkan pada musim panas tahun 1986 dengan menggunakan pesawat ulang alik Columbia. Ketika itu berita ini menjadi bahan perbincangan dimana-mana dan para kaum wanita saat itu sangat berbangga sekali bahkan sampai-sampai ibu Pratiwi Sudarmono ini disebut-sebut sebagai kartini modern. Aku yang waktu itu masih duduk di kelas 2 SD ikutan berbangga juga atas prestasi ibu Pratiwi ini hingga kalau ditanya besok gede mau jadi apa, aku langsung jawab mau jadi astonot biar bisa jalan-jalan ke bulan ho... sungguh cita-cita agung yang setinggi langit dalam arti yang sebenarnya. Tapi teman laki-laki di kelasku seolah tidak rela kalau calon astronot Indonesia yang utama adalah wanita bukan pria sehingga bila anak-anak perempuan sibuk membahas tentang pahlawan baru mereka ini anak laki-laki sering memberikan komentar-komentar miring.




Namun nasib berkata lain, sebelum penerbangan ke luar angkasa nya Ibu Pratiwi terlaksana sebuah musibah menimpa NASA yaitu salah satu pesawat ulang aliknya, Challenger, meledak tak lama setelah uplifted. Akibat kejadian ini, NASA membatalkan sejumlah proyek luar angkasanya termasuk program yang akan diikuti Dr. Pratiwi. Misi yang tertunda tersebut akhirnya batal karena NASA memilih untuk tidak menggunakan pesawat ulang alik lagi untuk membawa satelit sehingga otomatis gagal pula cita-cita ibu Pratiwi untuk jadi astronot pertama Indonesia. Bahkan sampai sekarang belum ada lagi orang Indonesia yang bisa mengikuti jejak prestasi Ibu Pratiwi bahkan akhirnya kita malah tersusul oleh tetangga kita yang norak itu Malaysia. Apakah orang Indonesia kalah pintar daripada orang Malaysia? Maaf Pa'Cik tidak juga sebab setelah kejadian meledaknya Challenger, NASA lebih memprioritaskan riset ilmiah yang tidak gratis. Diperlukan biaya sekitar 100-200 juta Dollar yang harus dikeluarkan negara yang mau berpartisipasi. Iyalah bagi Indonesia yang masih miskin kayanya sangat tidak pantas mengeluarkan biaya sebegitu besar hanya untuk sebuah prestisius semata.




Lalu kemanakah dr. Pratiwi sekarang? Rupanya sekarang beliau mengabdikan diri sebagai peneliti di bidang mikrobiologi di almamaternya Universitas Indonesia. Ibu Pratiwi tidak kecewa gagal terbang ke angkasa karena ada wanita Indonesia lain ternyata yang bisa terbang ke bulan yaitu Memes dengan lagunya "Pesawatku terbang ke bulan" hebaaat...hebaaat...




Sumber :






Senin, 19 November 2007

Titie Said - Ratu Film Indonesia

Kalau aku ditanya siapa ratu perfilman Indonesia? aku tidak akan menjawab Titi Kamal, Nia Dinata atau Christine Hakim tapi Titie Said... Siapa ya Titie Said? Kalau anda nonton bioskop sebelum film diputar selalu ada pernyataan dari Lembaga Sensor Film kalau Film tersebut telah lolos sensor dan perhatikanlah dibagian bawahnya selalu ada tanda tangan Titie Said sang ketua Lembaga Sensor Film. Beliaulah ratu film sesungguhnya karena diputar atau tidaknya sebuah film baik lokal maupun film impor berada dalam tangannya. Kalau Ibu Titie tidak suka dan tidak mau menandatangani pernyataan lulus sensor maka jangan harap film tersebut akan bisa beredar secara legal di bioskop-bioskop Indonesia. Nia Dinata boleh saja bikin film secanggih apapun atau Christine Hakim yang sudah kondang hingga keluar negeri namun tetap saja nasib mereka di Indonesia ini tetap ditentukan oleh Ibu Titie Said ini.


Setiap kali nonton film di bioskop sebelum film diputar aku selalu menemukan nama beliau terpampang di layar walaupun hanya beberapa detik saja. Ini telah aku perhatikan sejak bertahun-tahun. Sebagai penggemr film aku sering merasa kalau Ibu Titie Said ini sebagai orang paling beruntung di Indonesia karena beliau lah menjadi orang pertama yang melihat film-film yang akan beredar di bioskop. Keberuntungan ditambah lagi dengan dapat menyaksikan film secara utuh karena beliaulah yang akan menggunting adegan-adegan yang dirasa verboden ditonton masyarakat. Dalam alam fantasi liarku kadang sering kubayangkan kalau aku jadi Ibu Titie Said akan kukoleksi beberapa adegan yang kena sensor seperti misalnya adegan yang memperlihatkan pantat kencang Brad Pitt di film Troy. Tapi dalam kehidupan nyata seperti tidak mungkin Ibu Titie melakukan hal tersebut wong gambar pusar Fauzi Baadilah di poster film 9 naga aja kena sensor atau jangan-jangan malah sengaja kali ya supaya bisa menikmati keindahan perut sixpack Fauzi sendirian tanpa perlu membaginya dengan masyarakat umum.


Saat ini lembaga yang dipimpin bu Titie ini sedang mengalami gelombang protes dari para pekerja film Indonesia karena mereka menuduh Lembaga Sensor Film sering mematikan karya seni mereka sehingga para pekerja film Indonesia ini menuntut DPR untuk membubarkan LSF. Memang sih kadang-kadang LSF ini seperti tebang pilih, ada beberapa film yang dilarang beredar karena ada adegan yang dilarang namun di pihak lain ada juga film lain yang bisa beredar walaupun menampilkan adegan yang sama. Namun menurut aku sih lembaga sensor film masih sangat diperlukan karena walau bagaimanapun harus tetap perlu ada suatu badan yang mengawasi film-film yang akan beredar di masyarakat. Kalau badan semacam LSF ini sampai hilang bisa jadi layar bioskop Indonesia akan dibanjiri film-film sampah semacam filmnya Inneke Koesherawati dulu sebelum dia tobat. Aku ngga tau apakah LSF juga menyensor sinetron Indonesia? sebab semua orang juga tau kalau sinetron Indonesia itu dipenuhi sinetron-sinetron sampah yang dibuat tanpa menindahkan moralitas. Malah seharusnya sensor sinetron lebih ketat daripada sensor film bioskop sebab sinetron kan ditayangkan di layar TV secara bebas sehingga bisa ditonton siapa saja termasuk anak kecil yang tak didampingi orangtuanya. Berbeda dengan bioskop yang hanya dapat dimasuki oleh orang-orang tertentu saja. Mungkin Bu Titie Said perlu juga untuk membentuk badan serupa LSF yang khusus untuk mensensor sinetron, bisa dinamakan sebagai Badan Sensor Sinetron. Rasa-rasanya kerja LSS akan lebih berat daripada LSF karena sinetron Indonesia jumlah sangat banyak sekali.


Seandainya ada program pertukaran profesi maka aku ingin mengajukan diri untuk bertukar posisi dengan Ibu Titie Said ini. Wah rasanya pasti menyenangkan sekali bisa bekerja yang sesuai hobi. Kalau aku jadi Ibu Titie Said seluruh film horor akan aku sensor sebab aku benci film horor yang sering bikin aku kaget. Dan aku ngga akan menyensor segaal bentuk keindahan tubuh manusia seperti misalnya perut sixpack Fauzi Baadilah.

Minggu, 18 November 2007

Bu Siti - Menteri Talkshow


Kalau bulan lalu aku pernah tanpa sengaja hampir setiap hari menampilkan tulisan-tulisan yang berbau horror sehingga aku sebut saat itu sebagai Halloween Week maka kali ini dengan sengaja aku ingin menulis seputar perempuan-perempuan yang menarik perhatianku. Untuk kali ini kita sebut saja sebagai "Ladies Week". Setelah kemarin diawali oleh pembahasan mengenai buku memoir Meutya Hafid selama diculik di Irak maka kali ini aku akan membahas menteri favoritku yaitu Ibu Menkes. Diantara jajaran menteri sekarang yang sebagian nama maupun tampangnya tidak terlalu aku kenal ada sesosok menteri yang menurutku paling menarik yaitu Siti Fadilah Supari sang Menteri Kesehatan. Dalam tulisanku dalam blog ini sebelumnya aku pernah bilang kalau ibu menkes itu termasuk manusia narsis tapi bukan itu saja alasanku untuk membahasa beliau dalam blogku kali ini.


Secara pribadi aku memang tidak kenal beliau namun sejak pertama kali muncul sebagai menteri, ibu ini telah menarik perhatianku karena dalam kondisi atau acara apapun rambut bu Menkes ini selalu terlihat rapi jail. Berambut tebal dan hitam, bu Siti nampaknya mempunyai hait stylist sendiri yang siap setiap saat untuk menata rambutnya sehingga hampir tidak pernah rambutnya nampak awut-awutan walaupun berada di tengah kamp pengungsi rambut Bu Siti tetap akan terlihat tetap tersasak rapi.


Selain perkara rambut yang ciamik itu, Bu Siti menurutku juga punya wajah yang ramah penuh senyum dan cenderung jenaka, sangat jauh dari kesan serius yang biasanya dimiliki para politikus. Melihat sosok Dr. dr. Siti Fadilah Supari, SP. JP (K) ini segeralah terbayang wajah ibu dokter yang disenangi oleh para pasien. Sekali lagi saya tidak mengenal beliau secara pribadi namun hanya bayangan saja dari luar kalau bu dokter Siti ini adalah tipe dokter yang ramah terhadap pasien dan bukan ngga mungkin termasuk dokter yang tidak segan untuk bergosip ria dengan pasien.


Baiklah kita tinggalkan masalah praduga yang hanya khayalanku saja. Seperti yang pernah aku bahas sebelumnya kalau Bu Menkes ini sedah cukup lama punya acara talkshow sendiri yang ditayangkan beberapa stasiun TV termasuk MetroTV. Topik yang dibahas dalam acara yang dinamakan B4M (Bincang-Bincang Bareng Bu Menkes) ini tentunya tidak jauh dari masalah kesehatan. Memang aku pernah menyebutnya narsis namun apa yang dilakukan bu Siti ini merupakan terobosan baru dari seorang menteri yang ingin mendekatkan diri dengan masyarakat. Pendekatan yang dilakukan bu Menkes ini diupayakan agar tidak kaku seperti program-program propaganda pemerintah orba di TVRI dulu. Aku memang tidak rutin menonton tapi aku pernah beberapa kali melihat tayangan B4M ini kalau lagi tidak ada acara bagus di TV lain. Prasangka saya kalau bu Menkes ini orangnya kocak sungguh terbukti di acara ini apalagi B4M ini juga dipandu oleh dua orang kocak juga yaitu Kelik dan Denny Chandra. Pada B4M walaupun sebetulnya bu Siti sebagai Menkes pastinya memiliki pengetahuan seputar kesehatan yang sangat luas namun disini kadang-kadang memposisikan dirinya sebagai nasyarakat awam dengan memberikan beberapa pertanyaan seputar masalah kesehatan kepada nara sumber yang kompeten di bidangnya. Tak jarang pertanyaan bu Siti sangat naïf cenderung lucu. Dilain waktu Bu Siti berlaku seperti seorang guru yang sedang mengetes kemampuan anak buahnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Yang kocak sering kali bu Siti berdebat ria dengan para pemandu acara yang memang berlatar belakang pelawak.


Rupanya bu Siti ini memang termasuk Menteri akademisi bukan politisi sehingga beliau benar-benar fokus menjalankan tugasnya sebagai menteri dan tidak seperti sebagian besar menteri lain yang lebih mengurusi masalah kepentingan kekuasaan parpolnya saja. Memang sih masih banyak pe-er masalah kesehatan yang belum tuntas diselesaikan bu Siti namun paling tidak bu Siti telah menunjukan niat dan kemauan untuk benar-benar melayani masyarakat. Maka dari itu bu Siti aku jadikan menteri favoritku saat ini.