Jumat, 11 Januari 2008

Being 20Something is Hard - Devi Pravitasari

"Being 20 Something is Hard" sebetulnya adalah novel berbahasa Indonesia karya Dewi Pravitasari. Aku tertarik membeli novel ini karena masalah yang dibahas menarik yaitu mengenai quarter life crisis yang umumnya dialami oleh cewek-cewek umur 20-29 tahun dimana saat ini aku juga sedang berada dalam masa tersebut. Ekspektasi aku ketika membeli baca buku ini lumayan besar juga dengan berharap bisa bercermin diri dengan apa yang terjadi dalam kisah buku tersebut. Terus terang akibat membaca buku ini aku jadi sadar kalau aku juga saat ini sedang mengalami quarter life crisis, di usia seperti ini kita sudah telah tumbuh dewasa dan sibuk membentuk eksistensi diri namun di sisi lain banyak pihak yang sibuk meributkan kapan kita akan melangkah ke jenjang pernikahan. Pinginnya sih karir dan kehidupan asmara berjalan lancar dan sempurna pokoknya semuanya ideal namun kenyataannya sering tidak sesuai dengan harapan.

Walaupun setting waktu yang digunakan melompat-lompat dari masa kini lalu ke masa lampau balik lagi ke masa sekarang dan diakhiri dengan masa depan, buku ini tetap lumayan mudah untuk diikuti. Sang tokoh utama Sara adalah seorang psikolog muda yang berusia menjelang 30 tahun namun masih belum menikah juga. Secara fisik oke banget, karirnya juga cukup bagus dan sebetulnya banyak cowok-cowok yang naksir padanya namun hatinya yang terluka dimasa lalu masih belum sembuh sehingga membuatnya malas untuk berkomitmen. Pada suatu hari tiba-tiba datang sebagai kliennya sang mantan pacar yang pernah menyakitinya dulu. Kejutan tidak cuma itu di hari yang sama ketika sedang kumpul-kumpul bareng teman, Sara kembali berjumpa kembali dengan laki-laki yang dianggap sebagai cinta matinya. Kedua laki-laki yang pernah mengisi hati Sara tersebut kebetulan kakak-adik sehingga membuat masalah makin runyam. Penyebab bubarnya hubungan cinta Sara dengan sang mantan pacar karena ngebetnya Sara untuk menikah namun si laki-laki masih belum siap karena merasa masih ingin mngejar karir. Akibat gencarnya Sara mengejar "pertanggungjawaban" sang pacar membuat si laki-laki pusing kepala, alih-laih memberi kepastian kepada Sara malah melakukan perselingkuhan yang ternyata dipergoki oleh Sara. Setelah putus dengan sang pacar Sara menjadi "numb" dengan laki-laki apalagi kalau sudah menyangkut masalah pernikahan. Pertemuan kembali denga kedua laki-laki itu sedikit demi sedikit mulai melunturkan hati Sara. Setelah kembali mengalami berbagai peristiwa yang pahit akhirnya Sara dapat menemukan cinta yang sesungguhnya dan berhasil membangun rumah tangga yang diidam-idamkannya tapi denga laki-laki yang selama ini tidak pernah dia sangka. Memang istilah jodoh itu di tangan Tuhan dibuktikan dalam kisah di buku ini.


Sebetulnya buku "Being 20 Something is Hard" ini cukup sukses mengangkat issue quarter life crisis, beberapa kali aku merasa tertohok ketika membaca beberapa bagiannya. Pengarangnya yang memang cewek yang sedang dalam masa quarter life crisis memang betu-betul memahami dunia cewek hingga mendetail. Namun secara cerita ada ganjalan yang kurang yaitu banyaknya kejadian-kejadian yang terjadi secara kebetulan yang membuatnya mirip dengan kisah di sinetron Indonesia. Selain itu sang tokoh utama digambarkan terlalu sempurna berwajah cantik, seksi, karir cemerlang, pintar, supel, dan anak orang kaya pula, maka ngga heran kalau sebetulnya dia banyak yang naksir. Rasa-rasanya dengan bekal yang sangat sempurna seperti apa dimiliki sang tokoh utama rasa-rasanya masa quarter life crisis bisa dillewati dengan baik-baik saja. Mungkin akan lebih bermakna dalam bagi pembacanya bila sang sosok utama hanyalah wanita biasa saja atau bahkan yang sedikit memiliki kekurangan sehingga ketika harus melewati masa quarter life crisis benar-benar sebuah perjuangan besar. Tapi secara keseluruhan cukup menghibur juga.

Kamis, 10 Januari 2008

Confession of a Dangerous Mind - Chuck Barris

Confession of a Dangerous Mind diklaim oleh sang pengarang Chuck Barris sebagai unofficial autobiography, namun tidak ada yang tahu pasti kebenarannya. Autobiography sendiri merupakan kisah nyata kehidupan pengarangnya jadi seharusnya lebih banyak unsur fakta daripada fiksi. Chuck Barris dikenal sebagai produser beberapa acara Game Show TV terkenal di Amerika pada era 60an sampai 70an seperti "The Dating Game" dan "The Newlywed Game" serta pembawa acara (dan tentu saja merangkap produser) acara "The Gong Show" yang kini juga diadaptasi oleh sebuah TV swasta di Indonesia. Ketika kecemerlangannya dalam berkreasi menciptakan sebuah tontonan Game Show menurun, Chuck Barris putar setir dengan mengarang beberapa buku, salah satunya adalah "Confession of a Dangerous Mind" ini.
Entah apakah yang ditulisnya di bukunya ini memang yang sesungguhnya terjadi atau hanya sekedar taktik dagang dari Chuck Barris agar bukunya laku di pasaran maka dia berani mengungkapkan kalau dirinya pernah bekerja di lembaga intelejen Amerika CIA sebagai agen lapangan. Chuck Barris sendiri tidak pernah mengamini atau menyangkal soal kebenaran isi bukunya ini namun taktiknya tersebut lumayan berhasil. Buktinya adalah kisah "Confession of a Dangerous Minds" dibuat versi layar lebarnya pada tahun 2002 yang disutrdarai oleh George Clooney.


Baiklah mari kita anggap buku ini sebagai autobiography betulan. Cerita diawali dengan cerita masa muda Chuck Barris yang sangat santai serta dengan berbagai kisah asmara khas anak muda. Barris yang mempunyai pola pikir eksentrik sehingga membuat dirinya tidak betah bekerja pada bidang-bidang yang sifatnya konvensional. Ketika sedang sibuk mencari pekerjaan baru setelah menganggur cukup lama, Barris mendapat panggilan pekerjaan yang cukup unik ternyata pekerjaan itu adalah menjadi anggota CIA. Hasrat utama Barris sebetulnya ingin bekerja di dunia perTVan untuk mengembangkan ide-idenya mengenai acara Game Show. Setelah beberapa kali idenya ditolak mentah-mentah oleh berbagai jaringan TV akhirnya Barris sukses juga membuat sebuah acara Game Show di TV yang diberi judul "The Dating Game". Walaupun awalnya sempat tertaih-tatih namun kesuksesan tiba juga hingga Barris berhasil membuat beberapa acara lain yang tidak kalah sukses. Dibalik itu tidak ada yang tahu kalau Barris juga merangkap sebagai agen lapangan CIA dan menjadikan profesi produser TV sebagai kedoknya sempurna. Kedua profesi tersebut dijalankan Barris dengan sukses namun kisah cintanya dengan para wanita tidak sesukses karirnya tersebut. Justru ketika Barris sudah merasa jenuh dengan kedua profesinya tersebut, dia berhasil menemukan pelabuhan cintanya.


Kisah kehidupan Barris yang kalau betulan terjadi ini benar-benar luar biasa dan memang layak diangkat ke film. Namun setelah selesai membaca buku ini aku malah makin sangsi kalau kisah ini benar terjadi di kehidupan nyata Chuck Barris. Memang sih dibuku ini juga diselipkan beberapa foto supaya dapat memberikan kesan yang meyakinkan tapi itukan bisa dibuat-buat juga mengingat sang pengarang pernah bekerja di industri hiburan. Setelah memahami faktor psikologis Barris si produser TV yang hidupnya cenderung membosankan, aku malah merasa kalau kehidupan Barris sebagai agen CIA hanya khayalannya belaka sebagai kompensasi dari rasa bosannya. Selain itu aku juga merasa janggal membaca proses perekrutan Barris sebagai agen CIA rasanya terlalu sederhana dan gampang untuk menjadikan seseorang sebagai agen rahasia. Dan yang terakhir adalah kita semua ahu kalau CIA adalah sebuah lembaga mata-mata yang sangat kompleks dan sangat menjaga kerahasiaan tapi ko bisanya si Chuck Barris ini leluasa menceritakan pengalamannya bekerja sebagai agen termasuk pengalamannya dalam menghabisi nyawa tokoh-tokoh yang dirasa berbahaya oleh CIA. Di sisi lain kalau disebut buku fiksi juga kurang cocok karena ada banyak unsur yang berdasarkan fakta terutama di seputar kisah Barris ketika berkecimpung di dunia pertelevisian jadi sepertinya menurutku ini adalah buku setengah autobiography.

Selasa, 08 Januari 2008

Natonal Treasure: Book of Secrets

Kadang-kadang sebuah film dibuat memang bertujuan hanya sebagai hiburan belaka yang diharapkan mendatangkan profit besar serta sama sekali tidak dibuat untuk mengikuti ajang penghargaan seperti piala Oscar atau hanya untuk mendapat pujian para kritikus semata. Film "National Treasure: Book of Secrets" adalah salah satu contohnya, sengaja dibuat untuk menghibur penontonnya tanpa harus mengerutkan kening. Bahkan untuk menarik minat banyak penonton terutama pada liburan akhir tahun ini maka film ini juga dibuat "seaman" mungkin sehingga dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Sebagai sequel kedua film "National Treasure: Book of Secrets" ini masih memajang pemain-pemain yang sama seperti seri pertamanya diantaranya Nicolas Cage, Diane Krueger, Justin Bartha dan Jon Voight.

Kali ini sang pemburu harta karun Ben Gates mempunyai misi untuk memperbaiki nama baik kakek moyangnya yang terlanjur cemar akibat bukti yang disodorkan oleh Mitch Wilkinson terkait kasus pembunuhan mantan Presiden Abraham Lincoln. Dalam melakukan penyelidikannya, Ben mengajak ayahnya serta teman lamanya Riley Poole dan tak ketinggalan sang mantan pacar Abigail Chase. Dari tadinya cuma berniat mencari bukti untuk memperbaiki nama baik sang leluhur, petualang mereka malah berkembang hingga pencarian kota harta karun peninggalan jaman sebelum Colombus, kota tersebut dikenal sebagai The City of Gold atau dalam bahasa aslinya disebut Cibola. Ternyata tujuan utama Wilkinson memfitnah leluhur Gates adalah untuk membuat Gates bergerak dalam mencari lokasi pasti Cibola tersebut karena sebetulnya leluhur Gates tewas akibat berusaha menjaga rahasia lokasi Cibola dari tangan kelompok tertentu.

Petualang mencari lokasi Cibola ini berlangsung mulai dari Paris, London, Gedung Putih hingga ke Gunung Rushmore yang terkenal dengan pahatan wajah para mantan presiden Amerika. Bahkan demi kelangsungan misinya, Gates nekat menculik orang nomor satu di Amerika alias sang presiden. Selain berisi seputar petualang ala Indiana Jones, film "National Treasure: Book of Secrets" ini tak lupa menyelipkan sedikit bumbu-bumbu roman sebagai penyedap. Kisah roman Ben dan Abigail tentunya jadi menu utama tapi kisah CLBK antara ayah Ben dan ibu Ben yang sudah lama ceraipun tak kalah menariknya. Sebagai film konsumsi keluarga tentunya film ini berakhir bahagia walaupun proses penyelesaiannya kalau dipikir pakai logika sangat tidak masuk akal. Tapi sekali lagi film ini kan cuma untuk hiburan keluarga saja jadi ngga usah ditonton sambil mikirin logikanya. Secara keseluruhan film ini masuk dalam kategori sangat menghibur lengkap dengan humor-humor segar diselipkan disana-sini untuk menurunkan tensi ketegangan penonton.

Senin, 07 Januari 2008

The Lazarus Vendetta - Patrick Larkin

The Lazarus Vendetta dimulai dengan eksperimen mutakhir sejumlah ilmuwan di sebuah fasilitas penelitian bernama The Teller Institute di Santa dengan menggunakan nanotechnologi. Nanotechnology ini sebetulnya sangat berguna untuk memperbaiki taraf hidup manusia namun bisa sangat berbahaya bila jatuh ke tangan yang salah maka tidak heran kalau keamanan di fasilitas penelitian tersebut sangat ketat sekali. Ternyata banyak juga yang tidak setuju dengan kegiatan pengembangan nanotechnology ini sehingga banyak menerima protes dari para demonstran yang tergabung dalam sebuah organisasi bernama The Lazarus Movement. The Lazarus Movement ini bergerak di bidang lingkungan hidup yang dipimpin oleh seorang sosok rahasia yang mempunyai nama sandi Lazarus. Ditengah gencarnya demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh The Lazarus Movement di depan The Teller Institute, tiba-tiba datanglah sekelompok penyusup yang mensabotase fasilitas tersebut serta melakukan penyerangan terhadap para demonstran sehingga menimbulkan dan kepanikan luar biasa. Akibatnya terjadi kebocoran dalam fasilitas yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa dan anehnya para demonstran yang berada diluarpun seperti terkena radiasi dari efek nanotechnology yang mirip dengan penyakit ebola yaitu pendarahan dari dalam tubuh yang sangat luarbiasa dan hanya dalam hitungan menit orang tersebut akan tewas dalam keadaan mengenaskan seperti es krim yang meleleh.

Letkol Jon Smith sang jagoan kita yang pada saat kejadian kebetulan berada di Teller Institute dengan kapasitas sebagai ilmuwan tamu berhasil meloloskan diri dari kejadian tersebut. Hal ini otomatis membuat dirinya harus terjun langsung untuk menyelidiki kejadian yang memilukan tersebut. Jon Smith dalam menjalankan misinya mendapat bantuan dari sobat lamanya yang juga mantan agen rahasia Inggris. Dan sekali lagi Jon Smith harus bertemu kembali dengan mantan calon adik iparnya yang anggota CIA Randi Russell yang kebetulan juga sedang menyelidiki kasus Lazarus Movement ini.



Dari hasil penyelidikan mereka mendapatkan kejutan besar dengan fakta kalau para demonstran dari The Lazarus Movement ini hanyalah sebagai umpan dari rencana jahat yang akan dilakukan Lazarus, pimpinan mereka. The Teller Institute bukan satu-satunya lembaga yang mengembangkan Nanotechnology tapi ternyata Lazarus sendiri juga mengembangkan nanotechnology juga namun untuk dijadikan senjata pemusnah massal. Sang Lazarus ini ingin memusnahkan sebagian besar populasi penduduk bumi dan akan membuat dunia baru yang tatanannya sesuai dengan apa yang ia inginkan. Namun tentunya berkat penyelidikan dan kerja keras dari Jon Smith dan teman-teman, rencana Lazarus yang sangat mengerikan tersebut batal terlaksana. Sekali lagi dunia berhasil di selamatkan.



Plot cerita The Lazarus Vendetta ini lumayan komplek juga dan kadang-kadang jalan cerita berputar terlalu cepat sehingga pembaca kurang mendapatkan detailnya. Namun seperti umumnya novel kisah mata-mata karya Robert Ludlum buku ini sangat memacu adrenalin sehingga pembaca akan ingin terus menerus membacanya. Lazarus Vendetta merupakan buku kelima dari serial Covert-ONE ciptaan penulis laris Robert Ludlum, kali ini bukan Robert Ludlum sendirian yang mengarang buku karena yang bersangkutan sudah keburu wafat sehingga dilanjutkan oleh Patrick Larkin namun rasa Ludlumnya masih terasa sangat kental.

Minggu, 06 Januari 2008

eM eL eM WTF!!

Beberapa waktu yang lalu seorang temanku menawarkan kerjasama bisnis, semula aku pikir dia ngajakin buka usaha apa gitu eh ternyata di menawarkan kerjasama bisnis sejenis Multi Level Marketing alias MLM, hah hari gini masih ada aja bisnis MLM ini??? Aku yang memang sedari awal kurang menyuai bisnis seperti ini langsung mentah-mentah menolak bahkan hanya sekedar ngobrol santaipun aku langsung tolak. Tapi dasar orang-orang MLM yang entah telah kena doktrin apa tetap saja pantang menyerah terus memaksa untuk mau mendengarkan presentadi dia. Dan semakin aku dipaksa maka aku makin defensif dan malah makin cenderung kasar. Semula aku menolak dengan halus tapi temanku ini terus mendesak, akupun makin kenceng aja nolaknya tapi masih belum kasar karena bagaimanapun dia temanku juga tapi si teman ini masih terus mendesak hingga akupun emosi dan menolak dengan kasar sekali.

Sebetulnya aku bukan termasuk yang anti 100% terhadap MLM, menurutku masih ada juga sih MLM yang jalannya benar. MLM yang menurutku masih benar itu adalah MLM yang pelaku kegiatan MLM tersebut menawarkan produk yang jelas misalnya tempat makan, tas, kosmetik atau apapun yang benar-benar masuk dalam kategori consumer product. Untuk jenis MLM seperti ini aku masih menghargai pelakunya dengan masih mau melihat-lihat brosur dagangannya sebab kadang-kadang memang kita butuh juga sih. Sedangkan MLM yang aku paling tidak suka adalah jenis MLM yang pelakunya belum-belum sudah menawarkan orang lain untuk ikut bergabung alias cuma jualan membership aja. Memang sih mereka juga jualan produk tertentu tapi produknya tersebut sepertinya tidak terlalu dibahas tapi lebih condong untuk mencari jaringan yang lebih luas dengan memaksa temannya masuk dalam kegiatan MLMnya tersebut. MLM seperti ini benar-benar tidak pakai logika, kalau memang niat jualan produk pastinya yang ditawarkan pertama adalah produk jualannya dong misalnya saja jamu herbal bukan keanggotaannya. Kalau semua ditawarkan jadi anggota secara logika kan berarti mengurangi pasar kita dong, trus kalau ngga ada produk yang dijual darimana coba bisa datengnya Passive Income yang sering jadi kata andalan para pelaku bisnis MLM.

Katanya MLM ini dibuat untuk menambah kesejahteraan pelakunya dengan iming-iming passive income yang jumlah bakal unbelievable kalau kita udah punya downline yang banyak sehingga mereka mengklaim bisa membantu orang-orang miskin menjadi kaya. Ha..ha... dalam dunia nyata aku belum pernah lihat ada orang miskin yang jadi kaya akibat MLM yang ada malah sebaliknya, MLM digunakan sebagai alat oleh orang yang sudah kaya untuk menjadi lebih kaya dan orang yang sudah miskin jadi makin susah karena dipaksa si orang kaya untuk ikut MLM. Aku punya fakta mengenai hal ini, ada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengadaan sumber daya manusia terutama untuk pekerjaan minor di kantor seperti Office Boy. Sang bos perusahaan itu tergila-gila terhadap MLM maka untuk meluaskan downlinenya maka dia pegawainya untuk ikutan MLM tersebut, kalau ada yang menolak maka sang anak buah akan "dimusuhi" nya dan pastinya dia tidak akan diberi kerjaan. Padahal untuk ikut MLM itu ada iuran keanggotaan dan wajib ikutan pertemuan yang ngga gratis juga. Bayangin aja tega banget si keparat itu menyuruh pegawainya yang nota bene sebagian besar berprofesi sebagai office boy dengan gaji yang ngga seberapa yang untuk mencukupi makan sehari-hari aja sulit. Bahkan seorang teman menyebut bisnis MLM sesat seperti ini sebagai bisnis menzalimi orang lain.

Memang ngga ada abis-abisnya kalau ngomomgin MLM ini, bikin capek dan emosi. Melalui tulisan ini aku ngga bermaksud menjudge MLM itu buruk, semuanya dikembalikan saja kepada masing-masing orangnya tapi aku harap bisnis MLM ini tidak membuat racun kepada orang lain. Boleh-boleh saja percaya MLM bisa membuat kaya dengan cara yang menyenangkan tapi please jangan pernah memaksakan kehendak pada orang lain. Sekali lagi no offence ya...

Sabtu, 05 Januari 2008

Soul Mountain - Gao Xingjian

Sekitar 3 tahun yang lalu aku mengalami suatu masa dimana aku merasa jenuh dengan bacaan novel yang sifatnya populeroleh sebab itu aku coba-coba membeli buku-buku yang agak berat, salah satunya adalah buku berjudul Soul Mountain karya Gao Xingjian. Aku tertarik membeli buku ini karena buku ini mendapatkan hadiah nobel untuk bidang sastra pada tahun 2000. Secara penasan pingin tahu seperti apa sih isi karya pememang nobel sastra maka aku nekat untuk membeli buku tersebut. Setelah dibeli ternyata aku baru sadar kalau karya pemenang nobel sastra ini isinya sangat berat sekali. Entah karena bahasanya yang terlalu tinggi sehingga enggga kejangkau oleh otakku atau memang terjemahan bahasa Inggris yang kurang pas dalam karena aslinya berbahasa mandarin, aku mengalami kesulitan luar biasa dalam membacanya. Akhirnya aku menyerah dan tidak melanjutkan usaha menyelesaikan membaca buku tersebut. Sampai pada liburan akhir tahun lalu yang cukup panjang, aku niatkan untuk mencoba sekali lagi untuk menaklukan buku tersebut. Dengan susah payah aku dapat juga menaklukkan buku tersebut walaupun terus terang aku ngga ngerti-ngerti amat sama jalan ceritanya. Tapi aku tetap akan berusaha membuat reviewnya.

Soul Mountain ini sepertinya adalah semi autobiografi dari sang pengarang Gao Xingjian yang memang berprofesi sebagai penulis. Jangan harapkan anda akan mendapatkan cerita yang utuh dari awal sampai akhir, selain setting waktunya yang melompat-lompat, cerita antar babpun belum tentu ada kaitannya. Ada beberapa bab yang cuma merupakan pemikiran Gao sendiri yang tidak ada hubungannya dengan cerita-cerita yang sudah-sudah. setting waktu yang sering melompat-lompat dan cerita yang sering ngga nyambung membuat kita harus benar-benar menyimak alur cerita dengan seksama tapi ini masih belum seberapa karena gaya bahasa yang digunakan Gao Xing jian benar-benar tidak biasa. Tidak seperti pengarang autobiografi lainnya yang menggunakan kata ganti orang pertama tunggal yaitu I atau saya dalam mengungkapkan cerita maka Gao memilih kata ganti orang kedua tunggal you atau Kamu, nah bingung kan... Dia yang cerita kok pakai kata ganti orang kedua tunggal sih??? Selain itu dalam menceritakan orang lain yang berhubungan dengan dirinya, Gao juga tidak menyebut nama melainkan hanya menggunakan kata he atau she jadi kadang-kadang suka bingung juga si Gao ini lagi ngobrol sama perempuan mana lagi lantaran semuanya disebut she. Sebetulnya di sebuah bab si Gao sempat menjelaskan kenapa menggunakan kata ganti orang kedua daripada kata "saya", katanya pembaca buku ini merupakan bayangan dirinya yang selalu mengikuti perginya dia (si pengarang), supaya si bayangan ini lebih nyaman maka dipilihlah jalan cerita dari sisi si bayangan dengan menggunakan kata ganti orang kedua tunggal. Bingung??? Namanya juga karya pemenang nobel makanya gaya bertuturnya sangat tidak biasa...

Pada intinya Soul Mountain ini menceritakan tentang perjalanan spiritual Gao Xingjian keberbagai daerah pedalaman di negeri China. Perjalanan ini dilakukan setelah sebelumnya Gao didiagnosa menderita kanker paru-paru namun setelah beberapa minggu kemudian ketika dilakukan pemeriksaan ulang ternyata tidak ditemukan lagi kankernya. Kejadian ini membuatnya ingin lebih melihat dunia maka iapun pergi berpetualangan sendirian. Dalam perjalanannya Gao bertemu dengan berbagai macam orang yang umumnya adalah kaum perempuan mulai dari gadis pemandu wisata yang atraktif, perawat yang frustasi, gadis yang kebelet kawin, mantan pendeta daoist yang pandai menyanyikan lagu pujian daoist yang saat itu dilarang hingga sekawanan peneliti geologi. Sambil mengikuti perjalanannya di masa kini, pembaca atau sang bayangan juga diajak untuk kembali ke masa lalu melalui ingatan-ingatan kecil. Si Gao Xingjian ini berhasil juga menularkan rasa kesepiannya kepada pembaca atau bayangannya, terus terang saja ketika membaca buku ini aku juga ikut terseret pada rasa kesepian seperti yang dialami oleh Gao dalam perjalanan spiritualnya tersebut.

Rasa kesepian yang cona diungkap buku ini mengingatkan aku akan karya Ernest Hemingway yang berjudul "The Old Man and The Sea" yang juga mendapatkan nobel sastra pada tahun 1954. Sebetulnya aku belum pernah membaca "The Old man and The Sea" tapi aku hanya nonton versi filmnya yang juga sukses menularkan rasa kesepian terhadap penontonnya. Rugi bener ya udah harus berfikir keras eh malah dapetnya rasa kesepian bukannya having fun. Ehmmm memang susah ya karena sudah terbiasa oleh novel-novel pop yang rasanya renyah seperti popcorn.

Jumat, 04 Januari 2008

Kembali...

Yuhu... Setelah 2 minggu lamanya berlibur dan meninggalkan segala aktivitas akhirnya aku datang lagi... Selama liburan selain cuti dari kegiatan kerja rutin aku juga meninggalkan kegiatan blogging ini. Waktu liburan kemarin aku habiskan di rumah orangtuaku yang terletak di sebuah desa di kaki gunung Salak. Sebetulnya ngga segitu terpencilnya sih hingga tidak masuk internet tapi karena hujan terus sepanjang hari jadinya aku malas keluar rumah hanya untuk hal-hal yang kurang penting termasuk pergi ke warnet karena udah ujyan, beycheek dan ngga adha oujeck (mengutip ucapan Cinta Laura yang lagi populer-populernya). Selama ini aku berfikir kalau aku sudah kecanduan internet tapi ternyata selama 2 minggu lalu aku sama sekali tidak merindukan saluran dunia maya ini. Selama 2 minggu liburan tersebut aku hanya keluar rumah untuk mengunjungi rumah saudara, pergi misa ke Gereja dan mengantar mamaku ke pasar, sisanya aku habiskan untuk bermalas-malasan sambil membaca buku. Aku memang sudah niat liburan ini akan menuntaskan sebuah buku yang selama ini tak bisa aku taklukan, buku itu berjudul Soul Mountain karya Gao Xingjian yang mendapatkan hadiah Nobel tahun 2000 untuk kategori sastra. Sebetulnya aku beli buku ini sudah 3 tahun yang lalu, inilah akibat sok-sokan membeli buku pemenang Nobel eh taunya malah ngga sanggup bacanya. Mumpung libur panjang maka aku paksakan untuk menuntaskan buku tersebut, akhirnya tuntas juga buku itu aku baca. Tapi aku tidak akan membuat reviewnya sekarang sebab aku ingin memulai blog pertamaku di tahun 2008 dengan yang lebih ringan dan ngga penting banget.
Membaca buku berat memang bikin cepet capek, kalau sudah bosan baca aku menonton TV. Dalam urusan nonton TVpun aku juga melakukan hal yang selama ini tidak pernah aku sukai yaitu nonton infotainment dan nonton SINETRON... Sekali lagi sinetron. Yups, secara memang tidak ada kegiatan lain dan diluar hujan terus maka iseng-iseng aku mencoba jadi pengamat sinetron. Hidup ini harus balance, baca buku pemenang Nobel Sastra sementara disisi lain nonton sinetron sampah. Aku baru sadar kalau sinetron Indonesia itu umumnya punya waktu tayang setiap hari nonstop wow... dan rata-rata mempunyai jam tayang lebih dari 1 jam dan secara diputar tiap hari maka jumlah episodenya bisa ratusan, memang luar biasa produktifnya... Makanya ngga heran banyak anak-anak muda yang berlomba-lomba pingin jadi bintang sinetron. Tapi kalau aku paling kagum sama penulis skenarionya yang harus mengarang jalan cerita dan segala macam dialognya setiap hari.
Dari hasil pengamatanku seputar sinetron, dapat aku rumuskan ada 10 poin seperti dibawah ini :
  1. Di setiap episode sinetron kejar tayang pasti ada adegan melamun atau flash back yang cukup lama. Ya lumayalah untuk menambah panjang adegan.
  2. Di sinetron para tokoh utamanya ngga ada yang pekerjaannya karyawan biasa dengan tingkat perekonomian menengah, kalau ngga pemilik perusahaan yang kaya banget pasti cuma pembantu yang miskin banget.
  3. Kalau soal dandanan sinetron memang paling top, mulai dari majikan yang baru bangun tidur sampai pembantu yang lagi ngepelpun pasti bakalan selalu tampil cantik. Paling konyol kalau ada adegan bapak direktur sarapan pagi, walaupun sarapan paginya di rumah sendiri tapi si bapak tetap berdasi dan berjas lengkap. Bo emangnya kaya gitu ya kalau direktur sarapan?
  4. Hampir di semua sinetron pasti ada kejadian masuk rumah sakitnya entah ketabrak, ketusuk atau sekedar kambuh penyakit turunannya. Para pesakitan di sinetron ini adalah manusia-manusia ajaib yang bisa segera pulih setelah walaupun habis mengalami koma.
  5. Apabila tokoh antagonis sedang merancang rencana jahat, selalu sambil diomongin pakai acara ketawa-ketawa segala.
  6. Para penulis skenario sinetron Indonesia ini rupanya banyak yang menggemari sastrawan Marah Rusli terbukti dengan banyaknya cerita soal perjodohan ala Siti Nurbaya
  7. Selain soal perjodohan, adegan cinta di sinetron umumnya sangat ruwet misalnya si A senang sama si B tapi si B seneng sama siC dan si C ini pacaran sama si D tapi sebetulnya si D suka sama si A, ehmmm bingung ya??? sama aku juga bingung
  8. Sekarang ini lagi ngetren-ngetrennya judul sinetron sama seperti nama tokoh utamanya dan semuanya nama perempuan.
  9. Tokoh antagonisnya pasti jahat banget hobinya teriak-teriak dan memelototkan mata sementara tokoh protagonisnya berhati suci banget tetap sabar dan nrimo walaupun habis dijahatin, ngga ada tuh yang namanya dendam palingan hanya linangan airmata.
  10. Terakhir yang merupakan masukan dari temanku Rudy yang memang menggemari sinetron, di sinetron Indonesia banyak juga tokoh yang ternyata kembar bahkan ngga cuma kembar 2 malahan ada yang kembat 3. hu..hu...

Bukannya aku sombong lebih suka film seri import seperti Heroes atau Friends tapi memang kenyataannya ngga ada sinetron yang layak tonton. Sinetron Indonesia boleh saja bisa mencapai ratusan episode bahkan lebih tapi tidak ada yang bisa bertahan tahunan seperti sitkom Friends yang mencapai 10 season. Serial Friends punya durasi setengah jam dan cuma ditayangkan seminggu sekali dan itupun jeda di setiap seasonnya cukup lama. Jadi jauh banget kualitasnya dengan sinetron Indonesia yang tayang setiap hari berarti satu episode cukup syuting sehari. Menyedihkan...