Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nyata. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 September 2008

Balap F1 dari sirkuit Monza, Italy, semalam memang luar biasa. Akibat hujan yang beberapa hari ini turun di kota Milan ini membuat sirkuit menjadi basah sehingga kedasyatan mobil-mobil cepat menjadi sia-sia saja. Balap di kondisi sangat basah yang sangat diperlukan adalah kecermatan tim menyusun taktik serta skill, kenekatan dan yang terutama adalah faktor keberuntungan. Makanya tidak heran pada balapan hujan sering muncul juara kejutan atau istilahnya "from zero to hero".


Rupanya Dewi Fortuna di sirkuit Monza memilih untuk berpihak kepada tim kelas dua Toro Rosso. Toro Rosso yang berarti Banteng Merah adalah tim "kelas dua" dari tim peserta F1 lainnya yaitu Red Bull. Selain itu kekelas duaan Toro Rosso makin terihat dari mesin yang mereka gunakan adalah bekas mesin mobil ferarri beberapa musim lalu. Monza. Melalui pembalap SebastianVettel, Toro Rosso sukses menempati podium pertama di sirkuit yang sebetulnya adalah homebase Ferarri. Kegemilangan Toro Rosso sudah terlihat dari sesi kualifikasi dimana Vettel berhasil menjadi pole position seater termuda sepanjang sejarah F1. Begitu sesi kualifikasi berakhir dan dipastikan catatan waktu Vettel di Q3 tidak ada yang menandingi, kontan saja terjadi pesta di kubu Toro Rosso.


Keesokan harinya, Vettel dan Toro Rosso membuktikan kalau keberhasilan menempati pole position di Monza bukan sekedar kemujuran belaka dengan menjuarai balapan dengan sangat gemilang.Otomatis setelah menjadi pole position termuda, Vettel juga mencatatkan dirinya sebagai juara GP termuda dengan menumbangkan rekor milik Fernando Alonso.


Mungkin Enzo Ferarri diatas sana sedang bercanda dengan mengirimkan tuahnya melalui perantaraan Dewi Fortuna kepada tim Banteng Merah ini untuk menjadi juara di sirkuit miiknya. Bagaimana nasib kakak-kakak Toro Rosso? Ferarri sang penguasa sah Monza hanya sanggup menempatkan Felipe Massa di tempat ke-6. Sedangkan penampilan kakak kandung Toro Rosso sendiri yaitu Red Bull melempem bagaikan kerupuk kena hujan dengan hanya sanggup finish ke-8. Padahal Mark Webber dari Red Bull cukup gemilang pada saat kualifikasi hingga mendapatkan posisi start ke-3.


Melihat suasana podium Monza kemarin serasa Dejavu beberapa tahun lalu saat lagu kebangsaan Jerman disandingkan dengan lagu kebangsaan Italy. Di musim balap 5 tahun kedua lagu kebangsaan tersebut begitu begitu sering terdengar hingga membuat muak penonton melalui Michael Schumacher dan Ferarri yang terlalu mendominasi sepanjang musim balap. Kali ini rasanya mendengar paduan kedua lagu kebangsaan tersebut menjadi sangat indah karena berhasil dilantunkan kembali oleh pembalap dan tim yang sama sekali tak pernah diperhitungkan untuk menjuarai sebuah balapan GP.

Senin, 01 September 2008

Masihkah 108 Dapat Dipercaya?

Pada hari Jumat tanggal 29 Agustus 2008 sekitar jam 6an sore saya ada keperluan untuk menghubungi penyedia jasa pengiriman Pahala Kencana yang berlokasi di Matraman, Jakarta. Karena memang belum tahu nomor teleponnya secara pasti dan saya juga tidak memiliki buku Yellow Pages Jakarta maka saya menghubungi layanan 108 Jakarta. Petugas yang mengangkat telepon saya saat itu menginformasikan kalau no. telp. Pahala Kencana di Matraman adalah 8509***. Namun ketika saya hubungi no. tersebut, ternyata itu adalah no. telp. Hotel Grand Menteng yang memang berlokasi di Matraman juga. Saya kembali menghubungi 108 Jakarta dan mendapatkan no. yang berbeda dengan sebelumnya yaitu 8190***. Segera saya hubungi no. telepon tersebut namun ternyata no. tersebut tulalit. Untuk ketiga kalinya saya kembali menghubungi layanan 108 Jakarta dan kembali saya mendapatkan no. yang berbeda dengan sebelumnya yaitu 8194***. Kali ini saya tak lupa menanyakan selain nomor ini apakah ada nomor lain, sang petugas dengan yakin memberitahukan kalau itu adalah satu-satunya nomor telepon Pahala Kencana yang terdaftar di Telkom. Dan untuk ketiga kalinya saya mendapatkan kekecewaan karena nomor tersebut adalah sebuah nomor untuk fax.


Kecewa dengan layanan 108 yang telah 3 kali memberikan nomor telepon yang salah maka saya memilih untuk mencari tahu nomor telepon yang saya maksud itu melalui mesin pencari Google di internet. Ternyata cara ini jauh lebih efektif karena saya segera bisa mendapatkan nomor telepon yang benar hanya dalam hitungan detik saja.


Saya jadi bertanya-tanya seperti apakah system database Telkom Jakarta kalau memberikan informasi no telepon saja bisa salah hingga 3 kali. Kalau untuk mencari nomor telepon sebuah perusahaan yang cukup besar seperti Pahala Kencana tentu bisa ditengok di internet namun bagaimana kalau yang dicari itu adalah nomor telepon rumah perseorangan? Padahal tak semua orang punya akses internet.

Sabtu, 09 Agustus 2008

Pembukaan Olimpiade

Ada yang menonton upacara pembukaan olimpiade Beijing hari Jumat lalu? Well beruntunglah TVRI (tumben) yang berinisatif menyiarkan siaran langsungnya. Lumayanlah kita bisa nonton siaran langsung tersebut dengan gratis walaupun kadang-kadang terganggu oleh pemutaran iklan yang dilakukan secara semena-mena. Sudah lama sekali aku tidak pernah menonton TVRI, gara-gara cuma dialah TV lokal gratis yang menyiarkan kegiatan olimpiade di Indonesia.

Upacara pembukaan Olimpiade Beijing memang sangat spektakuler dan jauh lebih bagus daripada upacara pembukaan olimpiade Sydney dan Atlanta.Dari awal kita disuguhi pertunjukan yang sangat luar biasa. Sebuah pertunjukan hasil dari disiplin tingkat tinggi pelakunya dalam mewujudkan fantasi sang creator acara. Aneka kegiatan kesenian tradisional yang dipadukan oleh teknologi tinggi benar-benar membuat para pemirsa di seluruh dunia dibuat terpesona. Puncaknya adalah pada saat penyalahan api di caldron yang dilakukan dengan cara yang tak pernah dilakukan negara tuan rumah olimpiade sebelumnya. Biasanya Kaldron berada disisi lapangan tapi di olimpiade Beijing, Kaldron berada diatap stadion!!!

Awalnya api olimpiade dibawa masuk secara lari estafet mengelilingi stadion oleh para mantan atlet legendaries Cina, ritual ini nyaris sudah menjadi tradisi di berbagai olimpiade. Tapi bedanya, penerima obor terakhir bukannya lari di atas permukaan stadion tapi berlari secara melayang diatas stadion… Sang pelari terakhir ini diangkat mengelilingi stadion sambil melakukan gerakan seperti sedang berlari dengan diiringi latar belakang permainan laser yang berbentuk gulungan yang terbukan mengikuti jejak sang “pelari”. Dan klimaksnya gulungan laser akhirnya membuka caldron yang berbentuk seperti kertas yang dibuat berpilin.Sungguh sebuah ide baru yang luar biasa brilian.

Cina benar-benar sangat serius memanfaatkan kesempatan menjadi tuan rumah olimpiade dengan menggarap kegiatan pembukaan olimpiade ini dengan sedemikian spektanya. Apalagi kegiatan penyalaan api olimpiade di caldron yang benar-benar mengejutkan. Bahkan media massa yang biasanya selalu mendapat cara untuk mengetahui bocoran acara benar-benar tak dapat memprediksinya. Para pelaku kegiatan ini benar-benar disiplin dalam menjaga rahasia. Oke, marilah kita tunggu dan lihat apakah dalam olimpiade Beijing ini akan terjadi banyak kejutan-kejutan spektakuler seperti kejutan kegiatan upacara pembukaannya?

Rabu, 23 Juli 2008

5 Jajanan Jaman SD yang paling dikangenin

Es Jolly
Es Jolly adalah salah satu jajanan kegemaranku waktu masih kecil. terutama es Jolly rasa coklat. Es Jolly adalah es yang bentuknya seperti dua buah sosis yang berdampingan. Untuk menikmatinya, es jolly tersebut harus dipatah ditengahnya sehingga terbagi jadi dua, lalu si esnya kita sedot-sedot deh tepat di bekas patahannya. Maka dari itu es Jolly tersebut bisa dikatakan sebagai jajanan yang dapat menumbuhkan semangat berbagi dengan sesama (dibaca teman). Sudah lama sekali es Jolly ini menghilang. Setiap kali melihat Angelina Jolie aku lantas teringat dengan es Jolly ini, mungkin bentuk bibir Angelina Jolie yang seksi itu akibat semasa kecilnya keseringan mengisap-isap es Jolly.

Kue Cincin atau biasa juga disebut Kue Ali
Kue tradisional asli Indonesia dibuat dari tepung ketan , kelapa dan gula merah yang digoreng. Bentuknya sekilas mirip donat tapi lebih pipih dan kecil maka dari itu disebut kue cincin. Tapi kenapa juga ya ada yang menyebut kue ini sebagai kue ali? Mungkin pencipta kue ini namanya Ali atau mungkin juga karena cincin besar biasanya ada batu ali (akik)nya. Dulu aku sangat menyukai kue ini lantaran bentuknya yang mirip donat. Jaman dulu terutama di kampung seperti tempat masa kecilku, donat termasuk makanan yang masih susah dicari jadi aku sering makan kue cincin ini tapi dibayangkan sebagai donat.

Cilok
Cilok atau kependekan dari Aci Dicolok. Aci yang dalam bahasa Indonesia berarti tepung. Bentuknya mirip bakso tapi tidak ada dagingnya alias tepung semua, lalu dicolokan di lidi dan diberi bumbu kacang pedas persis seperti sate. Sepertinya yang menolong banyak adalah bumbu kacangnya. Cilok punya sepupu dekat yang masih lebih mudah ditemukan di tukang-tukang gorengan saat ini yaitu Cireng alias Aci digoreng.

Keripik Singkong Manis
Keripik singkong jadul biasanya berbentuk memanjang bukan bulat seperti sekarang ini. Keripik singkong manis ini adalah keripik singkong gaya jadul yang diberi coating gula merah.

Sagon Kelapa
Sagon adalah kelapa yang disangrai sampai wangi lalu di tumbuk dan diberi campuran sedikit gula dan garam. Kalau lagi makan sagon dilarang keras berbicara apalagi ketawa karena sagon di mulut akan muncrat kemana-mana.

Jumat, 13 Juni 2008

Pelajaran Moral dari Euro 2008

Dunia kembali dilanda demam bola, kali ini virus bola disebarkan melalui ajang Piala Eropa atau sering juga disebut Euro 2008. Ajang Piala Eropa memang ditunggu-tunggu para pecinta bola di seluruh dunia, memang sih kastanya masih dibawah Piala Dunia namun kejuaraan sepakbola antar negara di benua biru ini masih tetap yang paling favorit jika dibandingkan dengan kejuaraan sepakbola antar negara di benua lain. Bukan hanya penggila bola saja yang terjangkit demam Euro ini tapi juga masyarakat awam pada umumnya. Pertandingan sepakbola antar bangsa semacam Euro ini tidak melulu menampilan permainan indah kelas dunia tapi juga drama-drama yang tak kalah serunya dengan pertandingannya sendiri.


Kisah melodrama disuguhkan pada partai Jerman versus Polandia dengan pemeran utama gelandang tim Panser Jerman, Lukas Podolski. Pemirsa diseluruh dunia dibuat terharu oleh ekspresi wajah sedih Podolski ketika baru saja melesakkan gol ke gawang tim lawannya Polandia. Seharusnya seorang pemain akan bersuka-ria ketika sukses menjebol gawang tim lawan namun tidak bagi Podolski saat itu sebab gawang yang dijebolnya itu adalah milik negara asal nenek moyangnya. Sebagai pemain profesional, Podolski harus habis-habisan membela tanah airnya sekarang yaitu Jerman namun ia juga manusia yang mempunyai rasa sentimentil.


Selain kisah drama menyentuh hati ala Podolski, kita juga diberikan sebuah pelajaran oleh striker tim Spanyol, Fernando Torres, tentang arti sebuah keikhlasan. Pada partai perdana grup D antara tim Matador Spanyol melawan Rusia pertandingan berjalan sangat ketat.Di menit ke-20 berkat kerja keras dan skillnya yang tinggi Torres berhasil melewati beberapa pemain belakang Rusia dan tinggal berhadapan dengan kiper. Torres tidak langsung menendang bola ke gawang melainkan dengan sentuhan yang manis ia umpankan bola ke rekannya David Villa yang tak menyia-nyiakan peluang dengan mengeksekusinya dengan baik.


Sebagai seorang striker yang terkenal, sah-sah saja jika Torres melakukan tindakan egois dengan menendang langsung bola ke arah gawang, apalagi sebelumnya ia telah melakukan pergerakan spektakuler yang mengecoh pemain lawan. Apabila tendangan Torres berhasil merobek gawang Rusia tentu golnya tersebut akan dieluk-elukan sebagai sebuah gol yang indah. Namun pilihan ini tidak diambil Torres karena ia sadar kalau peluangnya mencetak gol lebih kecil dibandingkan dengan rekannya yang berada di posisi yang lebih menguntungkan. Berkat keikhlasan Torres untuk mengesampingkan egonya, Spanyol sukses mendulang gol terlebih dahulu atas Rusia yang menjadi pemicu semangat pemain Spanyol untuk mencetak gol-gol lain. Spanyol akhirnya mantap memenangi duel dengan skor 4-1.


Tidak hanya itu pelajaran moral yang bisa dipetik dalam partai Spanyol-Rusia tersebut, kita juga diingatkan untuk tidak menjadi kacang yang lupa kulitnya. 3 dari 4 gol yang dilesakan Spanyol ke gawang Rusia berasal dari seorang pemain bernama David Villa. Seperti yang telah disinggung diatas, gol pertama Spanyol yang dicetak David Villa adalah berkat assist matang Fernando Torres, begitu juga gol kedua Villa juga tercipta berkat andil Torres yang terlebih dahulu membuka pertahanan lawan. David Villa berhasil mewujudkan cita-cita seorang striker untuk mencetak hattrick di ajang kejuaraan bergengsi sekelas Euro. Kesuksesan mencatatkan diri sebagai pencetak hattrick pertama dia ajang Euro 2008 tak lantas membuat Villa merasa hebat sendiri. Sehabis mencetak gol, orang yang paling dicarinya adalah Fernando Torres. Secara gamblang Villa juga menyebutkan kalau semuanya itu bisa terwujud berkat dukungan Torres.


Kisah inspiratif tentang sepak terjang kedua striker utama Spanyol tersebut rupanya berbanding terbalik dengan kondisi dunia politik Indonesia. Setelah mabuk dalam dunia gegap gempita ala pesta sepakbola Eropa, sebuah liputan berita di sebuah stasiun TV swasta membuat saya kembali ke dunia nyata. Isi berita tersebut membahas tentang kemelut pilkada Maluku Utara yang tak ada akhirnya. Akibat ketidakikhlasan segelintir orang untuk memberikan kesempatan meminpin daerah kepada orang lain yang telah dipilih akyat membuat Maluku Utara kini kembali panas membara. Aksi saling serang dilakukan oleh pendukung kedua belah pihak yang berseteru. Kalau sudah begini yang paling menderita tentu rakyat jelata.


Pihak yang gagal meraih dukungan suara tertinggi seharusnya bisa ikhlas menerima kekalahannya dengan lapang dada. Begitu juga dengan sang peminpin yang terpilih agar menjauhi sikap jumawa dan lebih mementingkan kepentingan rakyat sebab berkat dukungan rakyatlah maka ia bisa terpilih. Seandainya sikap seperti ini dimiliki oleh para peminpin di Indonesia mulai dari tingkat pusat hngga tingkat daerah niscaya kehidupan rakyat akan damai dan sejahtera selalu. Moga-moga setelah perhelatan Piala Eropa ini, banyak orang yang mau menteladani sikap Fernando Torres dengan keikhlasannya untuk mengalah demi kemenangan bersama dan juga kerendah hatian David Villa yang tidak merasa hebat sendiri. Rupanya ditengah kemeriahan Euro 2008 ada sebuah makna yang bisa dipetik. Jadi siapa bilang kalau sepakbola hanya sekedar kumpulan orang bercelana pendek yang berlari kesana-kemari mengejar-ngejar bola.

Kamis, 24 April 2008

Bu Siti vs NAMRU-2

Bu Menkes Siti Fadilah Supari bikin berita lagi, kasusnya masih ngga jauh-jauh dari persoalan flu burung. Kalau dulu ia sempat menabuhkan genderang perang dengan WHO (World Health Organization) dan Amerika Serikat dengan menolak memberikan sample virus flu burung kepada mereka. Alasan Bu Siti pada waktu itu karena mencurigai niat WHO dan AS dalam pengembangan vaksin flu burung bukan murni untuk kemanusiaan tapi murni bisnis semata. Seperti yang terjadi pada virus flu burung di Vietnam, setelah berhasil membuat vaksin flu burung, AS menjual vaksin tersebut ke Negara-negara lain terutama Negara dunia ke-3 yang jadi korban flu burung dengan harga yang sangat mahal. Tindakan keras Bu Siti ini mendapat beragam tanggapan, ada mengecam dan ada juga yang memuji sebagai symbol perlawanan dunia ketiga terhadap kapitalisme Amerika Serikat.


Kali ini Bu Siti bikin berita lagi melalui aksinya menyatroni kantor NAMRU-2 (Naval Medical Research Unit), unit penelitian medis angkatan laut AS yang bertugas meneliti penyakit menular dan penyakit tropis, termasuk malaria, muntaber, AIDS, dan flu burung. Kedatangannya yang bersama wartawan itu pun ditolak aparat yang bertugas di sana. Kantor NAMRU-2 yang berada di kompleks kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan di Jalan Percetakan Negara 29, Jakarta memang ketat penjagaannya, untuk bisa masuk kesana saja harus mengantongi ijin dari kedubes AS. Maka dari itu ngga heran kalau NAMRU-2 ini dicuragi sebagai salah satu fasilitas dinas rahasia Amerika Serikat.

Polemik kian merebak ketika bu Siti mempertanyakan keberadaan NAMRU-2 tersebut dan tentu saja beliau juga melarang semua Rumah Sakit di Indonesia untuk menyerahkan sample virus flu burung ke NAMRU-2. Nama Dino Pati Djalal, salah seorang jubir Presiden, ikut terbawa-bawa dituding sebagai agen asing yang melindungi NAMRU-2. Entah siapa yang menyebarkan gosip itu tapi bu Menkes yang sempat dituduh sebagai penyebar gossip tersebut membantah telah mengeluarkan statement tersebut. Baiklah kayanya bakalan seru nih keributan baru antara Bu Menkes VS WHO dan Amerika Serikat.


Gosip-gosip soal fasilitas rahasia intelejen asing serta mata-matanya membuat aku ingat pada film-film spy seperti James Bond atau novel-novel karya Robert Ludlum. Untuk masalah NAMRU-2 ini paling cocok disandingkan dengan seri petualang Jon Smith si Agen Covert-One. Dikisahkan kalau dalam penyamarannya Jon Smith bekerja sebagai peneliti militer untuk U.S. Army Medical Research Institute of Infectious Diseases (USAMRIID). Kebetulan banget kalau NAMRU-2 itu mirip dengan USAMRIID, jadi mungkin aja ada peneliti di NAMRU-2 yang seperti Jon Smith yang ternyata sebetulnya seorang agen rahasia.

Senin, 14 April 2008

The 7 Last Words of Christ

Seumur-umur aku belum pernah yang namanya nonton opera beneran secara langsung. Biasanya palingan banter cuma operet amatiran di acara Natalan. Sebelumnya tidak pernah terlintas dipikiran untuk menonton opera sampai temanku Riska mempromosikan pagelaran opera yang berjudul “The 7 Last Words of Jesus”. Jangan dipikir Riska adalah bagian promosi dari penyelenggara pagelaran opera ini tapi dia ini adalah salah satu artisnya. Ya...ya... Riska Damayanti memang bukan pemeran utama tapi ini adalah adalah pagelaran opera pertamanya sejak bergabung dengan Susvara Opera Company jadi ngga heran kalau promosinya ngga kalah sama marketing andal. Secara penasaran karena belum pernah menyaksikan opera yang sesungguhnya maka akupun tertarik untuk menonton “The 7 Last Words of Jesus”, siapa tahu bisa menambah khasanah bersenianku.


Pada hari H yaitu hari minggu datanglah aku ke Gedung Kesenian Jakarta tempat berlangsungnya acara. Ini juga merupakan kesempatan pertamaku mengunjungi gedung seni bersejarah peninggalan Belanda yang memilki arsitektur indah. Pada dasarnya aku bukan seorang penikmat musik klasik tapi aku tetap nekad untuk mencoba menonton opera. Dan terbukti banget kalau selera musikku memang payah. Aku sama sekali tidak menikmati pagelaran opera ini terutama pada sesi pertama yang menampilkan oratorium-oratorium (Oratorium? asli aku ngga ngerti artinya, ini juga hasil mencontek dari buku panduan tapi yang pasti ngga ada hubungannya sama sanatorium apalagi ovarium).


Sesi oratorium ini adalah bagian yang sangat menyiksaku karena aku harus berusaha keras untuk menahan tawa. Ngga lucu banget kalau ditengah kekhusuyukan penyanyinya melantunkan lagu-lagu syahdu tersebut tiba-tiba saja ada yang tertawa terbahak-bahak. Aku berusaha mengalihkan pikiran ke hal-hal sedih tapi gagal karena lamunanku selalu buyar oleh lengkingan suara sang penyanyi. Untuk membantu mengendalikan diri aku terpaksa harus menggigit tissue agar ketawaku tidak pecah. Tidak ada yang salah dengan penyanyinya tapi dasar kuping ini aja yang kampungan ngga bisa mencerna musik premier karya musisi kelas dunia. Padahal sebagian besar lagu berbahasa Inggris namun kupingku ini sama sekali tidak bisa menangkap liriknya dengan benar sehingga yang terdengar adalah kata-kata absurd yang ngaco abis.


Sayangnya aku tak terlalu ingat kata-kata absurd yang sempat terlintas di benakku tapi ada satu yang terpatri begitu kuat yaitu “miss genuk”. Aku setengah mati menahan tawa ketika mendengarnya sebab dibenakku langsung muncul sesosok wanita jawa bertubuh tambun dan hanya menggunakan kembem. Mungkin ilustrasinya seperti tokoh Nyi Woro Cimblon dalam karikatur Panji Koming di Kompas minggu. Aku nyaris menganggap diriku mulai mengalami gejala kurang waras namun aku jadi lega ketika melihat di buku pengantar sebetulnya lagu tersebut berjudul “Es Ist Genug”. Ini berarti aku ngga ngaco-ngaco amat, “miss genik” ngga terlalu jauh kok dari judul aslinya.


Sejujurnya aku nyaris melarikan diri dari tempat tersebut karena takut tak tahan menahan tawa dan bikin malu rombongan supporternya si Riska. Gara-gara aku duduk di tengah dan agak susah untuk keluar jadinya aku tetap bertahan di dalam. Ada satu bagian dari oratorium ini yang bisa aku nikmati dan sama sekali ngga bikin aku pingin tertawa yaitu pada saat dilantunkannya lagu “Domine Deus”. Walaupun dilantunkan daam bahasa latin tapi aku lebih bisa menangkap liriknya karena “Domine Deus” ini mirip lagu-lagu berbahasa latin yang biasa dinyanyikan saat misa. Mungkin karena lebih familier jadinya kuping ini bisa menangkapnya dengan baik.


Pada sesi kedua yang merupakan inti dari pagelaran opera “The 7 Last Words of Christ” keadaan makin membaik. Di sesi ini pula bagian si Riska tampil beramai-ramai sebagai rakyat jelata yang berteriak-teriak menuntut penyalibkan Yesus. Suasana yang lebih hidup membuat pertunjukan lebih menarik dan hasrat tertawaku makin berkurang walaupun tidak hilang total. Sungguh tidak sensitif padahal sebetulnya itu adalah kisah sedih bahkan beberapa penonton lain aku lihat sampai menyeka mata mereka yang dibanjiri airmata.


Walaupun aku mengalami kesulitan untuk menikmati pertunjukan opera pertamaku tapi aku mau memberikan apresiasi sebesar-besarnya pertunjukan “The 7 Last Words of Christ” ini sebab harus diakui atmosfernya benar-benar sangat berkelas. Kemasan penampilan penyanyi maupun tata panggung sangatlah apik. Setidaknya aku sudah punya gambaran seperti apakah pertunjukan opera yang sesungguhnya. Kalau besok ada undangan menonton opera lagi, aku pasti akan pikir-pikir dulu atau mungkin sebaiknya mempersiapkan diri dulu sebaik-baiknya. Maaf ya Cha kalau aku ngga bisa bikin ulasan yang baik soal pertunjukan opera pertamamu dengan baik.

Senin, 07 April 2008

Laki-Laki Hamil


Sekarang ini memang jaman edan, koreksi maksudnya bukan jamannya yang edan tapi manusianya yang makin edan. Arnold Schwazenneger yang dulunya atlit binaraga sebelum jadi gubernur California pernah hamil lho... Bayangkan saja seorang pria yang tadi tegap berotot harus berperut buncit karena sedang mengadung anak... Tapi itu semua cuma terjadi di salah satu filmnya yang bergenre komedi berjudul “Junior”.

Boleh percaya atau tidak ternyata kejadian seperti di film “Junior” tersebut sekarang ini bukan fiksi lagi tapi benar-benar kejadian di Amerika Serikat. Acara ngobrolnya Oprah Winfrey yang baru saja diputar di negeri asalnya dihebohkan oleh kemunculan seorang pria berkumis dan berjambang tapi berperut buncit karena hamil. Terdengar seram dan sepertinya sangat tidak masuk akal namun begitu kenyataannya.

Penjelasan ilmiah dari kejadian ini adalah si pria hamil tersebut sebetulnya adalah seorang wanita transgender. Thomas Beatie nama si pria hamil tersebut semula bernama Tracy seorang perempuan yang bisa dikatakan cantik. Namun si Tracy ini merasa dirinya tidak nyaman dalam tubuh wanitanya sehingga ia berusaha untuk menjadi lebih pria dengan menyuntikan hormon testoteron. Efek dari banyaknya hormon testoteron yang diterimanya membuat klitoris Tracy berubah bentuk menjadi mirip penis pria serta wajahnya mulai ditumbuhi bulu-bulu halus seperti layaknya pria. Untuk lebih menyempurnakan tampilan fisiknya Tracy juga mengoperasi dadanya sehingga menjadi rata laiknya laki-laki. Setelah itu Tracy resmi mengubah namanya menjadi Thomas.

Walaupun ingin secara fisik menjadi laki-laki ternyata naluri kewanitaan Tracy alias Thomas ini masih ada, buktinya ia masih ingin mempertahankan salah satu organ kewanitaannya yaitu rahim. Alasan yang dikemukakan waktu itu karena Tracy/Thomas ini bercita-cita pingin punya anak suatu hari nanti. Thomas punya seorang istri bernama Nancy yang berusia beberapa tahun diatasnya. Nancy yang telah memiliki 2 anak yang telah dewasa dari pernikahan terdahukunya dengan pria normal ini telah kehilangan rahimnya akibat mium akut.

Demi mewujudkan impian punya anak maka akhirnya Thomas bersedia untuk menampung calon bayi mereka di rahimnya. Dan hasilnya adalah seperti yang sedang dihebohkan saat ini yaitu seseorang yang secara tampilan fisik pria namun mengandung bayi seperti layaknya perempuan. Hu...hu.. betul-betul dashyat keedannya. Nekad bener manusia jaman sekarang ini berani-beraninya menetang karya cipta Sang Maha Kuasa. Perempuan berubah jadi laki-laki saja sudah menyalahi kodrat apalagi kalau sampai laki-laki hamil dan melahirka segala. Jadi penasaran seperti apakah jadinya bayi hasil dari perbuatan nyeleneh manusia ini.

Belum hilang kehebohan berita ini, aku kembali dapat berita dari detikcom hari ini kalau di India telah lahir seorang bayi yang bermuka dua. Kali ini bukan hasil rekayasa genetis buatan manusia tapi murni karena mutasi genetis dari alam tapi tetap saja ngeri bacanya. Selama ini apa yang kita hanya dapat lihat di film-film khayal nyaris menjadi kenyataan. Jangan-jangan suatu hari nanti kita bisa menemukan manusia-manusia mutan seperti dalam dongeng modern “The X-Men”. Ehmmm ngeri bener ya...

Jumat, 28 Maret 2008

Bakhtiar

Namanya Bakhtiar, profesinya adalah sebagai penjual gado-gado. Sudah puluhan tahun ia berjualan gado-gado di pinggir jalan protokol depan sebuah sekolah swasta di kawasan Jakarta Timur. Kebetulan juga kantorku berada tak jauh dari sekolahan tersebut sehingga akupun sering jajan disitu juga, gado-gadonya Bakhtiar termasuk jajanan favoritku. Seorang rekan kerjaku mengatakan ketika dia masih bersekolah di sekolah tersebut Bakhtiar sudah berjualan gado-gado. Menurut pengakuan sang penjual gado-gado sendiri malah ada pelanggannya yang dulu dia kenal pertama masih menjadi murid sekolah tersebut kini saat bertemu kembali si pelanggan telah memiliki anak yang juga bersekolah disitu.

Selain Bakhtiar, disana masih ada beberapa penjual makanan lain namun Bakhtiar tetap menjadi favorit ibu-ibu. Pembawaannya yang sangat luwes cenderung lekong membuatnya jadi dekat dengan ibu-ibu. Sambil bergoyang-goyang mengulek kacang, mulutnya juga sibuk berkicau membicarakan berbagai hal mulai dari cerita sinetron yang diputar semalam hingga gosip-gosip mutakhir yang beredar di kalangan ibu-ibu setempat. Pernah juga dia bercerita padaku kalau sehari sebelumnya ada hujan badai yang hebat hingga mengakibatkan sebuah pohon di dekat tempatnya berjualan tumbang.

“Say, ngeri banget hujan angin kemarin. Gede banget anginnya sampai pohon segede gitu aja tumbang. Sebelum tumbang tuh pohon emang udah ngeluarin bunyi krekek-krekek gitu deh... Langsung aja gue lari ke dalem (sambil menunjuk arah pos satpam sekolahan). Kaga peduli dah gue sama dagangan, yang penting nyawa gue selamet. Saking takutnya, gue sampe nangis, bener luh say gue nangis beneran sambil berdoa. "Ya Allah tolong jangan sampe gue ketiban pohon".

“Untungnya cuma nangis ya bang... Ngga sampe pake kencing di celana. Tapi bagus juga kali ya kalo nama elo muncul di koran Lampu Merah dengan judul berita Tukang Gado-Gado Tewas Mengenaskan Ketiban Pohon” jawab aku sambil menggodanya.

“Ih elu ya emang dasar, seneng ya kalau gue mati. Sumpah waktu itu serem banget rasanya gue kaya mau mati aja” ujar Bakhtiar sambil memonyongkan bibirnya.

Mendengarkan Bakhtiar bercerita sungguh menjadi hiburan tersendiri bagiku, ada saja topik unik yang dibicarakannya. Cerita senang maupun sedih dibawakannya dengan gaya manjanya yang khas sehingga membuat pendengarnya gemas. Walaupun nampak lekong tapi sebetulnya Bakhtiar adalah seorang laki-laki sejati, buktinya ia punya istri dan anak. Mungkin karena pembawaannya yang selalu ceria maka wajah si Bakhtiar ini terlihat nampak masih muda padahal anakn tertuanya sudah berumur duapuluh tahun.

Beberapa waktu yang lalu Pemda DKI Jakarta mengeluarkan Peraturan Daerah baru mengenai ketertiban umum. Salah satu isi dari Perda tersebut adalah mengatur tentang pedagang kaki lima. Akibat Perda tersebut, ketenangan berjualan Bakhtiar kini terusik karena khawatir dengan kedatangan petugas trantib siap mengangkut pedagang kaki lima yang behasil ditangkapnya. Agar lebih memudahkan ketika hendak kabur dari kejaran petugas trantib maka Bakhtiar memodifikasi gerobak jualannya jadi lebih pendek dan ringan. Namun usaha Bakhtiar itu sia-sia saja sebab akhirnya dia kena tangkap trantib dan gerobak jualannya diangkut.

Hal itu sama sekali tidak mematikan semangat Bakhtiar, beberapa hari kemudian ia kembali berjualan kali ini menggunakan sepeda motor seperti penjual siomay sepeda. Cara ini dipilih sebab dia malas berurusan dengan petugas trantib jika hendak menebus gerobak yang disita, lagipula dengan motor diharapkan akan lebih memudahkan kabur jika ada razia lagi. Kata Bakhtiar segala cara akan dia tempuh agar tetap bisa berjualan sebab kalau sampai berhenti anak-istri mau dikasih makan apa?

Menurut pendapatku pribadi, boleh-boleh saja dilakukan penertiban pedagang kaki lima supaya tidak mengganggu kenyamanan tapi tolong beri solusinya dan jangan seperti melakukan tebang pilih. Seperti kasus Bakhtiar, sebetulnya menurut saya dia dan teman-teman yang berjualan di depan sekolah tersebut termasuk para pedagang kaki lima yang tertib. Mereka membatasi tempat jualannya sehingga orang masih bisa leluasa berjalan di trotoar dan mereka juga selalu menjaga kebersihan. Di seberang jalan itu pada malam hari juga terdapat beberapa pedagang makanan tapi justru mereka tidak pernah diganggu trantib walaupun tempat jualan mereka memakan seluruh badan trotoar sehingga pejalan kaki tak bisa lewat dan terpaksa harus turun ke jalan.
Sungguh sangat diskriminatif perlakuan petugas trantib, pedagang yang sopan malah dikejar-kejar sedangkan pedagang yang mengganggu ketertiban malah dibiarkan bebas. Memang sih omzet jualan para pedagang di seberang jalan lebih besar daripada omzet Bakhtiar CS sehingga mungkin karena beromzet besar mereka bisa membayar lebih untuk “uang keamanan” nya.
Bakhtiar tetap berjualan dengan semangat walaupun petugas trantib nyaris setiap hari mendatangi lokasi tempat berjualannya. Kondisi jalan raya yang berlubang dan tak kunjung diperbaiki menyebabkan kemacetan yang parah. Namun kondisi ini justri disyukuri oleh Bakhtiar dan rekan-rekannya sesama pedagang kaki lima sebab macet menghambat laju mobil trantib sehingga mereka jadi punya waktu lebih untuk melarikan diri. Bagi Bakhtiar, kemacetan akibat jalan rusak seolah menjadi blessing in disguise.

Minggu, 23 Maret 2008

Macet..macet...

Kembali kita mendapatkan bonus libur panjang atau bahasa kerennya Long Weekend mulai dari hari Kamis sampai Minggu. Kesempatan tersebut banyak dimanfaatkan oleh orang-orang untuk pergi ke luar kota termasuk aku yang memilih untuk pulang ke rumah orangtuaku. Sebetulnya aku sadar sih kalau long weekend itu bakalan macet tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau macetnya bakal luar biasa seperti itu. Perjalanan ke rumah orangtuaku yang biasanya hanya menghabiskan waktu sekitar 2 jam saja (itupun jika masih pakai macet), pada hari kamis kemarin harus ditempuh dalam waktu 4 jam lebih. Sampai-sampai orang di dalam bus memilih turun dan malahan sempet-sempetnya pakai acara jajan di warung tepi jalan segala.
Aku pikir long weekend kemarin tidak akan terlalu macet karena jatuh pada tanggal tua dan kondisi perekonomian pun sedang lesu akibat kenaikan harga berbagai macam kebutuhan pokok. Tapi perkiraanku itu meleset total, walaupun sedang susah hidup tapi masyarakat tetap saja butuh hiburan mencari suasana lain. Sepanjang jalan aku lihat aneka kendaraan dipakai untuk berwisata mulai dari kendaraan pribadi hingga angkutan umum seperti metromini dan mikrolet yang di carter untuk keperluan pribadi. Volume kendaraan yang banyak tersebut memadati jalan-jalan menuju luar kota Jakarta dan keadaan diperparah oleh kondisi jalan yang berlubang-lubang, alhasil kemacetan menjadi kian sadis.
Orang-orang Jakarta yang sudah merasa sumpek dengan kota Jakarta dan segala permasalahannya berusaha mencari pelepas ketegangan dengan pergi keluar kota. ironisnya justru dalam perjalanan berlibur keluar kota tersebut, mereka kembali harus menghadapi masalah klasik yang biasa ditemulan di Jakarta yaitu macet... Memang susah hidup di Jakarta ini, sehari-hari sudah harus berjibaku dengan kemacetan yang bikin stress eh ketika hendak berlibur malah harus bermacet-macet ria lagi. Benar-benar tdak bisa lolos dari kemacetan.
Lucunya, dikala orang Jakarta pergi berlibur ke daerah luar kota seperti Bandung, Puncak, Sukabumi dan Bogor, orang-orang daerah tersebut malah berwisata ke Jakarta. Orang-orang daerah tersebut ada yang pergi ke tempat-tempat wisata seperti Ancol dan ragunan dan tak sedikit pula yang melakukan wisata belanja ke mal-mal atau ITC. Ya begitulah manusia, lebih suka rumput orang lain daripada rumput sendiri. Jalanan yang sudah semrawut jadi makin kacau balau makanya ngga heran kalau waktu yang ditempuh jadi extra lama. Kapan ya kita bisa menikmati perjalanan kita tanpa dibayangi oleh kemacetan??

Sabtu, 01 Maret 2008

BBT

Bakmi Babah Tong (also known as BBT) adalah nama warung bakmi tempo dulu yang sampai sekarang masih setia mempertahankan gaya jadulnya. Bicara soal rasa, bakmi ini emang uenak tenan apalagi mie yamin favoritku. Oh ya buat yang belum tahu, lokasi BBT ini berada di jalan Matraman persis di sebelahnya sekolah Marsudirini. Secara BBT ini humble banget sampai-sampai papan namanya ada kecil banget, mungkin cuma tumpukan duren didepannya aja yang bisa jadi penanda. Kalau sedang beruntung, mungkin anda akan bertemu langsung dengan Babah Tong yang legendaris itu. Penampilan boleh mirip warung tapi jangan ragukan kebersihan warung bakmi BBT ini. Yang bergaya jadul bukan hanya warung dan Babah Tongnya saja tapi juga jajanan lain yang dijual disana seperti misalnya sagon kelapa, manisan pala, kue gambang dan lain-lain.

Memang sih yang terkenal adalah bakminya tapi ada menu lain yang tak kalah enak yaitu bubur ayamnya, uhmmmm yummy. Pangsit gorengnya juga boleh dicoba, ngga kalah deh sama pangsit gorengnya bakmi GM. Sebetulnya masih ada menu nasi ayam, sup dan sebangsanya tapi menu-menu lain itu aku belum pernah coba sebab yang otentik kan bakminya. Konon jus duriannya juga enak tapi secara aku ngga suka durian jadi no comment deh.


Beberapa hari yang lalu aku sempat pergi ke BBT bersama teman-temanku, total rombongan ada 15 orang dan sudah pastilah kita disana membuat kegaduhan. Tapi semuanya mendadak sunyi ketika makanan pesanan kita datang, semua diam sejenak menikmati lezatnya bakmi dan bubur ayam resep rasahia dapur Babah Tong. Saat itu sebetulnya kita bertemu dengan Babah Tong yang tampil dalam kostum favoritnya yaitu kaus singlet putih khas babah-babah Cina tempo dulu. Aku sempat merayu sang Babah untuk berfoto bersama kami namun beliau menolak dengan alasan sedang tidak mengenakan pakaian yang pantas. Si Babah malah menyuruh kita untuk berfoto dengan anak perempuannya yang sudah cantik namun kita hanya mau berfoto dengan sang icon sendiri.


Hari ini aku kembali ke BBT dengan mengajak yayangku yang penasaran dengan cerita hebohku seputar kelezatan bakminya, dia langsung menyetujui kalau BBT memang enak. Pulangnya tak lupa aku menyempatkan untuk membeli jajanan jadul kenangan masa kecilku yaitu sagon kelapa. OMG, rasanya senang sekali sebab sudah bertahun-tahun aku tak menemukan jajanan tersebut. Untuk melengkapi memori jadul, kami memutuskan untuk pulang dengan naik bajaj. Sebuah pilihan tepat di tengah kemacetan Jakarta yang kian menggila. Dengan kelincahannya, bajaj dapat leluasa menerobos celah-celah sempit diantara antrian kendaraan yang sedang terkena macet. BBT + Sagon Kelapa + Bajaj = Sebuah Sabtu Siang yang menyenangkan.

Senin, 25 Februari 2008

Cap Go Meh di Jatinegara

Hari minggu kemarin aku berniat untuk membeli taplak meja di pasar Mester Jatinegara. Sebelum sampai pasar telah terjadi kemacetan luar biasa, ternyata jalanan sedang ditutup sementara karena akan dilakukan prosesi Cap Go Meh. Jalanan yang ditutup mulai dari dekat rumah bersalin Hermina lalu berputaran di depan Gereja Koinonia ke arah pasar Mester lalu berakhir di jalanan samping KFC Jatinegara. Secara penasaran karena aku belum pernah melihat prosesi arak-arakan Cap Go Meh sebelumnya, aku membatalkan niat membeli taplak dan memilih untuk bergabung dengan kerumunan massa yang memang sudah bersiap-siap dari sebelumnya.

Sebetulnya aku juga masih ada turunan etnis Tionghoa tapi aku termasuk "Lost Generation" yang mulai kehilangan akar jati diri akibat genocide kebudayaan yang terjadi pada jaman orde baru. Aku sudah tidak banyak tahu seputar ritual-ritual budaya warisan nenek moyang termasuk perayaan Cap Go Meh ini. Palingan aku cuma tahu sedikit-sedikit berdasarkan cerita dari oma-opaku saja. Kata mereka Cap Go Meh itu adalah penutup rangkaian perayaan imlek alias tahun baru Cina. Cap Go Meh jatuh pada bulan purnama pertama setelah tahun baru jadi kira-kira sekitar 2 minggu setelah imlek. Pada tahun ini sebetulnya Cap Go Meh sendiri jatuh pada hari kamis lalu namun mungkin dengan alasan kepraktisan maka warga Tionghoa di Jatinegara baru mengadakan ritual arak-arakan Cap Go Mehnya pada hari minggu.

Dulu omaku pernah becerita kalau pada arak-arakan Cap Go Meh sering ada pertunjukan yang agak-agak mirip debus seperti misalnya potong lidah, tapi rupanya pada arak-arakan di Jatinegara kemarin adegan yang tergolong "Parental Advesory" tersebut tidak ada. Yang namanya barongsai pasti ngga akan ketinggalan tapi sebetulnya yang menjadi khasnya Cap Go Meh adalah arak-arakan patung dewa-dewi atau biasa disebut "Gotong Toapekong". Karena seumur-umur baru kali ini aku nonton acara Cap Go Meh maka aku baru tahu kalau ada cara dan aturan khusus dalam melakukan ritual "Gotong Toapekong" tersebut. Toapekong dibawa oleh beberapa orang lalu dalam posisi diam di tempat, toapekong digoyang-goyang sambil dibacakan doa-doa lalu entah setelah berapa kali hitungan, ramai-ramai toapekong dibawa berlari hingg jarak tertentu lalu dimulai lagi ritual awal yaitu menggoyang Toapekong.

Setelah selama puluhan tahun sempat dilarang oleh pemerintah orde baru, sekarang ritual budaya semacam Cap Go Meh ini sudah dapat dilakukan kembali. Sempat terbesit keharuan ketika kemarin aku membaur dengan warga dari berbagai macam etnis beramai-ramai menonton prosesi arak-arakan Cap Go Meh tersebut. Menariknya, yang terlibat dalam prosesi arak-arakan Cap Go Meh ini tidak hanya kebudayaan yang berasal dari Tiongkok saja tapi ada juga budaya asli Indonesia yang terlibat seperti misalnya Ondel-Ondel, Reog Ponorogo, Tanjidor dan bahkan ada serombongan anak muda yang memainkan irama kasidah. Melihat kondisi ini, bisa dikatakan arak-arakan Cap Go Meh sebetulnya adalah sebuah festival budaya yang bisa dimasukan dalam kalender wisata seperti Mardi Gras di New Orleans. Lihat saja apa yang terjadi di Jatinegara kemarin dimana sebuah prosesi Cap Go Meh sederhana yang dikelola oleh kalangan sendiri dapat menarik atensi masyarakat sedemikian besar, apalagi kalau acara Cap Go Meh ini ditangani secara profesional tentu bukan mustahil bisa menarik perhatian turis asing untuk datang khusus menyaksikan pawai budaya tersebut. Berikut ini adalah beberapa foto yang berhasil aku abadikan dari kamera telepon selulerku.
Tarian Liong yang sudah sangat dikenal dibawakan oleh para seniman tari Liong yang umumnya justru bukan dari etnis Tionghoa
Seekor (sebuah??) Barongsai yang sedang menerima angpau dari penonton

Prosesi Gotong Toapekong

Beberapa pemeluk Konghucu sedang melakuan penghormatan terhadap Toapekong
Toapekong sedang dibawa lari
Alat tabuh yang dibunyikan mengiringi prosesi Cap Go Meh
Reog Ponorogo tak mau ketinggalan mengikuti arak-arakan bersama Barongsai, saudara tuanya dari negeri China
Budaya lokalpun ikut meramaikan kemeriahan pawai budaya ini, secara lokasinya di Jakarta maka ondel-ondelah yang muncul
Ini yang berpakaian ala Judge Bao siapa ya?? Aku juga ngga tau mungkin ceritanya dia itu Raja atau Kaisar gitu deh...

Sabtu, 23 Februari 2008

Untuk Dede Kecil

Tulisanku kali ini sebetulnya masih ada hubungannya dengan Cinta Laura tapi kali ini aku tidak akan mengolok-olok bintang sinetron abg tersebut. Kasus Cinta laura yang agak kesulitan berbahasa Indonesia karena belum lama tinggal di Indonesia agak mirip dengan kasus temanku, kita sebut saja namanya Decil (dede kecil). Bedanya kalau Cinta Laura masih ada turunan benua eropanya kalau si Decil sih asli dari benua asia hanya saja sama-sama kelamaan tinggal di luar negeri sehingga agak kesulitan berbahasa Indonesia.

Seperti Cinta laura, si Decil memang sering juga menyelipkan berbagai kata-kata dalam bahasa Inggris ketika sedang mengobrol apabila dia kesulitan mencari padanan kata tersebut dalam bahasa Indonesia tapi walaupun begitu logatnya terdengar biasa saja tidak seaneh Cinta laura. Mungkin istilah "Mother Tongue" berlaku secara harafiah dalam kasus ini, lidah si Decil adalah lidah Indonesia sehingga memiliki kelenturan yang memang di desain untuk berbahasa Indonesia sedangkan lidah Cinta Laura memiliki desain lidah orang eropa sehingga membuat dirinya kesulitan mengucapkan kata-kata dalam bahasa Indonesia. Ehmm sebuah penjelasan yang sama sekali tidak ada dasar ilmiahnya, hanya sebuah pikiran narsis dari aku, jadi jangan ada yang protes soal hipotesa ngaco ini.

Beda lidah, beda juga telinga, aku tidak tahu apakah kasus salah dengar sering terjadi juga terhadap Cinta Laura tapi yang jelas kasus salah dengar sering terjadi pada temanku si Decil ini. Contohnya ketika sedang bekerja di lab salah seorang rekan kerja Decil bertanya kepada rekan kerja yang lainnya dengan kalimat seperti ini : "Gula halus dimana ya?". Setelah pertanyaan tersebut dijawab, si Decil yang kebetulan ada disekitar situ ikutan nibrung dengan sebuah komen mengejutkan yang kurang lebih ucapannya seperti ini : : Ohhh merk gula selain Gulaku ada juga Gulalu...". ha...ha... rupanya si Decil salah dengar "gula halus" jadi "gulalu.

Selain salah dengar sering juga terjadi ketidakpahaman kronis. Misalnya ketika seorang teman yang sedang bercanda, semua orang tertawa termasuk si decil tapi begitu selesai si Decil malah dengan polosnya bertanya maksud dan lucunya candaan tersebut yang sebetulnya tidak ia mengerti. Kadang-kadang ketidakfahaman kronis ini digabung juga dengan kasus salah dengar seperti yang terjadi sewaktu sedang mkan di kantin beberapa hari yang lalu. Ketika itu aku dan beberapa teman termasuk si decil sedang bergosip tentang teman kita yang sebentar lagi akan menikah. Sesudah panjang lebar bergosip, tiba-tiba si Decil bertanya "Ada apa? dimana?", kontan saja suasana meriah pergosipan langsung senyap, saat itu masih ada salah seorang temanku yang berbaik hati memberi kesimpulan singkat seputar gosip kita tadi dengan mengatakan "Ada yang mau nikah tanggal 9 Maret". Penjelasan ini langsung disambung oleh sebuah pertanyaan lain dari si Decil, "Ada apa dengan Agnes Monica tanggal 9 Maret?". Gubrak... sampai sini tidak ada diantara kami yang mau membuka mulutnya untuk meluruskan kasus salah dengar tersebut.

Bukannya jahat cuma kadang-kadang kita sudah terlalu lelah untuk mengulang kembali sebuah percakapan panjang lebar yang kalau diulangpun belum tentu bisa segera dimengerti. Kitapun sebagai teman sebetulnya sama sekali tidak terganggu oleh pertanyaan dan pernyataan menakjubkan dari si Decil malah kadang-kadang bisa jadi hiburan tersendiri. Aku membuat tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mengolok-olok kelemahan seseorang tapi hanya ingin sekedar membagi cerita seputar kejadian-kejadian dalam hidup. Jumat lalu si Decil berangkat ke Australia untuk urusan pekerjaan selam 3 bulan, wah sepertinya aku akan sangat merindukannya.

Sabtu, 26 Januari 2008

Coba 3

Sudah beberapa hari ini jaringan Telkomsel di area Cipinang Cempedak seperti orang kena stroke, lumpuh atau paralized istilah kerennya. Di layar HP sepertinya nampak ada signal tapi tidak bisa dipakai sms, ngga bisa menelepon keluar dan bahkan menerimapun sulit. Semula aku kira hanya HPku saja yang bermasalah sebab waktu hari Rabu dimana pertama kali jaringan Telkomsel ini bermasalah aku baru saja habis menonton Otomatis Romantis di bioskop. Demi kenyamanan aku aktifkan silent mode pada HPku, waktu itu aku lakukan dalam kegelapan sehingga aku sempat berfikir jangan-jangan aku ada salah pencet sehingga memblok sistem HPku. Kekuatiranku ternyata tidak terbukti ketika keesokan harinya di kantor aku kembali mendapatkan signal Telkomsel secara normal. Selama ini aku merasa sudah cukup memiliki satu buah HP dengan menggunakan Telkomsel yang telah aku pakai sejak dari dulu, bagiku yang penting HPku bisa dipakai menelepon dan SMS kapan saja dan dimana saja. Promosi operator CDMA atau GSM yang menawarkan paket mengobrol murah sama sekali tidak aku lirik sebab aku bukan tipe miss ring-ring yang hobi ngobrol di telepon.

Sampai hari Jumat sore kemarin jaringan Telkomsel di tempatku itu masih lumpuh, aku cukup kesal sehingga aku terpaksa memilih untuk selingkuh ke operator lain untuk sementara. Maka pergilah aku ke sebuah kios kecil penjual kartu perdana dan voucher pulsa, disana aku cukup kebingungan memilih paket perdana selain punyanya Telkomsel. Akhirnya aku putuskan untuk tidak menggunakan big 3 GSM Indonesia (Telkomsel, Indosat dan Excelcom) dan memilih untuk mencoba si pendatang baru 3. Aku memilih 3 tanpa pertimbangan apapun hanya sekedar iseng pingin tahu kemampuan si Tri ini. Namanya juga coba-coba sehingga proses registrasinyapun aku isi asal-asalan. Belum selesai proses registrasi, aku sudah mendapatkan berondongan sms dari 3 sendiri yang mempromokan program-programnya.

Program yang di promosikan 3 antara lain telepon Rp.1 /menit tapi ke sesama 3 dari jam 1 pagi sampai jam 1 siang tapi maximal cuma 1 jam saja per hari ha...ha... SMS ke sesama 3 gratis terus tapi harus isi pulsa Rp. 10.000 per 30 hari uhmm... Ngga peduli sih sama program ini secara aku juga ngga punya teman yang pakai 3. Lalu ada promo bicara setengah harga tapi harus registrasi dulu, setelah registrasi yang memang gratis aku ternyata masih harus mengisi pulsa 10 ribu dulu baru promo setengah harganya berlaku. Aku turutin saja syarat dan ketentuan yang tak pernah disebut-sebut sebelumnya dalam promosi awal. Setelah itu aku baru tahu kalau bicara ke operator lain biaya permenitnya Rp. 1000 dan interlokal adalah Rp. 2000 (belum PPN) karena ikut promo setengah harga jadinya biaya ke operator lain jadi Rp. 500/menit dan interlokal Rp. 1000. Ehmmm ngga mahal juga tarifnya. Untuk SMS ke operator lain tidak ada promosi tapi tarifnya cukup reasonable yaitu Rp. 100 plus PPN 10%. Bandingkan dengan Simpati yang bertarif Rp. 350, memang Telkomsel ini lintah darat penghisap pulsa konsumen.

Selama ini aku sebagai konsumen Telkomsel yang terkenal mahal jadi segera menganggap 3 murah banget tapi ngga tahu juga kalau si 3 kita bawa kedaerah pinggiran apakah dia masih bisa aktif? Ada lagi satu kekurangan 3 yang aku rasa sangat perlu untuk segera diperbaiki yaitu 3 tidak punya fitur cara untuk mengecek biaya pemakaian terakhir konsumen, seperti misalnya di Simpati dengan memijit *887#. Padahal fitur tersebut berguna untuk pengecekan apakah biaya yang telah kita keluarkan sesuai dengan tarif yang telah ditentukan. Kalau saja si 3 ini telah memiliki area jangkauan yang luas tapi masih mempertahankan tarif masuk akalnya ini, bukan tidak mungkin banyak konsumen GSM lain yang akan beralih ke si 3 ini.

Rabu, 23 Januari 2008

Heath Ledger

Siang ini ketika sedang browsing-browsing berita hiburan di internet aku mendapatkan berita yang cukup mengejutkan yaitu mengenai tewasnya aktor Heath Ledger, mengejutkan sebab dia itu masih muda dan tidak ada berita soal sakit sebelumnya. Menurut berita Heath ditemukan tewas dalam kamar tidurnya dan penyebab tewasnya masih dalam penyelidikan polisi. Kalau yang meninggalnya si Owen Wilson sih ngga terlalu kaget secara dia itu emang udah niat mau bunuh diri setelah diputusin sama si Kate Hudson.

Membayangkan Heath Ledger ini, aku langsung terbayang akan fim koboy homo "Brokeback Mountain" yang mengantarkannya masuk nominasi Oscar sebagai Aktor Terbaik pada tahun 2006. Adegan mesranya bersama Jack Gyllenhaal (bener ngga nulisnya) di "Brokeback Mountain" memang yahud, apalagi pas adegan ciuman yang pake nafsu bener-bener kaya homo betulan. Kebetulan aku nonton film ini di DVD besama seorang teman cewek lantaran ngga ada cowok yang aku kenal yang sudi nonton film ini, emang dasar cowo-cowo sering sok homophobic. Memang cocoknya "Brokeback Mountain" ini ditonton rame-rame di DVD biar seru ketawa-ketawa sambil mengulang- ngulang adegan cowboy-cowboy keren bermesraan di tengah hutan. Selain adegan ciuman yang mesra antara si Heath dan Jake, menurutku adegan juara lain di film ini adalah pas si Heath meludahi (maaf) "burungnya" ketika mau penetrasi ke bagian belakang tubuh si Jack. Hue he..he.. asli aku dan temanku ketawa-ketawa geli melihat adegan ini. "Brokeback Mountain" ini memang film serius bukan film bokep jadinya kita sebagai penonton ngga jijik-jijik banget melihat adegan panas antar koboy homo tersebut.

Entah kebetulan atau tidak, aku nyaris tidak pernah melihat Heath Ledger main film yang bersetting jaman sekarang. Mulai dari "The Patriot", "A Knight's Tale", "The Brothers Grimm", "Brokeback Mountain" hingga "Cassanova" semuanya bersetting jadul, cuma "Monster's Ball" saja yang bersetting agak jaman sekarang. Mungkin ada juga film Heath Ledger yang bersetting jaman sekarang tapi akunya aja yang kebetulan ngga perna nontonnya. Memang sih tampangnya si Heath Ledger ngga terlalu metrosexual sehingga cocok main jadi orang jaman dulu. Menurut rencana si Heath Ledger ini bakal memerankan tokoh The Joker dalam film Batman nya Christian Bale selanjutnya yang berjudul "the Dark Knight". Entah sudah selesai atau belum syutingnya, mudah-mudahan sih udah kelar sebab menurutku si Heath Ledger ini cocok juga meranin The Joker yang sinting abis lantaran dia punya senyum yang mirip senyum khasnya Joker. Well, walaupun si Heath ato keluarganya ngga kenal aku tapi aku mau ngucapin aja turut berduka cita aja Rest In Peace man...

Senin, 21 Januari 2008

Percakapan dalam Angkot

Kemarin siang ketika aku baru saja naik mikrolet M16 jurusan Kalibata-Kp Melayu ada seorang ibu-ibu bertanya kepadaku dimanakah letak Gelanggang Remaja Jakarta Timur. Entah kenapa kok ibu itu bertanya padaku padahal aku kan baru naik, mungkin karena tampangku yang bisa dipercaya kali ya...

Ibu : "Maaf dek... numpang tanya, klau mau ke Gelanggang Remaja Jakarta Timur turunnya dimana ya?"

Aku : "Di depan nanti ada halte busway, turun aja disitu. Nanti saya kasih tau deh kalau dah nyampe..."

Rupanya ada seorang bapak yang tersinggung kenapa ibu tersebut bertanya padaku bukan pada dia yang dari tadi sudah seangkot sama si ibu. Ketika aku ngomong dengan si Ibu diapun ikutan nibrung

Bapak : "Oh bentar lagi tuh bu nyampe..."

Ketika baru sampai di lampu merah Polonia, si Bapak menyuruh turun si ibu

Bapak : "Turun sini bu tinggal nyebrang dan jalan dikit"

Secara aku tahu persis lantaran Gelanggang Remaja adanya persis di depan kantorku, lampu merah Polonia masih sekitar 30M lagi dari gelanggang, aku berusaha mengkoreksi informasi si Bapak sok tahu tersebut.

Aku : "Masih agak jauh, nanti di depan saja pas halte busway"

Si bapak so tau masih aja nyolot

Bapak : "Tuh bu itu gedungnya dah keliatan..." (sambil menunjuk gedung PPFN)

Si ibu nyaris mempercayai omongan si bapak sok tau tersebut sudah siap-siap mo turun, tapi aku cegah soalnya kan memang masih lumayan agak jauh juga mana lagi matahari lagi terik-teriknya.

Aku : "Bukan disini tapi di depan sana pas di halte busway...."

Si bapak makin nyolot

Bapak : "Ngga percaya lagi dia, itu tuh gedungnya... (Masih menunjuk gedung PPFN)"

Aku juga ikutan nyolot juga

Aku : "Itu sih gedung PPFN Pak... Gelanggang Remaja masih di depan sana. Saya tau persis kok sebab setiap senin saya main batminton disana .... " (padahal ngga juga sih sebetulnya)

Si supir yang mendengar keributan penunpangnya, berusaha menengahi dengan bertanya ada apa sebenarnya, si supirpun mengamini perkataanku kalau Gelanggang Remaja masih didepan.

Supir : "Gelanngang sih masih di depan, noh deket halte busway"

Setelah sampai di depan gelanggang yang ada halte buswaynya dengan nama "Gelanggang Remaja" , aku juga sengaja menegaskan lagi

Aku : "Tuh bu... di seberang gelanggangnya, naik aja jembatan penyeberangan jangan lewat bawah sebab kalau lewat bawah sering kejadian orang kesenggol busway"

Si Bapak sok tahu langsung pasang muka bete...

Moral cerita :
Kalau mau menanyakan suatu tempat lebih baik tanya saja sama abang mikroletnya sebab mereka setiap hari melewati jalan itu jadi otomatis lebih dapat dipercaya daripada penumpang yang mana tau punya sifat sok tahu seperti bapak diatas.

Minggu, 09 Desember 2007

Peristiwa Bojongkokosan; Sebuah Potongan Sejarah




Bagi mereka yang tinggal di daerah kabupaten Sukabumi tepatnya sekitar daerah Parungkuda hari pahlawan itu bukan jatuh tanggal 10 November melainkan tanggal 9 Desember. Kenapa demikian? Karena tanggal 9 Desember 1945 terjadi sebuah peristiwa heroik ketika sejumlah pejuang lokal melakukan serangan terhadap pasukan sekutu. Peristiwa diawali oleh informasi yang mengatakan bahwa akan ada sekitar 2 truk pasukan sekutu dari Jakarta yang akan bergerak menuju Bandung dalam rangka hendak melucuti tentara sekutu. Para pejuang lokal ini bersiap-siap mengambil posisi di kedua sisi sebuah tebing dekat talang air di desa Bojongkokosan. Secara geografis daerah ini memang cocok untuk melakukan penyergapan karena jalan raya utama berada di tengah-tengah tebing yang dirimbuni oleh semak-samak selain itu juga talang air yang dipilih para pejuang ini juga berada di sebuah belokan tajam. Sekitar jam 3 kurang, rombongan pasukan sekutu yang ternyata berjumlah lebih banyak dari pekiraan yaitu sekitar 1000 orang memasuki daerah Bojongkokosan dan mereka dikejutkan oleh serangan mendadak dari para pejuang lokal. Sebetulnya secara matematis kita kalah dalam pertempuran selama 2 jam tersebut karena kita sebagai pihak penyerang harus kehilangan 70 orang pejuang dan disisi lain tentara sekutu yang tewas hanya 50 orang. Namun perlu diingat secara senjata kita kalah jauh, hanya sedikit pejuang kita yang pakai senjata api sisanya hanya mengandalkan batu sedangkan seluruh tentara sekutu bersenjata lengkap.


Pertempuran Bojongkokosan yang tidak terlalu dikenal dalam buku sejarah nasional ini rupanya berefek sangat besar baik bangsa Indonesia maupun pihak sekutu. Peristiwa penyergapan tentara sekutu oleh para pejuang di desa Bojongkokosan ini rupanya memberikan inspirasi dan menambah motivasi para pejuang di Bandung dalam melawan tentara sekutu hingga akhirnya timbul perisiwa bersejarah lainnya yaitu Bandung Lautan Api. Sementara di Inggris sana sebagai dedengkot tentara sekutu langsung terjadi kehebohan karena jumlah korban yang jatuh di pihak sekutu dianggap cukup besar dan salah satu yang tewas ada seorang perwira tinggi tentara kerajaan Inggris. Terjadi perdebatan di parlemen Inggris yang juga menarik perhatian dunia. Akhirnya Inggris membalas perbuatan para pejuang tersebut dengan menugaskan angkatan udaranya untuk memborbardir kawasan Cibadak dan Cisaat.


Peristiwa ini memang kalah terkenal jika dibandingkan dengan peristiwa 10 November di Surabaya namun bagi masyarakat sekitar kejadian tersebut lebih nyata karena masih ada beberapa orang yang mengalami langsung peritiwa tersebut yang tidak jemu-jemu menceritakan kembali kisah heroik tersebut kepada anak-anak muda. Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemda setempat agar peristiwa tersebut bisa diakui sebagai sejarah nasional. Hasil positif mulai didapat dari provinsi Jawa barat yang menjadikan tanggal 9 Desember ini sebagai hari juang Siliwangi. Selain itu untuk mengenang peristiwa tersebut makan pemda setempat juga membangun sebuah monument yang dinamakan Museum Palagan Bojongkokosan.





Sumber :
http://www.indomedia.com/tribunjabar/detail.asp?id=3056.
http://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Bojong_Kokosan
Cerita dari mulut ke mulut

Senin, 26 November 2007

Alat Jahit Portable

Barang-barang made in China yang benar-benar sudah mengekspansi pasar Indonesia. Peredarannya mulai dari pasar swalayan jaringan international hingga ke pasar tradisional becek dan bahkan sampai ke pedagang asongan. Jenis barang buatan Cina ini macam-macam jenisnya, kalau dulu barang made in China banyak yang berjenis bajakan barang-barang bermerk tapi sekarang ini mulai banyak juga barang-barang unik yang cukup inovatif juga. Seperti yang aku jumpai dalam sebuah bus kota, seorang pedagang asongan menjajakan sebuah alat yang dia klaim sebagai mesin jahit portable ha...ha...
Mesin jahit portable? jangan dibayangkan bentuknya yang sebesar mesin jahit beneran. Seperti yang bisa dilihat pada gambar di atas, mesin jahit portable atau sebetulnya lebih tepat disebut sebagai alat jahit ini bentuknya mirip dengan peralatan kantor yang disebut pengkokot (hekter, jepretan) namun dilengkap oleh jarum dan benang. Menurut penjualnya cukup mengeluarkan uang kecil Rp. 10.000 kita tak perlu lagi pergi ke tukang jahit. Sang penjualpun tak lupa mengadakan demo kecil-kecilan tentang cara dan penggunaan alat tersebut. Cara mempresentasikan promosi dagang jualannya bikin aku jadi penasaran dengan alat lucu tersebut. Aku iseng-iseng membelinya dengan tujuan bukan sama sekali untuk menjahit namun hanya sekedar iseng pingin tahu cara kerja alat tersebut. Seorang ibu disebelahku komen katanya percuma saja beli alat tersebut lantaran fungsinya sangat jauh dengan mesin jahit beneran tapi aku bilang kepada ibu tersebut tujuan aku membeli alat tersebut karena ingin tahu cara kerjanya.
Sesampainya di rumah aku langsung mencoba alat tersebut, rupanya setelah mempraktekannya sendiri aku harus mengakui kalau abang penjualnya memang jago berpromosi. Cara menggunakannya mirip menggunakan alat jepretan, kalau melihat demo yang dilakukan sang penjual di bis cara penggunaan alat ini nampak mudah namun setelah mencoba sendiri baru ketauan kalau cara penggunaannya tidak mudah dan hasilnya tidak sebaik seperti yang di demokan di atas bus. Selain itu seperti umumnya barang-barang made in China lainnya yang kualitasnya berbanding lurus dengan harganya, setelah beberapa kali dicoba sudah mengalami kerusakan ringan. Kerusakannya hanya lemnya saja yang lepas namun sebetulnya masih dapat difungsikan. Mumpung lemnya copot sekalian saja aku buka untuk melihat dalamnya, sebetulnya dalamnya mirip dengan jepretan hanya saja mengalami sedikit modifikasi dengan mengganti bagian atasnya dengan jarum jahit seperti yang dipakai untuk di mesin jahit sungguhan dan plus ditambah tempat benang di bagian sampingnya.
Secara ide, alat jahit mini ini cukup brilian. Kalau saja pembuatannya lebih diseriuskan tentu akan menjadi barang yang sangat berguna karena alat jahit seperti ini sebetulnya cukup praktis dan dapat digunakan untuk kegiatan jahit menjahit ringan seperti membuat tambalan. Kalau dulu Jepang terkenal sebagai bangsa yang inovatif maka sepertinya sebutan ini bakalan bergeser ke negara tetangganya China. Apalagi saat ini negara China juga sedang pesat-pesatnya membangun perindustrian.

Rabu, 14 November 2007

Gang Selot

Sengaja kemarin aku mengambil cuti sehari, tujuan utamanya sih pergi ke kantor Kecamatan untuk menyelesaikan urusan perpanjangan KTP. Urusan PerKTPan ini sekarang harus diurus langsung oleh yang bersangkutan dan tidak boleh diwakilkan atau "nitip" sama Pak RT lagi, secara kantor Pak Camat ini cuma buka dari hari Senin sampai Jumat saja jadi mau tak mau harus mangkir kerja. Pada awalnya terbayanglah keribetan urusan birokrasi dengan para pejabat lokal yang sama sekali tidak berkesan profesional namun kekhawatiranku tidak terbukti ternyata urusannya bisa langsung selesai kurang lebih 15 menit saja. Kadung sudah ngambil sehari penuh maka sisa hari libur aku manfaatin untuk melakukan perjalanan jajan nostalgia ke Gang Selot Bogor.

Gang selot merupakan sebuah jalan yang letaknya persis di sebelah SMAN 1 Bogor, tempat aku bersekolah dulu. Aku sebetulnya sudah lama kangen ingin mencicipi Baksonya yummy itu sejak lama namun sayang belum menemukan waktu yang tepat untuk mengunjungi kota seribu angkot tersebut. Akhirnya kemarin aku putuskan untuk berjalan-jalan ke Bogor dengan pertimbangan kalau hari biasa Bogor tidak semacet akhir pekan. Waktu jaman aku dulu keadaan gank selot ini termasuk kumuh dan full lalat tapi sekarang ini kondisinya jauh lebih baik paling ngga warung-warungnya dah mulai rapi dan populasi lalatnya juga dah mulai menurun. Biasanya aku jajan disini pada saat pulang sekolah sehingga ngga heran kalau sebagian besar waktu makan siangku waktu SMA ini aku habiskan di gang selot ini. Gang selot ini juga tempat favorit para siswa-siswa bandel yang sedang mabal dari kelas, aku juga termasuk siswa jenis ini. Memang kelakuanku di SMA yang sering bolos dan malas belajar berbanding terbalik dengan kelakuanku saat SD yang memang pelajar yang disiplin dan rajin.


Ada 2 makanan favoritku di gang selot ini yang pertama adalah Bakso dan Toge Goreng. Bakso sebetulnya yang paling aku suka namun makanan ini hanya bisa kunikmati kalau lagi awal minggu saja sebab harganya lumayan mahal maklum waktu SMA aku sudah ngekost dan dapat uang saku mingguan, sedangkan Toge Goreng jadi makanan favoritku dikala bokek sebab harganya murah tapi bikin kenyang. Rupanya aku datang di waktu yang tepat sebab anak-anak sma dan smp masih belum pulang jadinya suasana gang selot tidak terlalu ramai. Langsung saja kudatangi penjual bakso, favorit para pelanggan bakso ini adalah mie yamin dengan bakso tapi kalau dulu semuanya baik mie maupun baksonya dalam satu mangkok sekarang ternyata dipisah, satu mangkok berisi hanya mie saja dan mangkok satunya berisi bakso beserta kuahnya. Dengan menggunakan dua mangkok seperti ini tentu porsinya jadi tambah besar mungkin kapasitas tampung perut anak sekarang lebih besar daripada anak seangkatan aku. Sebetulnya aku lebih suka model jaman aku yang semuanya tumplek blek dalam satu mangkok karena porsinya lebih pas tapi soal rasa tidak banyak berubah masih sama seperti dulu. Selesai makan bakso aku ngaso-ngaso sebentar sambil memperhatikan tingkah anak-anak sekolah yang lagi makan disana, pasti mereka ini adalah anak-anak akan masuk siang atau sedang membolos seperti yang sering aku lakukan dulu. Biasanya penyebab utama kabur dari pelajaran adalah lupa ngga ngerjain tugas atau kadang-kadang juga malas ketemu gurunya dan untukku masih ada satu alasan lagi yaitu lagi ngidam pingin makan bakso gang selot. Kalau lagi ngidam berat aku suka bela-belain bolos karena kalau menunggu hingga jam istirahat atau pulang kadang-kadang sering gagal karena kalah bersaing dengan siswa lain yang beruntung dapat keluar dari kelas lebih dulu, bakso memang makanan favorit para siswa.

Sebetulnya perut ini sudah terasa kenyang tapi masih penasaran terhadap Toge Goreng maka akupun memesan Toge Goreng. Seingat aku, sulu penjual Toge Goreng adalah seorang ibu-ibu kurus tapi sekarang yang jualan adalah seorang pemuda mungkin penjual Toge Goreng ini telah melakukan regenerasi. Entah karena penjualnya lain atau mungkin juga karena efek kekenyangan makan bakso rasa Toge Gorengnya tidak seenak dulu. Tapi menurut aku sih karena sekarang penjuaknya sudah menggunakan kompor bukan kayu bakar seperti dulu, sebetulnya yang bikin sedep itu adalah efek dari asap hasil pembakaran kayu bakar. Sambil makan Toge Goreng aku pesan minum dari bapak penjual minuman yang sama seperti dulu, bapak yang aku lupa namanya itu bertampang mirip Telly Savalas sang pemeran Kojak. Sebetulnya aku ingin mengajak ngobrol bapak tersebut namun sang Bapak rupanya sedang asik membahas topik seputar bisnis tanah dengan seseorang. Sebetulnya masih ada makanan SMAku yang aku rindukan yaitu Mie Ayam Bejo tapi si Bejo ini jualannya di kantin sekolah jadi agak-agak susah untuk menyelundup ke dalam sekolah.
Tak terasa hingga tengah hari waktunya bubar sekolahan, Gang Selot segera penuh sesak oleh para pelajar yang perutnya keroncongan, sebelum terjebak dalam huru-hara perebutan tempat makan lebih baik aku menyingkir saja dulu. Sebelum pulang aku sempatkan untuk mampir di tukang gorengan di sebelah tukang minuman untuk membeli Tahu Slawi camilan kegemaranku dulu. Tahu Slawi itu adalah tahu yang diberi adonan aci (seperti untuk cireng) digoreng dalam minyak panas, rasanya top banget apalagi kalau baru keluar dari penggorengan. Uhmmm ternyata lumayan juga berwisata jajan nostalgia seperti ini, walapun yang dimakan cuma jajanan anak sekolah tapi rasanya jadi lain karena pakai tambahan bumbu nostalgia. Apalagi kalau pake teringat dengan acara taksir menaksir yang sudah umum terjadi di tempat jajan seperti ini. Kapan-kapan aku mau cuti lagi ah, kali ini aku mau berwisata jajan di bedeng Tarki, mudah-mudahan bedeng doyong itu belum runtuh.

Senin, 12 November 2007

Gabus Pucung

Masakan betawi yang paling dikenal adalah soto betawi yang berisi jeroan dan berkuah santan kental dan soto betawi ini rasanya enak setara dengan kadar kolesterolnya yang juga tinggi. Sebetulnya ada juga satu jenis masakan betawi yang berefek samping ngga sejahat soto betawi yaitu Sayur Pucung Gabus atau disebut juga Gabus Pucung. Memang nama Gabus Pucung ini tidaklah setop markotop soto betawi namun rasa-rasanya tidak ditemukan makanan ini di daerah lain selain di kampung betawi terutama di daerah Bekasi. Saya baru pertama kali mencoba masakan khas betawi ini di sebuah warung makan yang spesialisasinya memang gabus pucung di daerah Harapan Indah Bekasi.

Dari namanya kita bisa langsung tahu kalau bahan baku utama Gabus Pucung ini adalah ikan gabus, sedangkan pucung adalah nama betawi dari kluwek. Selama ini aku tahunya ikan gabus itu temannya Peda, Teri, Jambal dan ikan asin lainnya ternyata ada juga masakan yang mengolah ikan secara langsung ini tanpa perlu melalui proses pengasinan dulu. Maka dari itu aku jadi penasaran ingin tahu rasanya ikan gabus yang dimasak dengan kluwek ini. Secara berbahan dasar pucung atau kluwek sepintas gabus pucung ini mirip rawon tapi dari segi citarasa tetap ada perbedaan. Kuah gabus pucung ini terasa lebih pedas karena terdapat irisan cabai rawit dan jahe. Ikan Gabusnya sendiri sepertinya sudah melalui perebus yang cukup lama dalam kuah pucungnya sebab rasa kuahnya benar-benar meresap hingga kedalam daging ikan. Pertama kali mencoba aku langsung jatuh cinta dengan masakan asli betawi yang katanya sudah nyaris punah ini.


Sambil menikmati lezatnya sayur gabus pucung aku mendapatkan beberapa fakta baru yang tidak aku ketahui sebelumnya yaitu aku baru tahu kalau ikan gabus itu semasa hidupnya tidak pernah berteman dengan ikan teri, kembung, pari, cumi-cumi dan udang karena ikan gabus sama seperti ikan jambal hidup di air tawar. He..he.. maaf ya atas ketidaktahuan aku ini sebab dulu aku membenci pelajaran biologi. Ikan gabus juga termasuk ikan yang sangat merdeka, mereka tidak terlalu senang diternak makanya sang penjual gabus pucung hanya mengandalkan dari hasil tangkapan para pengepul. Konon selain susah ditangkar ikan gabus juga susah ditangkap, untuk mendapatkannya para pengepul harus menyetrum ikan yang mempunyai kepala mirip lele ini. Aku tahu kalau kepala ikan gabus mirip lele karena waktu aku makan kemarin kebetulan aku dapat kepalanya. Mungkin karena proses memasaknya yang cukup lama jadinya kepala ikan gabus ini tidak sekeras kepala lele yang di pecel lele. Walaupun hidup di air tawar tapi rasa daging ikan gabus ini lebih mirip rasa daging ikan laut namun tidak terlalu amis.


Seporsi sayur gabus pucung dihargai Rp. 15.000, memang sepertinya cukup mahal untuk ukuran makanan warung namun bila dilihat dari rasa dan masakan ini termasuk langka maka harga segitu saya kira cukup wajar. Kenikmatan rasa sayur gabus pucung ini membuat aku lupa daratan, begitu dagingnya tandas aku langsung mengangkat batok kepala ikan gabus tersebut dan slrup...slrup... kuisap-isap batok kepala tersebut sampai-sampai aku kenagigitan ikan gabus tersebut. Yap saking asiknya mengisap kepala ikan malang tersebut tanpa aku sadari bibirku tersangkut oleh gigi ikan gabus yang lumayan tajam tersebut. Tapi secara keseluruhan sayur gabus pucung masakan warung Udin Ombo (Kalo gak salah gitu nama warungnya) di Harapan Indah Bekasi ini patut dicoba oleh siapa saja yang senang bersurfing lidah.