Selasa, 20 November 2007

Pratiwi Sudarmono - Almost Astronaut

Beberapa bulan lalu negara tetangga kita tercinta Malaysia berhasil menempatkan salah seorang warganya di sebuah program luar angkasa atau singkatnya jadi astronot. Tambahan satu poin kemenangan lagi buat Malaysia atas Indonesia. Tapi sebetulnya jauh sebelum ini tepatnya 17 tahun lalu atau tahun 1985 Indonesia juga memiliki kandidat astronot dan hebatnya lagi kandidat dari Indonesia ini adalah seorang wanita yaitu Dr. Pratiwi Sudarmono. Sebetulnya masih ada seorang Indonesia lagi yang jadi yaitu Taufik Akbar namun kandidat utamanya yaitu Dr. Pratiwi.


Keterlibatan ibu Pratiwi dalam program luar angkasa ini atas kerjasama dengan NASA dalam rangka peluncuran satelit kebanggaan Indonesia, Palapa, beserta beberapa satelit lain dari berbagai negara. Rencananya misi diluncurkan pada musim panas tahun 1986 dengan menggunakan pesawat ulang alik Columbia. Ketika itu berita ini menjadi bahan perbincangan dimana-mana dan para kaum wanita saat itu sangat berbangga sekali bahkan sampai-sampai ibu Pratiwi Sudarmono ini disebut-sebut sebagai kartini modern. Aku yang waktu itu masih duduk di kelas 2 SD ikutan berbangga juga atas prestasi ibu Pratiwi ini hingga kalau ditanya besok gede mau jadi apa, aku langsung jawab mau jadi astonot biar bisa jalan-jalan ke bulan ho... sungguh cita-cita agung yang setinggi langit dalam arti yang sebenarnya. Tapi teman laki-laki di kelasku seolah tidak rela kalau calon astronot Indonesia yang utama adalah wanita bukan pria sehingga bila anak-anak perempuan sibuk membahas tentang pahlawan baru mereka ini anak laki-laki sering memberikan komentar-komentar miring.




Namun nasib berkata lain, sebelum penerbangan ke luar angkasa nya Ibu Pratiwi terlaksana sebuah musibah menimpa NASA yaitu salah satu pesawat ulang aliknya, Challenger, meledak tak lama setelah uplifted. Akibat kejadian ini, NASA membatalkan sejumlah proyek luar angkasanya termasuk program yang akan diikuti Dr. Pratiwi. Misi yang tertunda tersebut akhirnya batal karena NASA memilih untuk tidak menggunakan pesawat ulang alik lagi untuk membawa satelit sehingga otomatis gagal pula cita-cita ibu Pratiwi untuk jadi astronot pertama Indonesia. Bahkan sampai sekarang belum ada lagi orang Indonesia yang bisa mengikuti jejak prestasi Ibu Pratiwi bahkan akhirnya kita malah tersusul oleh tetangga kita yang norak itu Malaysia. Apakah orang Indonesia kalah pintar daripada orang Malaysia? Maaf Pa'Cik tidak juga sebab setelah kejadian meledaknya Challenger, NASA lebih memprioritaskan riset ilmiah yang tidak gratis. Diperlukan biaya sekitar 100-200 juta Dollar yang harus dikeluarkan negara yang mau berpartisipasi. Iyalah bagi Indonesia yang masih miskin kayanya sangat tidak pantas mengeluarkan biaya sebegitu besar hanya untuk sebuah prestisius semata.




Lalu kemanakah dr. Pratiwi sekarang? Rupanya sekarang beliau mengabdikan diri sebagai peneliti di bidang mikrobiologi di almamaternya Universitas Indonesia. Ibu Pratiwi tidak kecewa gagal terbang ke angkasa karena ada wanita Indonesia lain ternyata yang bisa terbang ke bulan yaitu Memes dengan lagunya "Pesawatku terbang ke bulan" hebaaat...hebaaat...




Sumber :






Tidak ada komentar: