Jumat, 28 Maret 2008

Bakhtiar

Namanya Bakhtiar, profesinya adalah sebagai penjual gado-gado. Sudah puluhan tahun ia berjualan gado-gado di pinggir jalan protokol depan sebuah sekolah swasta di kawasan Jakarta Timur. Kebetulan juga kantorku berada tak jauh dari sekolahan tersebut sehingga akupun sering jajan disitu juga, gado-gadonya Bakhtiar termasuk jajanan favoritku. Seorang rekan kerjaku mengatakan ketika dia masih bersekolah di sekolah tersebut Bakhtiar sudah berjualan gado-gado. Menurut pengakuan sang penjual gado-gado sendiri malah ada pelanggannya yang dulu dia kenal pertama masih menjadi murid sekolah tersebut kini saat bertemu kembali si pelanggan telah memiliki anak yang juga bersekolah disitu.

Selain Bakhtiar, disana masih ada beberapa penjual makanan lain namun Bakhtiar tetap menjadi favorit ibu-ibu. Pembawaannya yang sangat luwes cenderung lekong membuatnya jadi dekat dengan ibu-ibu. Sambil bergoyang-goyang mengulek kacang, mulutnya juga sibuk berkicau membicarakan berbagai hal mulai dari cerita sinetron yang diputar semalam hingga gosip-gosip mutakhir yang beredar di kalangan ibu-ibu setempat. Pernah juga dia bercerita padaku kalau sehari sebelumnya ada hujan badai yang hebat hingga mengakibatkan sebuah pohon di dekat tempatnya berjualan tumbang.

“Say, ngeri banget hujan angin kemarin. Gede banget anginnya sampai pohon segede gitu aja tumbang. Sebelum tumbang tuh pohon emang udah ngeluarin bunyi krekek-krekek gitu deh... Langsung aja gue lari ke dalem (sambil menunjuk arah pos satpam sekolahan). Kaga peduli dah gue sama dagangan, yang penting nyawa gue selamet. Saking takutnya, gue sampe nangis, bener luh say gue nangis beneran sambil berdoa. "Ya Allah tolong jangan sampe gue ketiban pohon".

“Untungnya cuma nangis ya bang... Ngga sampe pake kencing di celana. Tapi bagus juga kali ya kalo nama elo muncul di koran Lampu Merah dengan judul berita Tukang Gado-Gado Tewas Mengenaskan Ketiban Pohon” jawab aku sambil menggodanya.

“Ih elu ya emang dasar, seneng ya kalau gue mati. Sumpah waktu itu serem banget rasanya gue kaya mau mati aja” ujar Bakhtiar sambil memonyongkan bibirnya.

Mendengarkan Bakhtiar bercerita sungguh menjadi hiburan tersendiri bagiku, ada saja topik unik yang dibicarakannya. Cerita senang maupun sedih dibawakannya dengan gaya manjanya yang khas sehingga membuat pendengarnya gemas. Walaupun nampak lekong tapi sebetulnya Bakhtiar adalah seorang laki-laki sejati, buktinya ia punya istri dan anak. Mungkin karena pembawaannya yang selalu ceria maka wajah si Bakhtiar ini terlihat nampak masih muda padahal anakn tertuanya sudah berumur duapuluh tahun.

Beberapa waktu yang lalu Pemda DKI Jakarta mengeluarkan Peraturan Daerah baru mengenai ketertiban umum. Salah satu isi dari Perda tersebut adalah mengatur tentang pedagang kaki lima. Akibat Perda tersebut, ketenangan berjualan Bakhtiar kini terusik karena khawatir dengan kedatangan petugas trantib siap mengangkut pedagang kaki lima yang behasil ditangkapnya. Agar lebih memudahkan ketika hendak kabur dari kejaran petugas trantib maka Bakhtiar memodifikasi gerobak jualannya jadi lebih pendek dan ringan. Namun usaha Bakhtiar itu sia-sia saja sebab akhirnya dia kena tangkap trantib dan gerobak jualannya diangkut.

Hal itu sama sekali tidak mematikan semangat Bakhtiar, beberapa hari kemudian ia kembali berjualan kali ini menggunakan sepeda motor seperti penjual siomay sepeda. Cara ini dipilih sebab dia malas berurusan dengan petugas trantib jika hendak menebus gerobak yang disita, lagipula dengan motor diharapkan akan lebih memudahkan kabur jika ada razia lagi. Kata Bakhtiar segala cara akan dia tempuh agar tetap bisa berjualan sebab kalau sampai berhenti anak-istri mau dikasih makan apa?

Menurut pendapatku pribadi, boleh-boleh saja dilakukan penertiban pedagang kaki lima supaya tidak mengganggu kenyamanan tapi tolong beri solusinya dan jangan seperti melakukan tebang pilih. Seperti kasus Bakhtiar, sebetulnya menurut saya dia dan teman-teman yang berjualan di depan sekolah tersebut termasuk para pedagang kaki lima yang tertib. Mereka membatasi tempat jualannya sehingga orang masih bisa leluasa berjalan di trotoar dan mereka juga selalu menjaga kebersihan. Di seberang jalan itu pada malam hari juga terdapat beberapa pedagang makanan tapi justru mereka tidak pernah diganggu trantib walaupun tempat jualan mereka memakan seluruh badan trotoar sehingga pejalan kaki tak bisa lewat dan terpaksa harus turun ke jalan.
Sungguh sangat diskriminatif perlakuan petugas trantib, pedagang yang sopan malah dikejar-kejar sedangkan pedagang yang mengganggu ketertiban malah dibiarkan bebas. Memang sih omzet jualan para pedagang di seberang jalan lebih besar daripada omzet Bakhtiar CS sehingga mungkin karena beromzet besar mereka bisa membayar lebih untuk “uang keamanan” nya.
Bakhtiar tetap berjualan dengan semangat walaupun petugas trantib nyaris setiap hari mendatangi lokasi tempat berjualannya. Kondisi jalan raya yang berlubang dan tak kunjung diperbaiki menyebabkan kemacetan yang parah. Namun kondisi ini justri disyukuri oleh Bakhtiar dan rekan-rekannya sesama pedagang kaki lima sebab macet menghambat laju mobil trantib sehingga mereka jadi punya waktu lebih untuk melarikan diri. Bagi Bakhtiar, kemacetan akibat jalan rusak seolah menjadi blessing in disguise.

Tidak ada komentar: